SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)

SANG PENAKLUK (Satu Raga Dua Jiwa)
TUJUH PULUH SATU


__ADS_3

"Aaaaaa!" Teriak Seruni karena terkejut. Suaminya itu tiba-tiba mengangkat tubuhnya tanpa aba-aba.


"Huusstt! Nanti kedengeran sama mama." Alfa melangkah membawa tubuh istrinya masuk ke dalam kamar sang istri yang sekarang menjadi kamar mereka berdua.


"Turunin nggak Al!" Seruni sudah melotot tajam.


"Iya aku turunin sayang, nih." Alfa merebahkan tubuh istrinya ke atas tempat tidur.


"Ish, ngeselin!" Seruni menggeser tubuhnya agak ke tengah karena suaminya itu ikut berbaring di sampingnya.


Greeep!


Alfa langsung melingkarkan tangannya ke tubuh istrinya agar istrinya itu tidak menjauh darinya.


"Lepasin nggak!" Ucap Seruni galak. Sedangkan Alfa hanya terkekeh. Lucu saja rasanya melihat istrinya yang galak itu.


"Mau kemana?" Alfa malah semakin menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya. "Jangan galak-galak sama suami, nanti dosa." Alfa mendekatkan wajahnya ke wajah sang istri. Sontak saja Seruni langsung memejamkan matanya membuat Alfa tertawa. "Kenapa merem begitu? Apa ingin aku cium?" Goda Alfa terkekeh.


Seruni kembali membuka matanya, kemudian dengan sekuat tenaga ia mendorong suaminya itu hingga terjatuh dari atas tempat tidur.


"Aaaarrgh!" Teriak Alfa kesakitan.


"Eh Al, maaf, maaf, aku nggak sengaja." Seruni segera turun dari atas tempat tidur kemudian membantu suaminya bangkit.


"Auw!" Ringis Alfa yang merasakan nyeri di tubuh bagian belakangnya.


"Eh, mana yang sakit?" Seruni meraba-raba punggung suaminya.


"Sakit semua rasanya." Keluh Alfa.

__ADS_1


"Maaf ya, kamu sih." Seruni membantu suaminya duduk di pinggir ranjang. Seruni segera mengambilkan minum untuk suaminya. "Apa perlu aku panggilkan tukang urut?"


"Hah, untuk apa?"


"Ya untuk mijitin kamu lah."


"Terus apa gunanya istri?"


"Ish, aku kan nggak bisa mijit." Bibir Seruni sudah manyun sepanjang jalan kenangan.


"Tenang aja, nanti aku ajarin caranya memijat." Alfa mengerling nakal ke arah istrinya.


Seruni tidak menanggapi lagi ucapan suaminya. Seruni memilih melesat masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Cuaca hari ini cukup terik hingga membuatnya kegerahan. Alfa hanya terkekeh melihat istrinya yang nampak kesal.


Setengah jam kemudian Seruni keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah lengkap dan rambut yang digulung menggunakan handuk. Tentu saja pemandangan itu membuat Alfa menelan ludahnya berkali-kali. Leher jenjang nan mulus istrinya itu seolah melambai-lambai minta di belai. Bayangan saat dirinya menggigitnya pun serasa menari-nari di kepalanya.


Alfa yang masih dengan fantasi liarnya tidak menyadari keberadaan istrinya. Ia hanya menatap lekat ke arah istrinya namun pikirannya entah ke mana.


"Al!" Panggil Seruni agak keras hingga berhasil mengembalikan kesadaran suaminya.


Alfa pun nampak gelagapan saat menyadari istrinya sudah berada tepat di depannya. "I-iya sayang." Alfa kembali menelan ludahnya.


"Mau mandi apa enggak?" Tanya Seruni lagi.


"I-iya, tapi bantuin."


"Ogah! Mandi sendiri sana." Seruni membalikkan tubuhnya kemudian melangkah meninggalkan suaminya. Namun baru beberapa langkah dirinya sudah berbalik lagi saat mendengar ucapan suaminya.


"Tega sekali sama suami, harusnya kamu bertanggung jawab karena sudah membuat suami mu encok begini. Mana bisa nanti aku nyabunin punggung sendiri."

__ADS_1


"Huuuft, baiklah, ayo!" Seruni mengalah, kemudian segera memapah suaminya masuk ke dalam kamar mandi.


"Bukain bajunya dong sayang." Pinta Alfa manja.


"Ogah! Buka sendiri!" Lagi-lagi Seruni menolak permintaan suaminya.


"Ayolah sayang, nggak bisa ini punggungnya sakit." Rengek Alfa seperti anak kecil.


"Ish, manja banget!" Meskipun kesal, akhirnya Seruni pun membuka pakaian suaminya.


"Ini yang bawah belum." Ujar Alfa menunjuk pakaian bawahnya dengan ekor matanya.


Seruni menurut. Ia segera membuka celana panjang suaminya dan menyisakan celana boxernya saja.


"Ini masih ada yang ketinggalan." Alfa menunjuk celana boxernya. Satu-satunya kain yang masih melekat di tubuhnya.


"Apa sih Al, kamu mau t31@nj@n9 di depan ku?!" Seruni sudah mendelik garang.


"Kenapa? Bukannya kamu juga sudah melihatnya. Apapun yang ada di dalam diriku adalah milik mu begitupun sebaliknya."


Seruni terdiam. Benarkah dia sudah melihat senjata laras milik Alfa? Tapi kenapa dirinya sama sekali tidak mengingatnya? Bentuknya Seperti apa saja Seruni tidak tahu. Dan lagi, bukan hanya milik Alfa yang tidak diingatnya. Tetapi ia juga tidak ingat milik laki-laki lain yang pernah tidur dengannya. Ajaib bukan?


*****


*****


*****


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ☕🌹 Tonton iklannya ya setelah membaca, terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2