Sweet Dreams : Be A Cinderella Romance

Sweet Dreams : Be A Cinderella Romance
Episode 125


__ADS_3

              Aku menghabiskan hari dengan menonton televisi di dalam kamarku .. menghabiskan cemilan yang tersedia di dalam kulkas dengan serampangan .. mengabaikan berbungkus bungkus chiki yang berserakan di lantai


dan tempat tidurku .. aku ngambek .. dan hanya ini yang bisa ku lakukan ..  Aku bahkan melewatkan makan siang dan Max tak muncul lagi semenjak bertemu di dapur pagi tadi .. aku merasa luar biasa kesal


                Senja turun dan aku merasa kelaparan walaupun aku sudah menghabiskan banyak cemilan .. aku hanya makan semangkuk bubur hari ini .. apa ini yang mereka lakukan pada orang sakit .. membiarkannya kelaparan ?? aku menghela nafas dan menatap langit langit kamarku yang berwarna putih .. teringat beberapa pasien yang kutangani beberapa hari kemarin .. mereka .. kebanyakan dalam kondisi yang memprihatinkan .. bukan karena kemiskinannya .. hanya , pengetahuan tentang kesehatan mereka sangat kurang


                Kebetulan aku yang menangani pasien anak .. beberapa kasus .. bayi yang datang .. mereka memeriksakan anaknya yang berumur kurang dari empat puluh hari … mengalami diare bahkan mengeluarkan darah .. aku bertanya pada mereka dan dengan jawaban yang polos .. mereka memberi makan anak mereka dengan pisang atau nasi yang ditumbuk halus .. aku bergidik dan ingin menangis seketika .. bagaimana mungkin


anak bayi yang masih rentan terkena banyak bakteri yang berbahaya dan mereka mengabaikan semuanya .. bagaimana mungkin mereka mengabaikan ke steril an semua alat alat yang di gunakan pada bayi mereka .. Aku dengan sabar memberi arahan kepada mereka bahwa yang di lakukan mereka itu salah .. perut bayi yang baru


lahir tidak sama seperti perut orang dewasa .. mereka hanya cukup diberi susu atau asi .. Ada lagi kasus yang berbeda .. mereka .. orang orang terbawah .. aku tak menyebut mereka miskin .. hanya , aku merasa prihatin ketika mereka memeriksakan anak mereka yang datang dengan baju yang kebesaran di tubuh anak


berusia kurang dari dua tahun .. dengan kulit berkerut seperti kulit seorang nenek berumur 80 tahun .. ketika kutanya mereka yang tak mampu memberi susu formula , memberikan anak mereka teh manis yang di campur dengan gula yang mereka beli di warung .. gula yang di jual dengan harga lebih rendah dari harga gula pada umumnya .. aku menyuruhnya kembali dan membawa contoh barangnya .. betapa terkejutnya aku ketika aku melihat bungkusnya .. itu adalah gula buatan atau pemanis buatan .. Anak yang di periksakan orang tuanya .. dia batuk parah .. aku menangis di depan orang tua dari anak tersebut .. mendekap anak tersebut di dalam pelukanku .. aku kebingunangan karena terlalu prihatin dengan semua anak anak yang di bawa ke tempat ini .. anak ini kurang gizi .. dengan makanan yang dimakan orang tuanya .. singkong, ketela, ubi, jagung .. dengan semua kesederhanaan itu bagaimana mereka sanggup memenuhi kebutuhan gizi anak mereka ..


                Aku menulis laporan tentang semua yang kualami di tempat ini . aku yakin .. tidak hanya di tempat ini .. banyak desa yang dengan keterbatasan pengetahuan mereka .. aku akan meminta kepada dinas sosial atau kalau perlu aku akan berjuang ke kementrian kesehatan jika perlu untuk membantu dr Valencia .. membantu kliniknya .. karena .. dengan keterbatasan .. orang orang itu tak mungkin membayar obat atau sekedar membayar biaya pendaftaran saja mereka kesulitan ..


                Aku menghela nafas dan bangkit dari tempat tidur ku.. persetan dengan Max yang akan memarahiku lagi dan menyuruhku kembali ke kamar .. aku kelaparan dan hari sudah semakin gelap .. Aku mengibaskan sprei , dan menata bed cover yang berwarna putih agar terlihat rapih .. kotoran dari remah roti yang kumakan berjatuhan ke


lantai .. aku berjingkat jingkat menghindari menginjaknya .. keluar dan akan mencari penyedot debu untuk membersihkan kotorannya dan menyalakan lampu .


                Aku keluar dari kamarku .. sepi dan gelap .. kemana Max ? Apa dia berada di dalam kamarnya sama sepertiku .. tapi yang mana kamarnya ?


                Aku berjingkat dan berjalan dengan perlahan .. sendal berbuluku yang berbentuk kelinci menemaniku mencari dimana saklar lampu nya ..


                “ Max .. Max .. “ aku memanggilnya dan mulai merasa khawatir dengan keadaan di rumah ini


            Aku menelusuri tembok dan menemukan saklar lampu di lantai dua .. semua menyala .. ada beberapa kamar dia atas sini .. apakah aku harus mencarinya .. membuka pintu demi pintu untuk menemukan dimana kamar Max .. tapi.. jika aku melakukan hal tersebut .. jika aku ketahuan .. apa yang ada dipikirannya? Aku sangat merindukannya hingga tak sabar ingin bertemu dengannya dengan datang langsung ke kamarnya ? oh .. tidak itu menghancurkan harga diriku .. tapi tidak , aku dan Max sudah bersama sejak aku berumur enam tahun .. dia


sudah terbiasa denganku yang sering keluar masuk kamarnya untuk mengganggunya .. aku merasa malu .. kenapa aku waktu kecil tidak bisa diam dan menunjukkan aku adalah seorang bangsawan yang elegan ? pantas saja Nathan sama sekali tak melirikku .. aku memang sangat memalukan dengan semua tingkah konyolku.. aku


penasaran sejak kapan Max menyukaiku dia belum pernah mengatakannya .. aku tertunduk lemas .. mungkin dia benar benar hanya merasa bertanggung jawab atas diriku .. bukan benar benar mencintaiku .. tapi, dia bilang dia menyukaiku .. ahh aku merasa hampir gila dengan semua pikiran yang berkecamuk di dalam kepalaku ini


                Aku turun ke lantai satu dan sangat gelap di ruangan ini

__ADS_1


                “ Max .. “ sepi … aku mencari saklar lampunya .. namun pandanganku tertahan ketika aku melihat pintu kearah kolam di belakang rumah terbuka .. tirainya berkibar oleh angin malam yang juga menerpa tubuhku dan aku menggigil .. memeluk tubuhku sendiri dengan kedua lenganku dan keluar


                Disana .. aku melihat Max ,, dengan sweeternya yang bergambar bendera tim bola favoridnya .. mengenakan celana panjang berwarna krem .. berdiri ..di pinggir kolam .. dia sedang sibuk dengan panggangan barberque di hadapannya dan aku mendekat , wajahku dan tubuhku hampir membeku kedinginan


                “ Kau disini? Kenapa rumah utama gelap? Kau tak menyalakan lampunya? “


                “ hei .. kau sudah keluar dari kamarmu? Aku berencana membuatkan steak daging dan mengantarnya ke kamarmu .. jika kau berencana untuk melewatkan makan malam nya “


                “ bukankah kau yang menyuruhku untuk berada di kamarku? “ kataku kesal dan dengan suara yang bergetar


                Max berjalan kea rah kursi jemur , mengambil kain bercorak kotak kotak berwarna hijau dan berjalan kerahku .. meletakkan penjepit batu bara yang dia bawa , dan dia tersenyum tipis meluluhkan hatiku .. Max berdiri di hadapanku dan membuka kain kotak kotak dan menyelimutinya ke tubuhku ..


                “ Dingin disini .. bagaimana kau bisa bertahan dengan baju se tipis itu “


                “ Ini bajumu .. aku tadi bosan di dalam kamar dan aku berkeliling tapi tak menemukan apapun ,, pakaian wanita atau apa .. jadi aku tetap harus mengenakan ini .. bahkan tanpa celana “ kataku cemberut


                “ Akan ku siapkan besok .. hari ini bisakah kau bertahan walaupun tidak nyaman ? “ katanya masih berdiri di hadapanku dengan tangan yang tersimpan di saku celana denimnya


                “ Tapi, walaupun memang kebesaran .. tapi, ini cukup nyaman “ kataku memandang wajahnya .. pandangan kami bertemu dan aku merasa sangat gugup hingga menundukkan kepalaku dengan cepat .. Max melingkarkan tangannya di pundakku dan mengantarku ke kursi jemur .. dekat dengan besi barbeque yang sudah mengeluarkan api dari baranya , terasa hangat disini


                “ Ini daging pertama .. medium , kau tak suka yang terlalu matang kan ? “ kata Max menyodorkan piring daging berwarna putih dan aku tersenyum menerimanya .. memakan potongan demi potongannya sambil membuka kaleng bir yang berada di meja bundar terdekat dari tempatku duduk .


                “ Apakah kau menyiapkan ini .. khusus untukku? “


                “ tidak … “ katanya datar .. dan aku cemberut mendengarnya … menghabiskan sekaleng bir dengan sekali teguk


                “ BIr dan daging .. memang paling enak “ kataku dan kembali tersenyum menatap Max


                “ Hei ,, kau bisa mabuk jika melakukan itu “ kata Max berusaha merebut kaleng bir yang kedua di tanganku “ kau tak pernah kuat minum banyak , Freya “


                Aku tak memperdulikannya dan dengan cepat menghabiskan kaleng yang kedua


                “ Aku sudah selesai dengan dagingku .. buatanmu memang paling enak “ kataku cepat

__ADS_1


                “ kau sudah mulai mabuk Frey .. “


                “ Biarkan aku kali ini , Max .. biarkan aku .. aku ingin mabuk dan melupakan semuanya .. Ayo temani aku “


                Aku membuka kaleng yang baru dan menyodorkannya pada Max yang berdiri di hadapanku . Max menerimanya dan duduk di sebelahku setelah kusuruh dengan isyarat tanganku padanya


                “ Apa yang ingin kau lupakan? “ Tanya Max padaku sambil menyesap kaleng bir di tangannya


                “ Hal buruk .. aku ingin melupakan semuanya .. “ aku meneguk kaleng bir di tanganku dan menghabiskannya dengan cepat “ Ahhhh … terasa pahit di lidahku .. Max .. seperti semua mimpi buruk ini .. tolong buka kan aku lagi “


                “ Cukup Freya .. ayo kembali ke kamarmu “


                “ Aku sudah muak dengan kamarku , Max .. “ kataku bosan .. “ dimana kita .. kau belum memberi penjelasan padaku “ aku merebut kalengbir di tangan Max dan meneguknya dengan cepat tanpa jeda


                “ Ini rumahku .. vilaku .. “


                “ Apakah kita masih di desa itu ? “


                “ Ya .. tapi sedikit lebih jauh “


                “ Apakah kau sudah bilang pada semua orang ? bagaimana mereka panik dan mencariku ? “


                “ Orang yang panik disini adalah aku Frey .. bagaimana aku mencarimu .. bagaimana putus asanya aku di antara hujan badai .. bagaimana ketika aku menemukanmu dalam kondisi seperti kemarin? “ kata Max tajam .. membuatku terdiam


                “ Apakah .. kau benar benar khawatir padaku ? “ tanyaku polos “ bagaimana kau bisa tiba tiba muncul saat kau seharusnya sedang melakukan perjalanan bisnis ? “


                “ Sani meneleponku memberi tahukan padaku apa yang terjadi di klinik tempo hari .. betapa khawatirnya aku .. aku membatalkan semua jadwal dan terbang dengan pesawat tercepat , berlari kemari .. aku menyesalinya .. seharusnya aku tak membiarkanmu pergi ke tempat ini “


                “ Aku tak menyesalinya .. maaf membuatmu khawatir tapi aku baik baik saja . tapi bagaimana dia bisa menelepon sedangkan handphoneku saja taka da sinyal “


                “ Kita akan kembali secepatnya .. “


                Aku menggeleng .. aku menyukai tempat ini , keramahan penduduknya .. bisakah aku disini sampai tugasku selesai .. ? kataku memohon “ satu minggu ,, hanya satu minggu ya .. ya? “

__ADS_1


                Max membuang wajahnya tak setuju namun tak dapat menolaknya .. aku sangat senang dan memeluknya dengan erat


                “ terimakasih Max … “ kataku kegirangan .


__ADS_2