
Max menemaniku disisa malam panjangku . dalam suasana hatiku yang tak menentu . dia menemaniku di balkon depan kamarku , menyelimuti ku dengan selimut hangat milikku yang berwarna pink . aku bergelung di dalamnya dalam keadaan duduk menghadap hamparan langit penuh bintang. . hujan lama tak turun lagi , membuat sebagian pohon yang ku lewati menuju rumah kakek dan yang terlihat dari balkon kamarku berwarna kuning dengan semburat oranye yang khas bercampur dengan hijaunya pucuk pohon yang baru tumbuh
Max menghilang sejenak dan tak lama datang dengan membawa segelas coklat panas kesukaanku . aku menerimanya dengan tatapan datar..
" banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu, Max tapi selalu tak mendapatkan waktu yang pas . . "
Max menyesap kopinya dan tak menimpali ucapanku .
" bagaimana kabar ibu? " tanyaku memandangnya dengan mata bengkak ku . rasanya sungguh tak nyaman karena membuatku sulit melihatnya dengan normal
" baik .. " katanya singkat " tak ada yang perlu di khawatirkan "
" aku tahu kau sudah kembali dari Amerika satu bulan yang lalu . "
Max memandangku sekilas . sedangkan aku .. pandanganku masih berada di tempat yang sama .. memandang langit .. mencari pembelaan atas keberadaan diriku
" aku tahu aku bukanlah orang yang menjadi prioritas dalam hidupmu , Max .. terimakasih telah memberikan segalanya untuk ku .. sekolah, tempat tinggal, status sosial .. " aku tak melanjutkan kata kataku
__ADS_1
" kau prioritas , Freya .. "
" tapi kau bahkan tak menemui ku . ketika kau kembali ... "
" aku ingin tapi aku tak bisa .. " katanya datar dan aku menaikkan suaraku
" apa yang membuatmu tak bisa .. apa salahku , Max ? " kataku mulai menangis lagi
" maafkan aku Freya .. ada banyak hal yang ga bisa aku katakan padamu "
" berulang ulang kali kamu bilang gitu , Max . apa benar aku ga ada artinya ? apa benar apa kamu bilang 5 tahun lalu sebelum kamu pergi ke Amerika? '' tanyaku penuh emosional
Max tertunduk . duduk dengan melipat kedua sikunya dan bertumpu pada kakinya
" sudah malam Freya .. ayo ku antar kamu istirahat di dalam . sangat dingin diluar tak baik untuk kesehatanmu "
Max berjongkok di depanku memandang wajahku yang tertekuk duduk memeluk kedua kakiku dan aku meletakkan kepalaku di lutut.
" Freya .. hei .. " katanya dengan suara perlahan " ayo bangun "
aku memalingkan wajahku darinya . semakin bersembunyi di dalam selimut yang hangat
" pergilah Max .. aku tak berarti untukmu . dari awal aku hanyalah tawanan mu. lakukan yang kau suka untuk menyakitiku . kamu menang " kataku tanpa memandangnya
__ADS_1
Max menghela nafas berat .
" kau mau apa , Freya ? " tanyanya
" apa artinya aku buatmu ? "
" you're my everything " katanya tegas
" aku memalingkan wajahku dan memandangnya "
'' tapi kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini ? "
" aku ga bisa bilang sekarang . ada saatnya nanti kamu akan tahu, Freya .. "
Max menggenggam tanganku menarik ku berdiri dan mengantarku kembali ke kamar .
" istirahatlah .. jaga kesehatanmu .. aku sudah mengurus sekolahmu . tinggallah disini sementara waktu . tak ada yang perlu di khawatirkan " katanya di depan pintu kamarku .. mengusap kepalaku lembut sebelum pergi
" Max .. " aku reflek memanggilnya
Max berhenti dan menoleh
" maafkan aku Freya .. biarkan ini tetap berjalan seperti ini . akan ada saat dimana kau bisa memahaminya suatu saat nanti . ketika itu tiba, dengan senang hati aku akan melamar mu menjadi istriku " dan Max berlalu begitu saja tanpa menoleh
__ADS_1
aku mematung di depan pintu kamarku lama. . wajahku memanas hingga ke seluruh tubuh membuatku ingin pingsan dengan kata katanya yang baru saja ku dengar . aku menutup pintu kamarku dengan amat sangat perlahan dengan ekspresi bengong dan tak percaya dengan pendengaran ku sendiri