
aku menenteng dus berisi cake lemon kesukaan kakek . aku berjalan dengan perlahan lahan ketika memasuki loby rumah sakit . aku sudah katakan pada Max untuk sementara mengambil cuti kuliahku dulu . sebenarnya sangat disayangkan karena aku sudah resmi menjadi dokter muda dan bisa saja aku mengambil rumah sakit ini untuk tempat praktekku .tapi aku ingin mengurus kakek .. dia satu satunya orang yang sangat berharga bagiku selain Arthur . kakek menggantikan orang tuaku dalam membesarkan aku.. walaupun aku tak sepenuhnya mendapatkan kasih sayang yang ku butuhkan , tapi dengan begini paling tidak aku bisa berbakti kepadanya .. dan secara langsung memantau perkembangan kakek dengan jelas .
Max mengurus semuanya .. semua hal yang aku minta dan aku inginkan . dia tinggal menelepon Julius dan membereskan semuanya dalam sekejap. mereka berdua sungguh kombinasi yang baik diantara empat sahabat itu .. kurasa ku tahu . Julius, dia mengenal Max sangat dalam lebih daripada yang lainnya.
Sudah seminggu ini Max pergi . dia harus mengurus beberapa hal katanya . hatiku mulai goyah .. mulai merindukannya ..
aku mengecek ponselku sejenak . menunggu pesan dari Max .. sejak kemarin dia belum meneleponku , beberapa hari belakangan dia selalu menelepon walaupun dengan urusan tak penting dan sangat singkat .. tapi , bagiku .. hanya untuk mendengarkan suaranya yang berat diujung sana saja aku sudah merasa sangat bahagia. layarnya berkedip ketika aku menyalakan ponsel. sepi .. tak ada pesan darinya .. aku memasukkan nya lagi ke dalam saku dan menunggu di depan pintu lift untuk menuju kamar kakek .. bengong .. melihat angka berwarna merah di atas pintu besi. . tak lama pintu terbuka dan aku masuk . menekan angka 17 dan menunggu beberapa orang yang masuk bersamaku mendesak dan membuatku berdiri di pojok belakang .. memegang erat erat dus roti di tanganku agar tak terhimpit oleh orang lain.. tapi, seseorang menarik lenganku .. sesaat sebelum pintu lift terbuka dan orang orang berebut keluar di lantai 4 lantai poliklinik .. aku mendongak memandang seseorang yang tangannya mencengkeram lenganku.
" Freya .. "
__ADS_1
" Jaden .. "
" hai .. lama tak bertemu " kata Jaden tersenyum ramah padaku
" terimakasih , untuk yang barusan .. " kataku canggung dan menundukkan kepala
Jaden adalah teman Flure . gadis campuran Indonesia Perancis . orang yang sangat ramah di kelas.. temannya banyak dan karena punya paras yang mencolok serta rambut pirangnya yang panjang membuatnya banyak dipuja pria .. Jaden dan satu orang lagi, Leo adalah sahabat Flure . Flure pernah bercerita padaku bahwa orang tua mereka berteman. Jadi , seperti warisan ,. anak anak nya yang seumuran menjadi teman juga . di masa aku kuliah .. aku yang tadinya orang yang kaku dan penyendiri. sedikit berubah karena Flure. sedikit banyak karena mereka juga aku bisa tenggelam dalam pelajaran ku untuk mengusir rasa kesepian ku terhadap Max .
kami sampai di lantai 17 . Jaden dengan diamnya mengikuti ku .
__ADS_1
" jangan ikuti aku Jade .. aku hanya menjenguk kakekku "
" kakiku tak bisa pergi kemanapun dia ingin mengikutimu "
aku memandangnya tak percaya
" apa yang kau lakukan disini? " tanyaku memelankan suaraku karena berada di lorong kamar VVIP
" aku .. tak lihatkah Freya? "
__ADS_1
aku memandangnya yang baru ku sadari, dia 2x lipat lebih rapih . memakai kacamata .. kelihatannya baru , dari tampilanya dia terlihat lebih dewasa dan pintar . dan yang pasti dia memakai jas berwarna putih dengan celana sopan dan dasi . membuatku terkesima tak percaya