
aku mengaduk aduk isi tas ku sambil mencuri tatapan ke arah Max yang sudah menurunkan tangannya dari telinganya . dia menggenggam handphonenya erat .. aku menemukannya , melihat ke arah layar .. nomor tak di kenal aku mengangkat teleponnya tapi tak ada suara dari ujung sana . aku mematikannya dengan kesal .. batre ku masih merah dan aku di telpon orang iseng .. aku segera bergegas ke arah Max yang masih berdiri mematung .. aku menyapanya
" sudah beres kah kakek? .. aku mau lihat kakek Max .. bisa antar? aku belum tahu ruangannya .. "
" kau kedinginan Freya? " tanya Max memandangku
" oh .. ini .. tadi diluar anginnya sangat kencang . aku cuma pakai baju tipis gini " kataku melepas jaket Nathan dan mengembalikan pada pemiliknya
__ADS_1
" pakai saja dulu Frey . . aku pakai lengan panjang . prediksi hujan hari ini " kata Nathan sambil memegang pundak ku dan berlalu begitu saja . " aku akan mencari Julius " katanya tanpa menoleh dan berjalan begitu saja
" naik lift aja Frey .. kakek ada di ruang ViP di lantai atas " aku tak memakai jaket Nathan .. membawanya begitu saja di tanganku .. Max meraih pundak ku ketika pintu lift terbuka menunggu sampai semua orang keluar dan menuntunku dengan lembut masuk ke dalam lift . Max tak menurunkan lengannya bahkan saat banyak orang dari tiap lantai naik yang membuat ruang sempit ini penuh . dia tetap memegang pundak ku erat . aku berasa sangat pendek jika berada di sebelahnya aku harus mendongak untuk sekedar melihatnya melirik rahangnya yang kokoh dan keras . melihat dengan jelas dagunya yang bersih .. dia pasti rajin bercukur .. aku merasa malu lagi dan menundukkan kepala dengan cepat . otakku berfikir dan berkembang kemana mana..
kami harus ke lantai 17 . butuh beberapa menit berada di ruangan sesak ini . aku mengerang perlahan saat ada seorang pria dengan tas ransel besar nya menyodok ku , mendorongku yang kecil dan berada paling belakang . . Max menarik dan memiringkan tubuhnya membuatku menempelkan diriku padanya .. yang membuatku semakin merasa kacau karena dengan jelas aku bisa mendengar suara jantungnya .. aku bisa mendengar debarannya yang tertimpa dengan debaran jantungku ikut berpacu dengan cepat membuat kepalaku pusing .. sepertinya aku kekurangan oksigen aku merasa lemas .. untunglah di setiap lantai orang semakin berkurang tapi Max sama sekali tak mengendorkan tangannya sampai di lantai yang kami tuju .. aku keluar dengan susah payah ..
" tunggu Max ... kataku, memegangi ujung jasnya dengan kedua tanganku . membuat jaket milik Nathan terjatuh ke lantai
__ADS_1
Max memandangku cemas.. " kau sudah aneh dari pagi. . ayo kita periksa. disini adalah rumah sakit terbaik "
" tenang Max aku hanya perlu bernafas Sebentar . aku ga mau bikin panik lagi .. ada arthur , anak anak dan kakek .. aku baik baik saja "
Max berjongkok di depanku . memegang wajahku dengan kedua tangannya .. mengecek keadaanku kemudian menghela nafas dan duduk di sebelahku .. mengabil jaket Nathan dan menyelimuti ku kembali
" paling tidak pakai ini agar aku tak kuatir " katanya padaku . " kau boleh bersandar di bahuku .. eghemmm " Max berdehem sebelum melanjutkan " jika kau mau. aku tak memaksa . sampai kau merasa baikan " Max membuang wajahnya. . aku memandangnya dan tersenyum .. dia malu mengucapkan kata kata itu mungkin tak pernah seumur hidupnya karena dia bukan Nathan yang hangat , bukan Julius yang jenaka dan bukan Arthur yang perhatian . dia Max patung lilin yang dingin . aku tak mau membuatnya malu karena menolaknya. . aku menyenderkan kepalaku sejenak di bahunya sampai aku merasa baikan . mengirup udara dalam dalam dan mengajak Max ke kamar kakek
__ADS_1