
aku bergegas keluar kamar .. melewati lorong menunju tangga ke lantai satu , . langkahku terhenti ketika aku melihat pintu kamar yang tak jauh dari kamarku sedikit terbuka. aku jarang masuk ke kamar ini karena kamar ini dipakai untuk menginap tamu penting .. tapi, ada rasa penasaran yang menggelitik di dalam hatiku .. aku celingukan seperti penyelinap yang masuk ke dalam rumah orang asing . aku masuk ke dalam kamar yang berbau aromatherapi , dekorasi dalamnya di dominasi warna kayu dengan seprei bersih berwarna putih yang terpasang sangat sempurna rapihnya . . aku mengintip sejenak keluar ruangan untuk memastikan tak ada yang melihatku mengendap endap dan menutup pintu nya perlahan
Aku memandang berkeliling . perasaanku aku sangat mengenal baik tempat ini , aku duduk di pinggiran kasur yang menghadap carmin berbentuk bulat dan ada sebuah buffet kecil berbentuk laci , aku beranjak ke arahnya ,, mengelus tepian laci yang halus, dan ukiran ukiran kectil yang dipahat sempurna . aku membuka laci paling atas .. melihat ke dalam .. kosong . membuka laci kedua .. kosong sampai laci ke tiga , kosong ,, tapi, seperti merasa de javu aku membuka kembali laci yang terakhir dan merogoh ke dalam , aku menemukan sebuah lubang kecil di dalam lacinya , aku kemudian membuka lebar lebar laci terakhir yang sangat berat ketika kutarik sepenuhnya , aku melihat lubangnya tapi ternyata lacinya didisain agar tidak terlepas semua , aku merasa entah mendapat penglihatan atau apa, aku melihat tubuh kecilku bisa masuk ke laci paling akhir ini . kalau dipikir pikir ukuran lacinya memang besar mungkin kalau anak kecil umur empat atau lima tahun bisa meringkuk ke dalam sini ..
aku menundukkan tubuhku kembali menutup lacinya setengah dan merogoh ke dalam lubang tadi, aku merasakan ada sesuatu didalamnya seperti benda yang sengaja di sembunyikan , aku memandang berkeliling mencari sesuatu agar bisa membantuku mengambil barang apa yang tersembunyi di dalam sana , rasa penasaranku semakin menjadi jadi , aku membuka pintu lemari lebar lebar tapi tak menemukan apa apa , kemudian beralih ke lemari lainnya tapi tak menemukan apapun yang bisa membantuku mengambil benda itu , aku menghela nafas berat , aku kembali berjongkok dan membungkukkan badanku lebih dalam hingga kepalaku masuk ke dalam lacinya agar aku bisa melihat apa yang ada di dalamnya , aku menjulurkan tanganku, memanjangkannya hingga berkeringat dan aku berhasil mengambilnya , bangga hingga lupa kepaku separuhnya masih berada di dalam laci ketika suara ribut diluar mengagetkanku . kepalaku terantuk keras ,, aku meringis . penasaran apa yang terjadi di luar , aku melirik sekilas benda yang dibungkus kain sutra berwarna kuning , aku memasukkannya ke dalam saku rok pendekku dan bergegas keluar setelah memastikan semuanya kembali dalam keadaan semula
__ADS_1
Aku menuruni anak tangga dengan cepat , semua berkumpul di ruang tivi , ruangan yang kurindukan , aku bertanya ke para pelayan yang berjalan bergegas membawa teko minuman ke dapur
" Apa yang terjadi , Bi ? "
" Kakek ? "
__ADS_1
pelayan muda di hadapanku mengangguk dan wajahnya penuh kecemasan , aku meninggalkannya dan mendekat ke arah kakek , menyeruak diantara orang orang disana
kakek, duduk si sofa malas di depan televisi . dengan oksigen yang hampir memenuhi wajahnya , beliau memandang kosong ke depan dengan pecahan kaca berhampurna dilantai seperti sengaja di lempar ke dinding bata . , aku mendekatinya dengan perlahan , syok tak sadar air mataku terjatuh, aku menangis memanggil namanya
__ADS_1