Sweet Dreams : Be A Cinderella Romance

Sweet Dreams : Be A Cinderella Romance
episode 49


__ADS_3

Ruang kerja Max tampak besar . aku duduk di kursi tamu yang di sediakan di ruangannya . aku menunggunya bersama Jessica . Max sedang meeting, kata sekretaris pribadinya . Aku iseng mengitari meja kerjanya .. memainkan papan nama bening bertuliskan


MAX DIANDRA TJANDRAWIJAYA


dan tulisan CEO di bagian bawahnya .. nama yang di ukir di atas kaca tebal . sebenarnya baru baru ini aku tahu kalau Max seorang pewaris utama perusahaan miliknya . aku memang tidak terlalu mengenalnya .. yah .. seperti yang terlihat dia anak aneh, penyendiri, tak banyak mengeluarkan suara , bertingkah agak kasar untuk menjauhkan semua orang agar tak terlalu dekat dengannya .


bagaimana bisa aku tahu dia anak orang berpengaruh kalau berteman dengan dia saja sudah sangat sulit. tapi entah kenapa .. aku tak bisa menjauhkan diriku dari dirinya .. mungkin karena aku terlalu pengecut untuk menghadapi kenyataan tak seperti dirinya ..


aku mengingat kembali kejadian tak mengenakkan beberapa waktu lalu .. itu sudah lama berlalu sebenarnya .. tapi tak akan bisa ku lupakan dengan mudah itu saat aku memaksa kakek untuk bersekolah di kota .. sebenarnya wajar untukku bersekolah di kota mengingat aku yang benar benar di persiapkan untuk meneruskan pabrik . kakek memaksaku mengambil jurusan pertanian atau bisnis . tapi aku merasa itu bukan bidang ku . aku merasa ketertarikanku sebagai orang yang akan membangun tempat itu .. bukan sebagai pengelolanya


malam itu setelah bertengkar dengan kakek .. aku kabur bersama pak Darsono .. orang tua itu mengabdi sudah lama di keluarga Brawijaya . dan beliau sangat menghormati Dad dari pada kakek . beliau yang membantuku kabur menemani tiap langkahku di waktu malam yang dingin itu . aku sempat berpamitan pada Freya yang menangis tanpa mengeluarkan suara . aku sempat memandanginya ketika sampai di kebun . melihatnya yang terus memperhatikanku di tengah kegelapan dari jendela kamarnya . wajahnya tanpa ekspresi tapi itulah yang membuatku sangat khawatir. Freya tak seceria yang kuingat saat banyak sekali kejadian buruk yang telah menimpa keluarga Brawijaya .


aku kabur .. tanpa arah dan tujuan .. perjalanan malam .. berjalan kaki sampai kaki gunung .. tempat pak Darsono janjian dengan temannya yang membawa mobil . aku menuju ke kota terdekat . tinggal di salah satu kerabat pak Darsono sampai keberadaan ku tercium Max .. dia mendatangiku dengan wajah datarnya tak berkomentar apapun tapi, dia yang menelepon kakek dari asramanya sekolahnya .. aku masih ingat dengan jelas , suaranya yang datar namun tegas ketika bernegosiasi dengan kakek .. wajahnya tak menunjukkan ekspresinya tapi .. dia membantuku .. membantuku menyelesaikan urusan sekolahku dengan kakek maupun dengan pihak sekolah . aku tinggal di rumahnya .. rumah yang dia beli sendiri dengan hasil keringatnya sendiri .. Max , pria jenius yang menjual lukisan untuk membiayai hidupnya .. rumahnya seperti galeri lukisan, dia memberiku kamar gratis dan makanan yang selalu ada untuk ku makan . aku banyak berhutang padanya


pintu terbuka, Julius masuk ke dalam ruangan . sifatnya yang ceria membuat suara gaduh ketika dia masuk , aku meletakkan dengan cepat papan nama milik Max


" James .. " Julius datang dan memelukku


" gimana kerja sama si hantu Max? " tanyaku menggoda julius


" itu julukan waktu kita remaja James .. masih aja kamu manggil dia gt "

__ADS_1


" the Ghost of Max " kataku dan kami berdua tertawa


Max masuk .. dengan setelan kemejanya yang rapih. langkahnya tegas , Auranya berubah .. dia terlihat jauh lebih dewasa dariku ..terlihat sangat bertanggung jawab


" hai Arthur .. " katanya datar


" hai, aku Jessica " Jessica berdiri dan menyalami Max " kita pernah bertemu bukan?"


" ya . tentu Jess .. aku masih ingat " Max menghampiriku dan berkata di depanku


" ada yang ingin aku bicarakan denganmu , Arthur " katanya dengan tegas


Julius ber ekspresi ,


aku tak sempat menjawab ketika Julius dengan sedikit memaksa mengajak Jessica pergi .. pandanganku kembali ke arah Max setelah pintu tertutup


" lalu .. apa yang mau kau bicarakan Max? "


max menelepon sebentar . menyuruh seseorang bagian pantry untuk membawakan minuman untuk kami . aku duduk di sofa tamu . Max melepas kancing Jas yang di pakainya mengendorkan Dasi dan mulai berbicara padaku saat kopi datang


dia menceritakan tentang Freya dan rencana bisnisnya ke Amerika

__ADS_1


" aku sudah memikirkan ini matang matang Arthur .. "


" lalu bagaimana dengan Freya .. bukankah kalian baru saja bertunangan? "


" Aku sudah menyiapkan segala sesuatunya .. Julius yang mengurus semua yang ku minta .. aku tak tahu berapa lama aku akan berada di sana . aku tak memaksa Freya untuk menungguku Arthur . maka dari itu aku menelepon mu untuk menemani dan menghibur Freya . mungkin di awal sekolahnya dia akan merasa kesulitan menyesuaikan diri "


aku kehabisan kata kata untuk membatah Max . sinar matanya yang sedih tapi wajahnya tegas dan dia tak berkedip saat mengatakan itu padaku . aku menatapnya beberapa lama . memastikan tekad yang dia punya . tapi sepertinya tak dapat lagi tergoyahkan


" aku akan ketempat Freya sekarang "


aku keluar dari ruangan mencari Julius dan Jessica .. mereka berada di pantry saat aku menelepon menggunakan ponsel yang hampir jarang ku gunakan . aku menyusulnya


mereka sedang makan di bawah . aku menarik tangan Jessica


" ayo .. kita harus bergegas ke rumah Freya "


" apa ada sesuatu yang terjadi , Arthur " tanya Jessica


" aku hanya ingin memastikannya baik baik saja "


" Arthur Tunggu , " kata Julius . " duduk dan dengarkanlah apa yang kutahu tentang Freya

__ADS_1


aku duduk dengan ragu tapi ku lakukan juga . aku memandangnya dengan tatapan penuh tanya dan Julius menceritakan kejadian malam itu ketika Freya mengusirnya .. cerita tentang trauma masa lalu Max membuatku terhenyak dan jatuh melorot di kursi . aku menutupi wajahku dengan tangan .. semua ini terasa sangat complicated


__ADS_2