Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Menghampiri bu Lisa,


__ADS_3

"Ya ampun masih tidur dia!" gumam bu Linda setelah melihat sosok yang ada di balik selimut tebal.


Bu Linda menghela napas setelah masuk ke dalam kamar putranya. Beliau berjalan menuju jendela untuk menyibak tirai bewarna abu-abu itu. Sinar mentari pun menerobos masuk ke dalam kamar yang berantakan.


"Arvin! Bangun!" Bu Linda menepuk bahu putranya beberapa kali, "ayo sarapan!" ujarnya lagi.


Sementara sosok yang ada di balik selimut hanya menggeliatkan tubuh. Arvin enggan untuk membuka matanya, "masih ngantuk, Mi," ucap Arvin dengan suara yang serak.


"Ini anak ya! Mami cium nih, kalau kamu gak mau bangun!" ancam bu Linda seraya berdiri dari tepi ranjang. Beliau berkacak pinggang sambil menatap putranya, "Mami serius, Vin!" ujar bu Linda.


Terkadang Arvin merasa risih melihat sikap berlebihan ibunya itu. Bu Linda sering memperlakukan Arvin seperti anak kecil, meski umurnya sudah memasuki kepala tiga. Arvin bergidik ngeri ketika bu Linda mendaratkan ciuman di pipinya.


"Stop!" teriak Arvin ketika merasakan kaki bu Linda bergerak di atas ranjangnya, "ingat ya, Mi! Arvin bukan anak kecil ataupun pria manja! Silahkan Mami keluar dari kamar Arvin! Setengah jam lagi Arvin turun!" ujar Arvin setelah kelopak matanya terbuka lebar.


Bu Linda tersenyum penuh kemenangan setelah mendengar jawaban putranya. Beliau segera keluar dari kamar tersebut dan berjalan menuju ruang kerja suaminya. Bu Linda tahu jika pak Bram berada di sana bersama Rofan. Tanpa mengetuk pintu, bu Linda membuka pintu tersebut dengan pelan. Beliau mencuri dengar pembicaraan di antara suaminya dan Rofan. Terdengar di sana jika Rofan menyebutkan ada gadis di apartment suaminya.


"Seorang gadis di Apartemen? Siapa yang kamu maksud, Fan? Apa suamiku menyembunyikan seorang gadis di sana?" tanya bu Linda sambil berjalan ke meja kerja pak Bram.


Pak Bram menepuk keningnya setelah melihat kehadiran bu Linda di sana. Hembusan napas berat terdengar di sana, karena pak Bram sudah menduga apa yang terjadi setelah ini.


"Silahkan duduk, Nyonya," ucap Rofan setelah berdiri dari tempat duduknya saat ini. Ia mempersilahkan agar bu Linda duduk di kursi yang berhadapan dengan pak Bram.


"Siapa yang ada di apartment?" cecar bu Linda seraya menatap pak Bram dan Rofan bergantian.


Pak Bram menegakkan tubuhnya dan setelah itu, beliau membuka map yang ada di atas meja. Pak Bram pun menjelaskan dengan detail apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam. Pria matang itu pun menjelaskan jika gadis yang ada di apartment adalah putri kandung pak Hardi.


"Kalau begitu Mami ikut ke rumah istrinya Hardi!" ujar bu Linda setelah tahu jika setelah ini, suaminya akan pergi ke sana.


"Oke, boleh saja! Tapi Mami harus menjaga emosi. Jangan mengacaukan rencana Papi dan Rofan," ucap pak Bram seraya menatap sang istri dengan intens.

__ADS_1


Setelah membahas rencana yang akan dilaksanakan nanti, ketiga orang tersebut keluar dari ruangan tersebut. Rofan memutuskan untuk menunggu pak Hardi di luar. Ia menolak saat pak Bram mengajaknya untuk sarapan bersama.


"Wah, anak Mami udah cakep aja ini!" ujar bu Linda setelah sampai di ruang makan. Beliau melihat Arvin di sana dengan pakaian yang rapi.


"Pagi, Mi, Pi," sapa Arvin ketika kedua orangtuanya duduk di tempat masing-masing.


"Bagaimana kabarmu pagi ini?" tanya pak Bram seraya menatap Arvin sekilas.


"Seperti yang Papi lihat, Arvin sehat dan baik-baik saja," jawab Arvin dengan diiringi senyum tipis.


"Nanti saja kita lanjutkan lagi ngobrolnya, sekarang lebih baik kita sarapan dulu. Arvin mau disuapin Mami gak?" tanya bu Linda seraya menatap Arvin dengan penuh kasih.


"Mami!" Arvin berdecak kesal setelah mendengar pertanyaan itu.


Sarapan bersama akhirnya dimulai. Tidak ada yang berbicara saat sarapan berlangsung. Semua fokus dengan makanan masing-masing. Arvin terlihat buru-buru setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Arvin berangkat dulu," pamit Arvin setelah selesai sarapan.


"Arvin harus datang lebih awal, untuk menyusun maket yang sudah Arvin buat tadi malam," ucap Arvin sebelum berlalu pergi.


Kini, tinggallah bu Linda dan pak Bram berdua di ruangan tersebut. Mereka melanjutkan kembali sarapan yang belum usai itu, setelah Arvin menghilang dari pandangan.


"Pi, kenapa Papi gak memberikan Arvin posisi yang enak sih! Harusnya Papi menjadikan Arvin pemimpin perusahaan!" protes bu Linda seraya menatap sang suami.


"Tidak! Belum saatnya Arvin memimpin perusahaan. Dia harus banyak belajar dulu sebelum menjadi owner. Papi tidak akan menyerahkan perusahaan sebelum Arvin menikah. Dia harus belajar bertanggung jawab dulu." ujar pak Bram setelah meletakkan sendoknya.


Setelah sarapan usai, bu Linda dan pak Bram pun berangkat menuju kediaman pak Hardi. Tentu saja merek berdua pergi bersama Rofan dan sopir. Mobil hitam yang dikendarai sopir itu pun menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, hingga sampai di halaman luas rumah megah milik pak Hardi. Beberapa karangan bunga masih memenuhi halaman rumah tersebut.


"Mami udah gak sabar pengen ketemu istrinya Hardi!" ujar bu Linda penuh penekanan.

__ADS_1


"Sabar! Awas saja kalau sampai Mami emosi!" Pak Bram memberikan ancaman kepada istrinya.


Ketiga orang yang ada dalam mobil, segera keluar. Mereka mengayun langkah menuju teras rumah dan berhenti tepat di depan pintu masuk kediaman Hardinata. Seorang ART membukakan pintu tersebut dan mempersilahkan ketiga orang tersebut masuk ke dalam ruang tamu.


Tidak lama setelah itu, bu Linda keluar dari dalam. Beliau menyambut tamu-tamu terhormat itu dengan sikap yang sangat ramah. Senyum yang indah mengembang begitu saja dari bibir berwarna merah itu.


"Saya minta maaf atas nama mas Hardi, barangkali suami saya punya salah kepada Bapak sekeluarga," ucap Bu Lisa setelah berbasa-basi bersama pak Bram dan bu Linda.


"Hardi tidak memiliki salah apapun kepada saya ataupun keluarga saya. Anda tenang saja," jawab pak Bram dengan diiringi senyum tipis. Sementara bu Linda hanya diam dengan sikap yang dingin.


"Oh, ya, di mana anaknya Hardi?" tanya pak Bram seraya menatap bu Lisa.


"Putri saya masih di Surabaya, mengurus bisnis ayahnya. Kalau anaknya mas Hardi, entahlah di mana. Dia tidak pulang dari Amerika meskipun tahu ayahnya meninggal. Entahlah, saya pun tidak mengerti jalan pikiran Fayre," ucap bu Lisa dengan ekspresi wajah penuh sesal. Sungguh, nenek sihir ini begitu pandai berakting.


Bu Linda reflek mencengkram jas yang dipakai pak Bram. Beliau tidak menyangka jika wanita yang ada di hadapannya itu tega berbohong tentang keberadaan putri sambungnya, "kalau boleh tahu siapa nama putrinya Hardi?" tanya bu Linda karena penasaran akan kebenaran dari berkas dari Rofan.


"Namanya Kyomi Fayre, Jeng," ucap bu Lisa seraya menatap bu Linda dengan sorot mata sendu.


Jawaban yang diucapkan bu Lisa semakin memperkuat fakta, jika gadis yang ada di apartment benar-benar putri kandung pak Hardi. Beberapa pertanyaan tentang Fayre pun diajukan oleh pak Bram. Setelah cukup lama berada di sana, pada akhirnya mereka bertiga beranjak dari tempat masing-masing.


"Kami mau pamit pulang. Maaf karena kami datang terlambat," ucap pak Bram sebelum pergi dari ruang tamu tersebut.


...🌹Selamat membaca🌹...


βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–βž–


Selamat hari senin😍 Ada rekomendasi karya keren untuk kalian nih🀭 Kalian wajib baca karya dari author Lena Laiha dengan judul Terpaksa Menikah. Serius dah, ini recomended!


__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2