
Gemerlap lampu warna-warni menjadi ciri khas dari club malam. Arvin baru saja tiba di salah satu club malam, tempatnya menghabiskan malam minggu bersama Raka dan yang lain. Kedatangan Arvin disambut oleh beberapa wanita cantik yang bekerja di club ini. Seperti biasa, Arvin hanya tersenyum seraya menatap para wanita tersebut. Ia berlalu begitu saja menuju ruangan VIP yang sudah dipesan oleh Raka.
"Ck. Sial!" Arvin berdecak kesal setelah masuk ke dalam room tersebut.
Pria tampan itu sangat kesal ketika melihat Raka sedang berc*mbu dengan seorang wanita. Sudah menjadi kebiasaan bagi pria bertubuh kekar itu, untuk menghabiskan malam dengan ditemani seorang wanita cantik, meskipun itu hanya minum.
"Woe, Bro! Udah datang ternyata!" Raka menyingkirkan wanita yang ada di atas pangkuannya saat melihat Arvin duduk tak jauh darinya.
"Mending lu cari tempat lain deh, Ka!" sungut Arvin karena tangan wanita malam yang disewa Raka masih aktif di tubuh kekar tersebut.
"Santai, Bro." Raka tersenyum penuh arti. Ia mengerlingkan mata saat menatap wanita tersebut.
Raka tersenyum smirk ketika melihat kekesalan yang terpancar dari sorot mata Arvin. Ia memberikan kode kepada wanita cantik yang menemaninya itu untuk menuang minuman di gelas Arvin. Sesekali wanita tersebut mengerlingkan mata dan tersenyum genit kepada Arvin.
"Katanya lu mau datang dengan seseorang, Vin?" tanya Toni, teman Arvin yang lain.
"Eh iya. Mana orangnya?" sahut Fabi seraya celingukan untuk mencari orang tersebut.
Arvin menyandarkan tubuhnya di sofa dengan helaian napas yang berat. Ia menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala dengan tatapan menerawang jauh entah kemana.
"Dia tidak mau ikut. Padahal, gue ingin mengenalkan dia ke kalian," ucap Arvin tanpa menatap ketiga temannya.
Raka penasaran saja siapa sebenarnya yang ingin dikenalkan Arvin kepadanya. Akan tetapi ia gengsi jika harus bertanya lebih detail kepada Arvin. Baik Raka ataupun kedua teman yang lain, mereka belum tahu jika Arvin sudah resmi melamar seseorang. Arvin sengaja menyembunyikan ini dulu dari mereka.
"Lu mau bawa cewek bayaran, Vin?" celetuk Fabi setelah menenggak segelas minuman yang dituangkan untuknya.
"Kagak lah! Gue tadi pengen ngenalin kalian sama calon istri gue," ucap Arvin seraya menatap ketiga temannya.
__ADS_1
Ketiga pria tersebut mengalihkan pandangan ke arah Arvin. Jujur saja mereka tidak percaya jika Arvin memiliki calon istri, karena mereka pun tidak mengetahui kapan putra konglomerat itu tunangan. Lagi pula, yang mereka tahu, sejak Arvin putus dengan mantan kekasihnya, ia tidak mau lagi menjalin hubungan serius dengan wanita, karena sulit melupakan mantan kekasihnya yang sudah menikah.
"Lu serius, Bro?" Raka menatap Arvin dengan intens.
"Ya, gue udah tunangan secara private di Hotel. Sekarang gue pun sudah menjalani beberapa proses pra nikah," jawab Arvin dengan sikap yang tenang.
Raka mengepalkan tangannya setelah mendengar hal itu. Sungguh, ia tidak terima jika Arvin bisa hidup bahagia dengan wanita lain. Sementara adiknya masih menjalani pengobatan di rumah sakit jiwa karena depresi. Sebenarnya Arvin tidak bersalah akan hal ini. Adiknya Raka sangat mencintai Arvin, ia tergila-gila dan pada akhirnya benar-benar gila setelah Arvin menolak cintanya. Arvin sendiri tidak suka bermain-main jika masalah hati dan untuk masalah adiknya Raka, Arvin pun tidak tahu jika dirinya yang menjadi penyebab utama.
"Coba lihat mana foto acara tunangan lu! Gue gak percaya!" Toni beranjak dari tempatnya dan pindah ke sisi Arvin.
"Kalau gak percaya ya sudah! Gak usah liat-liat fotonya!" kilah Arvin seraya menatap Toni.
"Sudahlah! Kita tunggu saja bukti nyatanya. Kalau ada undangan ya kita datang!" ujar Fabi dengan santainya. Sepertinya pria tampan tersebut mulai merasakan efek alkohol.
"Ayo kita lanjutkan! Malam ini kita harus merayakan kebahagiaan teman kita! Dia sudah membuktikan jika dia masih tertarik dengan wanita!" Raka tersenyum smirk saat mengalihkan pandangan ke arah Arvin.
Benar saja, tidak lama setelah itu, seorang wanita bertubuh sexy masuk ke dalam room tersebut dengan membawa beberapa botol wine. Sepertinya, Raka benar-benar ingin menghabiskan waktu di sini dengan semua minuman yang berjajar rapi.
"Aku pasti akan membalas semuanya, atas apa yang dialami Veronika! Adikku telah menderita dan kamu akan bersenang-senang! Jangan berharap!" ujar Raka dalam hati ketika melihat Arvin tersenyum bahagia bersama Fabi dan Toni.
Waktu terus berlalu begitu cepat. Keempat QQ pemuda itu mulai mabok parah. Meraka mulai meracau tak jelas karena pengaruh alkohol. Namun, keempat orang tersebut mengalihkan pandangan ke arah pintu yang terbuka. Ada Rofan dan dua orang pengawal masuk ke dalam room vip tersebut.
"Maaf Tuan muda, jika kedatangan kami mengganggu acara di sini. Kami diperintahkan tuan Bram untuk menjemput Tuan muda," ucap Rofan dengan sikap yang sopan.
"Lebih baik Anda pulang dulu. Saya masih ingin di sini," ucap Arvin seraya menatap Rofan sekilas. Lantas, ia melanjutkan kembali menenggak minuman yang ada di atas meja.
Tanpa banyak bicara, Rofan memberikan kode agar dua pengawal itu membawa Arvin pergi dari tempat ini, meskipun dengan cara paksa. Benar saja, Arvin marah saat kedua pengawal tersebut memaksanya keluar dari ruangan ini. Kedua tangan Arvin dipegang erat kedua pengawal tersebut.
__ADS_1
"Kalian ini apa-apaan sih!" teriak Arvin karena tidak bisa menggerakkan tangannya. Ia dipaksa masuk ke dalam mobil bersama para pengawal itu, sementara Rofan membawa mobil Arvin yang terparkir di sana.
Sementara itu, di rumah megah, pak Bram dan bu Linda menunggu kedatangan putranya di ruang keluarga. Wajah pak Bram sangat murung karena kesal melihat kelakuan putra semata wayangnya. Bisa-bisa Arvin pergi ke club malam, padahal sebelumnya ia pamit pergi menemui Fay di apartment.
"Arvin ini bagaimana! Besok mau ke gereja sekarang malah mabok di club!" gerutu bu Linda dengan kilat amarah yang terlihat jelas dari sorot matanya.
"Tau tuh! Anaknya Mami itu!" Pak Bram menatap bu linda.
"Hei! Anak kita berdua! Enak saja, giliran Arvin begitu, anaknya Mami! Kalau dia pintar anaknya Papi!" protes bu Linda.
Pak Bram mengalihkan pandangan setelah mendengar derap langkah seseorang dari arah depan. Beliau beranjak dari tempatnya untuk menyambut kedatangan Rofan dan putranya. Beliau berkacak pinggang di hadapan Arvin yang sedang dipapah kedua pengawal tersebut.
"Kamu sudah membohongi Papi, Vin!" ujar pak Bram tanpa melepaskan pandangan dari wajah putranya.
"Emm ... Arvin Enggak bohong, Pi," jawab Arvin tanpa menatap ayahnya, kepalanya tertunduk, "tadi Arvin menemui Fay, tapi dia gak mau diajak clubbing. Ya sudah, Arvin berangkat sendiri," ujarnya dengan diiringi senyum tipis.
Mendengar jawaban tersebut, membuat pak Bram semakin geram. Rasanya, beliau ingin sekali mendaratkan tangan di pipi putranya itu, akan tetapi beliau tidak mau melakukan kesalahan fatal dengan ringan tangan kepada putranya sendiri.
"Bawa dia ke kamarnya, sebelum aku membuat wajahnya babak belur!" titah pak Bram tanpa menatap Arvin.
...๐นSelamat Membaca๐น...
โโโโโโโโโโโโโโโ
Halo semua๐ Ada rekomendasi karya horor super keren nih๐Kuy baca juga karya emak othor SkySal dengan judul Mereka Ada&Nyata. Serius dah kalian bakal suka dengan karya ini๐
__ADS_1
...๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท๐ท...