Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Otewe Bali,


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


Satu koper besar telah siap di dekat ranjang. Setelah makan malam nanti, sepasang suami istri itu akan berangkat ke Bali. Undangan pesta ulang tahun Fabi akan dilaksanakan besok malam di salah satu club malam di Bali. Faby membooking satu club malam untuk tamu undangannya.


"Kenapa sedih begitu?" tanya Arvin setelah melihat Fay duduk di tepi ranjang dengan ekspresi wajah tak bersahabat.


"Kamu yakin jika aku bisa menghadiri pesta itu?" tanya Fay seraya menatap Arvin.


"Kamu pasti bisa! Lagi pula kita hanya sebentar aja kok di sana. Gak enak sama Fabi kalau tidak hadir," ucap Arvin setelah merebahkan diri di atas ranjang. Ia baru saja membersihkan diri setelah pulang dari kantor.


Sebenarnya, Fay enggan datang ke party. Ia merasa bingung jika berada di keramaian seperti itu. Akan tetapi, ia takut dan tidak tenang jika Arvin menghadiri pesta itu seorang diri.


"Arvin!" ujar Fay seraya mengalihkan pandangannya ke samping, "Sebaiknya kamu menjauhi temanmu yang bernama ... emm ... siapa ya? Itu loh yang tubuhnya kekar!" Fay berusaha mengingat nama pria yang dijumpainya di kantor kala itu.


"Maksudmu Raka?" tanya Arvin seraya menatap Fay.


"Ya. Pokoknya yang bertubuh kekar itu. Feelingku gak enak saat melihat wajahnya. Sepertinya dia tidak suka denganmu," ucap Fay tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Arvin.


Mendengar penjelasan itu, membuat Arvin teringat sesuatu. Mungkin sudah saatnya ia menanyakan hal ini kepada Fay, mengingat kondisinya saat ini sudah membaik. Setelah beberapa saat lamanya merangkai kata-kata, akhirnya Arvin pun bertanya,


"apa kamu mengenal dia, Fay? Mungkin, kamu pernah bertemu dengan dia?" selidik Arvin.


Arvin mengamati ekspresi wajah sang istri. Terlihat jelas jika istrinya itu sedang berpikir. Mungkin saat ini Fay sedang memikirkan di mana pernah bertemu Raka.


"Aku sepertinya pernah ketemu dia, tapi aku lupa di mana." Fay menatap Arvin dengan lekat.

__ADS_1


"Raka adalah orang yang memberi tahuku, jika kamu bekerja di club malam," ucap Arvin seraya menatap Fay.


Fay tertegun setelah mendengar jawaban sang suami. Ingatannya kembali ke masa lalu, berusaha untuk mengingat sosok yang ia jumpai di club selain pak Bram. Ya, hari pertama di club malam ia bertemu dengan tiga pria di salah satu room VIP.


"Sepertinya aku ingat sesuatu," gumam Fay setelah diam beberapa menit.


Untuk menjawab rasa penasarannya, Arvin pun memberanikan diri bertanya tentang semua cerita yang disampaikan oleh Raka. Beberapa kali Fay membekap mulutnya setelah mendengar penjelasan berlebihan yang disampaikan oleh Arvin.


"Maka dari itu, jangan terlalu dekat dengan dia. Aku merasa jika dia mempunyai rencana jahat kepada kita. Mungkin, pacarnya pernah kamu rebut kali," ucap Fay dengan tatapan menyelidik.


"Sembarangan! Ngaco!" Arvin tidak terima jika Fay menuduhnya seperti itu.


Obrolan pun terus berlanjut sampai mereka mengalihkan pembicaraan mengenai Raka. Rencana liburan di Bali pun menjadi topik pembahasan kali ini. Rencananya, besok pagi mereka akan liburan terlebih dahulu sebelum datang ke pesta yang diselenggarakan Faby.


"Tamumu, si bulan udah pulang kan?" Arvin ingin memastikan jika besok bisa merasakan sesuatu yang ditahannya selama ini.


"Aish! Si bulan mengganggu saja!" Arvin berdecak kesal setelah mendengar jawaban dari Fay.


Fay beranjak dari tempat duduknya karena tidak mau membahas masalah itu lebih lanjut. Ia segera keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam bersama. Berada di dalam kamar berdua dengan Arvin, membuat degup jantungnya semakin tak karuan.


...๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ ...


Suara dentingan sendok dan garpu saling bersahutan di ruang makan. Tidak ada yang bersuara selama makan malam berlangsung karena semua fokus pada makanan masing-masing.


"Kalian berangkat kapan?" tanya pak Bram setelah selesai.

__ADS_1


"Setelah ini, Pi," jawab Arvin setelah menelan makanannya.


"Ingat, jaga diri kalian selama di sana. Papi tidak mau ada masalah serius yang membuat kalian bertengkar lagi. Oke!" tutur pak Bram seraya menatap Fay dan Arvin bergantian.


Semua beranjak dari tempatnya setelah makan malam selesai. Arvin naik ke lantai dua untuk mengambil koper dan tas yang akan dibawa ke Bali. Sementara Fay, menunggu di ruang keluarga bersama kedua mertuanya.


"Pokoknya jangan biarkan Arvin keluyuran sendiri di sana. Kemana pun dia pergi kamu harus ikut. Mami takut dia lupa diri," ucap bu Linda seraya menatap menantunya dengan lekat.


"Iya, Mi. Kalau nanti Arvin nakal, boleh ya Fay jewer sampai telinganya putus," kelakar Fay dengan diiringi senyum yang manis.


"Pasti sedang membicarakan aku 'kan!" sahut Arvin saat masih berada di tangga rumah.


"Dih, sok tahu!" Bu Linda menatap sinis putra semata wayangnya itu.


Akhirnya, setelah beberapa menit bercengkrama di ruang keluarga, sepasang suami istri itu pamit berangkat ke bandara. Kali ini mereka diantar oleh sopir pribadi pak Bram.


"Hati-hati!" teriak bu Linda sambil melambaikan tangan ketika mobil mulai melaju.


Suasana di dalam mobil pun terasa hening karena keduanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Bunyi notifikasi pesan terdengar beberapa kali dari ponsel Arvin. Sepertinya, ia sedang mengirim pesan kepada seseorang. Tidak lama setelah itu, Arvin menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket. Ia mengalihkan pandangan ke samping agar bisa menatap sosok tenang yang ada di sisinya.


"Tidak lama lagi, aku akan memiliki kamu seutuhnya, Fay," gumam Arvin dalam hati.


...๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka๐ŸŒน ...


...Ditulis gak nih unboxingnya? komen dong๐Ÿ˜†...

__ADS_1


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2