
"Vin, ini bukan mimpi kan? Aku beneran hamil kan?" Sekali lagi Fayre memastikan hasil pemeriksaan hari ini.
Arvin hanya tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan itu. Setelah memandang sang istri untuk sesaat, dia kembali fokus memperhatikan lalu lintas yang ada di depan mobil. Saat ini sepasang suami istri itu dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Tentu wajah keduanya terlihat ceria dan sumringah. Apa yang selama ini diinginkan akhirnya tumbuh di rahim dengan kondisi sehat dan baik meski usianya masih sangat rentan.
"Duh, aku udah gak sabar liat dia tumbuh besar di sini," gumam Fayre sambil mengusap perutnya beberapa kali.
Lagi dan lagi Arvin hanya bisa tersenyum mendengar ungkapan bahagia dari sang istri. Dia sendiri sampai tidak tahu harus bagaimana mengekspresikan kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini. Sama halnya dengan Fayre, Arvin pun sempat shock setelah mendengar kabar membahagiakan ini dari dokter Areta. Ternyata ada bibit unggul yang sudah tumbuh sebelum proses penanaman dengan bantuan program.
"Eh, Fay. Kalau usia janinnya udah dua minggu, berarti anak kita made in Jerman dong ya?" gumam Arvin setelah teringat jika saat itu mereka masih berada di negara maju itu.
"Iya juga ya. Kira-kira pembuahannya waktu kita main di mana ya, Vin? Di dapur, kolam renang, kamar mandi atau di kamar ya?" tanya Fayre setelah teringat kapan terakhir kali melakukan hubungan di Jerman.
"Mana aku tahu, Fay. Kita melakukannya di banyak tempat sih!" ujar Arvin tanpa menatap Fayre. Dia sibuk dengan setir mobil dan kondisi jalan yang sedang dilalui.
Kebahagiaan akan karunia Tuhan yang begitu besar membuat sepasang suami istri itu tak henti tersenyum. Perjalanan panjang itu pun terasa begitu cepat karena kondisi lalu lintas malam ini terasa senggang. Mobil yang dikendarai Arvin pun pada akhirnya sampai di halaman rumah. Pria tampan itu segera keluar dari mobil dan berjalan hingga sampai di pintu sebelah kiri. Dia membukakan pintu mobil untuk sang istri.
"Eits! Turunnya pelan-pelan!" Arvin memperingatkan Fayre agar lebih hati-hati.
"Hei! Jangan naik tangga sendiri!" ujar Arvin setelah menutup pintu dan melihat sang istri mulai melangkah di anak tangga pertama yang ada di teras.
"Gak usah lebay kenapa sih, Vin!" protes Fayre dengan raut wajah yang berubah menjadi cemberut, "Hei turunkan aku!" teriak Fayre saat Arvin tiba-tiba mengangkat tubuhnya.
Sikap yang ditunjukkan Arvin benar-benar berlebihan hingga membuat Fayre kesal. Setelah sampai di teras, pria tampan itu menurunkan tubuh sang istri dengan hati-hati dan penuh kelembutan.
"Eh, pasang ekspresi wajah sedih, yuk! Biar Mami penasaran," ucap Arvin sebelum membuka pintu, "biar Mami terkejut gitu saat kita memberitahu kabar ini." Arvin menaikturunkan alisnya saat memberikan ide tersebut.
__ADS_1
"Dih orang tua dikerjain! Kualat tahu rasa loh!" Fayre memperingatkan Arvin sebelum melakukan tindakan bodoh itu.
"Anggap saja ini surprise untuk kedua orang tua kita." Arvin masih berusaha memprovokasi sang istri.
"Eh, tapi boleh juga sih ya. Oke lah, aku setuju." Pada akhirnya Fayre mengikuti ide Arvin.
Akhirnya, mereka berdua memasuki rumah megah tersebut dengan berjalan beriringan. Fayre mulai mengatur ekspresi wajah tegang dan Arvin pun mulai mengubah ekspresinya menjadi datar. Benar saja, ternyata pak Bram dan bu Linda menunggu mereka pulang di ruang keluarga. Kedua orang tua itu sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan anak dan menantunya.
"Bagaimana? Bagaimana hasil pemeriksaan kalian?" tanya bu Linda setelah Arvin dan Fayre duduk di sofa yang tak jauh dari tempat mereka berada.
"Apa semuanya berjalan lancar?" tanya pak Bram. Rupanya pria paruh baya itu pun penasaran.
Fayre memberikan kode kepada Arvin agar menjawab pertanyaan itu karena dia tidak sanggup untuk berbohong. Bahkan, wajah cantiknya terlihat merona karena harus menahan perasaannya sendiri.
"Kenapa? Memangnya apa yang terjadi?" Bu Linda mulai gusar setelah mendengar hal itu.
Bukannya menjawab pertanyaan dari ibunya, Arvin malah menundukkan kepala. Tangannya tak henti memijat pangkal hidung seperti seseorang yang sedang menahan beban pikiran berat. Fayre pun harus menahan sekuat tenaga agar tawanya tidak meledak setelah melihat bagaimana sikap suaminya saat ini.
"Ck! Pandai sekali dia akting seperti itu di hadapan semua orang! Sepertinya dia bakat jadi artis deh!" gumam Fayre dalam hati.
"Katakan saja dengan jujur. Apa yang sedang kalian hadapi saat ini? Apakah ada kendala dari dokter tersebut?" tanya pak Bram seraya menatap wajah anak dan menantunya.
"Saya hamil, Mi, Pi." Akhirnya Fayre mengatakan perihal yang sebenarnya karena dia sudah tidak tahan lagi dengan semua ini.
"Ya ... kenapa buru-buru dikasih tahu sih! Padahal aku udah susah payah mengatur ekspresi wajah gusar!" protes Arvin setelah mendengar pengakuan Fayre.
__ADS_1
"Arvin!" teriak bu Linda dan pak Bram secara bersamaan. Mereka berdua kesal melihat tingkah putranya.
"Kalian ini sebenarnya kenapa sih? Jangan main-main dong!" Bu Linda mendadak kesal karena ulah anak dan menantunya.
Sementara Fayre hanya tersenyum manis setelah mendengar protes dari ibu mertuanya. Dia segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya untuk ditunjukkan kepada bu Linda. Sebuah buku panduan ibu dan anak berwarna merah muda telah diberikan Fayre kepada bu Linda saat ini beserta dengan hasil pemeriksaan USG.
"Ini serius? Enggak bercanda atau ngeprank kan, Nak?" tanya bu Linda setelah membaca nama 'Ny. Kyomi Fayre' di sampul buku tersebut.
"Iya, Mi. Saya hamil," ucap Fayre dengan senyum yang sangat manis.
Setetes air mata kebahagiaan mengalir dari pelupuk mata bu Linda karena bahagia mendengar kabar mengejutkan ini. Beliau sampai tidak bisa berkata apapun lagi tentang semua ini. Anugerah terindah telah diberikan Tuhan kepada keluarga ini.
"Pi, sebentar lagi kita jadi kakek dan nenek, Pi," ucap bu Linda seraya menatap pak Bram penuh arti.
"Akhirnya, harapan kita selama ini terwujud, Mi." Mata pak Bram pun ikut berembun saat mengatakan hal itu. Beliau sangat bahagia karena kabar baik yang disampaikan oleh Fayre, "selamat, Vin. Kamu sudah menunjukkan kepada Papi jika kamu pria sejati. Nah, gitu dong tembakkannya tepat sasaran!" seloroh pak Bram seraya tersenyum smirk ke arah putra semata wayangnya.
"Ck. Papi meragukan aku ternyata!" Arvin berdecak kesal setelah mendengar ucapan ayahnya.
Senyum manis para penghuni rumah megah itu pun terus mengembang karena kehadiran calon penerus keluarga ini. Bu Linda tak henti memberikan nasihat untuk Fayre agar menjaga kesehatan tubuhnya. Bahkan, bu Linda sampai melarang Fayre untuk melukis ataupun melakukan kegiatan lainnya tidak kelelahan. Sementara Arvin mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tasnya untuk menghubungi Rofan.
"Pak Rofan, tolong siapkan bonus untuk semua karyawan perusahaan kita, baik yang tetap ataupun kontrak. Beri meraka bonus satu kali gaji untuk syukuran kehamilan istri saya. Saya akan mentransfer uang pribadi saya ke rekening perusahaan." ujar Arvin setelah panggilan terhubung dengan asisten pribadinya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini semoga suka♥️🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1