
Gemerlap bintang menghiasi langit gelap kota Mojokerto, Jawa Timur. Fay segera keluar setelah kereta api berhenti di stasiun Mojokerto. Ia menyeret kopernya menuju pintu keluar untuk mencari taksi online ataupun kendaraan yang bisa mengantarnya pergi dari stasiun ini.
"Ini sudah malam, tidak mungkin aku mencari alamat bi Atin sekarang. Lebih baik aku cari penginapan saja," Fay bergumam setelah sampai di depan stasiun.
Tanpa sengaja tatapan Fay menangkap petugas keamanan yang sedang berjaga. Sepertinya, ia harus bertanya kepada petugas tersebut tentang di mana alamat bi Atin.
"Selamat malam, Pak," sapa Fay setelah berdiri di dekat satpam stasiun, "maaf saya mau tanya alamat ini, apa Bapak tahu?" Fay menyerahkan secarik kertas pemberian bi Arin kala itu. Di kertas tersebut tertera alamat lengkap beserta nomor telepon bi Atin.
"Oh, ini gak seberapa jauh dari sini, Mbak. Desa Sekar putih itu ada di dekat pasar burung Empunala," ucap satpam tersebut.
Fay bingung dengan penjelasan satpam tersebut, karena ia sendiri tidak tahu seluk-beluk kota kecil di Jawa Timur ini. Ia nekat datang ke sini karena tidak mungkin jika Arvin atau siapa saja mencarinya ke pelosok timur.
"Kalau penginapan/hotel di dekat sini ada gak, Pak?" tanya Fay lagi.
"Ada, Mbak. Ada hotel Slamet. Jaraknya sangat dekat dengan stasiun ini. Mbak bisa jalan kaki ke arah timur dan setelah itu belok kiri, jalan terus lagi beberapa meter, sampai deh di lokasi," ujar Satpam tersebut sambil menggerakkan tangannya sesuai arah yang disebut.
Setelah merekam petunjuk arah dalam kepalanya. Fay segera melanjutkan langkahnya sesuai dengan arahan satpam tersebut. Ia berjalan menyusuri trotoar di kiri jalan tiba di lokasi hotel tersebut.
"Hotel Slamet." Fay menghentikan langkah setelah membaca tulisan besar yang ada di kanan jalan. Ia bersiap menyebrang agar sampai di hotel tersebut.
Suasana di kota Mojokerto tidak cukup ramai jika dibandingkan dengan Jakarta. Fay memasuki area hotel tersebut dan mempercepat langkah menuju lobby hotel. Ia mengamati hotel tersebut sebelum memesan satu kamar untuknya. Hotel bintang dua di Mojokerto itu tak seberapa banyak pengunjung. Pada akhirnya Fay memesan suit room untuk dirinya tinggal sementara.
"Kalau dibandingkan di Jakarta ya murah banget di sini," Fay bergumam setelah mendapatkan kunci kamarnya. Ia mulai berjalan menuju kamar yang sudah dipesan.
Langkah demi langkah telah Fay lalui hingga pada akhirnya tiba di kamarnya. Ia segera masuk untuk beristirahat, karena sekujur tubuhnya terasa lelah. Apalagi bagian pangkal pahanya, sungguh, rasanya begitu ngilu dan perih.
"Akhirnya, ketemu kasur!" gumam Fay setelah merebahkan tubuh di atas bed king size tersebut.
__ADS_1
Fay termenung di sana, tatapan matanya tak beralih dari langit-langit kamar berwarna putih itu. Ia tidak pernah menyangka saja jika bisa sampai di kota ini seorang diri. Luka di hati yang begitu dalam membuatnya nekat kabur dari rumah. Tubuhnya tiba-tiba saja meremang setelah teringat kembali malam kelam yang sudah ia lalui.
Ya, Fay tahu apa yang dilakukan Arvin adalah hak yang seharusnya didapatkan. Akan tetapi cara yang dilakukannya sangat tidak pantas dilakukan seorang suami. Fay menutup wajah dengan kedua tangannya, ia berusaha melupakan kenangan pahit itu, akan tetapi rasanya sangat susah.
"Ayo, Fay, kamu pasti bisa!" Fay memberikan semangat pada dirinya sendiri agar bisa melupakan semua rasa sakit akibat perbuatan Arvin.
Rasa trauma sepertinya semakin bertambah besar karena kejadian di malam itu. Kabur ke Mojokerto adalah salah satu langkah yang ditempuh Fay untuk menenangkan diri. Saat berada di bandara saat itu, Fay memikirkan cara agar kepergiannya tidak bisa dilacak. Maka dari itu, Fay menghindari naik pesawat agar datanya tidak ditemukan oleh Arvin. Ia menonaktifkan ponsel dan melepas kartu perdananya. Semua memang sudah dipikirkan matang-matang oleh wanita bermata sipit itu. Ia pun tidak tahu sampai kapan bersembunyi di tempat ini.
...💠💠💠💠💠...
Mentari pagi telah hadir untuk memberikan kehangatan kepada semua makhluk yang ada di kota ini. Udara di Mojokerto masih asri dan sejuk jika dibandingkan dengan di Jakarta. Suara kicauan burung liar masih terdengar indah di indera pendengaran. Fay begitu menikmati suasana di kota ini. Saat ini ia sedang sarapan di resto hotel, ia mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca yang menyuguhkan pemandangan taman hotel.
"Setelah ini aku harus mencari rumah bi Atin," gumam Fay seusai sarapan. Ia beranjak dari tempat duduknya saat ini.
Fay memutuskan minta bantuan petugas hotel untuk memesankan taksi online ataupun kendaraan lain yang bisa mengantarnya ke alamat bi Atin. Ia harus menunggu beberapa menit sebelum taksi yang dipesan petugas hotel datang.
Setelah masuk ke dalam mobil berwarna hitam itu, Fay menyerahkan secarik kertas tersebut kepada sopir taksi. Pada akhirnya, mobil itu pun melenggang dari hotel. Fay menikmati pemandangan kota ini. Senyum manis pun mengembang dari bibirnya ketika melihat keindahan kota Mojokerto.
"Pak, apa ini masih jauh?" tanya Fay seraya menatap sopir tersebut dari kaca spion depan.
"Tidak, Mbak. Sebentar lagi sampai kok," ucap sopir tersebut.
Fay baru tahu jika di kota ini sudah ada mall dan supermarket nasional yang biasa ia jumpai di Jakarta. Mobil itu melewati salah satu pusat kota bernama Benteng Pancasila. Sopir tersebut mengatakan jika di hari minggu pagi, sepanjang jalan dari ujung timur sampai ujung barat dipenuhi warga Mojokerto. Mereka biasa menyebut acara tersebut dengan Car Free Day. Banyak pedagang makanan dan pakaian menggelar dagangan di sekitar tempat ini.
"Mbak, ini sudah sampai di Sekar putih gang dua. Rumah yang Mbak maksud yang mana?" tanya sopir tersebut setelah masuk ke dalam gang.
Fay mengedarkan pandangan, ia sendiri tidak tahu di mana rumah bi Atin, "biar saya tanya warga sekitar, tolong maju sedikit. Itu ada warga berkumpul di warung," ucap Fay setelah melihat kerumunan ibu-ibu yang sedang berkumpul.
__ADS_1
Setelah sampai di warung tersebut, Fay segera keluar dari mobil. Ia berjalan menuju warung tersebut. Tentu kedatangannya membuat ibu-ibu di sana mengalihkan pandangan, karena hari ini Fay terlihat begitu cantik.
"Permisi, Bu," ucap Fay seraya menatap salah satu ibu-ibu di sana, "Maaf saya mau tanya, rumah bu Atin yang mana, ya?" tanya Fay dengan suara yang terdengar lembut.
"He, Atin sopo se seng digoleki Cah iki?" Wanita tersebut malah bertanya kepada ibu-ibu yang lain.
("Hei, Atin siapa sih yang dicari anak ini?")
"Oh, iku loh Yu Jum, paling Sariaten Rt. 05, seng biasane meratau nang Jakarta!" sahut salah satu wanita berjilbab ungu.
("Oh, itu loh, Bu Jum, mungkin Sariaten warga Rt. 02, yang biasa merantau ke Jakarta!")
Fay terlihat bingung saat melihat kedua wanita itu berbicara, karena ia sendiri sama sekali tidak mengerti bahasa jawa. Fay sabar menunggu ibu-ibu tersebut berbicara.
"Itu loh, Mbak. Ini lurus mawon! Lah, itu ada pertigaan kan di depan, Mbak e lurus aja gak usah belok! Nanti rumahe bu Sariaten deretan nomer lima dari pertigaan. Ada di kiri jalan, rumahe warna kuning." ucap wanita berjilbab ungu sambil menunjukkan arah rumah bi Atin. Meski dengan bahasa campuran, Fay mulai paham di mana letak rumah bi Atin.
"Terima kasih, Bu, permisi," pamit Fay sebelum pergi dari hadapan wanita tersebut.
Fay masuk ke dalam mobil, ia memberitahu sopir tersebut di mana lokasi rumah bi Atin. Mobil hitam itu pun berjalan pelan sampai tiba di rumah yang dimaksud oleh Fay. Rumah cat kuning yang cukup besar jika dibandingkan dengan rumah yang ada di sekitarnya. Sebelum turun, Fay berpesan kepada sopir Gr*b agar menunggunya sebentar, karena ia takut salah rumah.
Fay berjalan menuju halaman tak seberapa luas itu, pintu rumah tersebut dibiarkan terbuka. Hal ini menunjukkan jika pemilik rumah ada di dalam. Fay berharap dia tidak salah alamat. Beberapa kali mengetuk pintu yang terbuka, pada akhirnya sang pemilik rumah muncul di hadapan Fay. Ya, bi Atin terkejut setelah melihat kehadiran nyonya muda Bramasta di sana.
"Fa ... Fayre! Nak, Fay!" ujar bi Atin dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Fay.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Ye, akhirnya Fay kabur ke tempat tinggal othor😎Mojokerto punya 😝😆...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...