
"Sayang ... Sayang ... Sayang!" Fayre berusaha membangunkan Arvin agar membuka kelopak matanya.
Beberapa kali Fayre menepuk pipi Arvin hingga sang empu membuka kelopak matanya, "ada apa, Sayang? Ini masih larut malam. Bobo lagi yuk!" gumam Arvin sambil mengusap pipi sang istri.
Fayre mendengus kesal setelah mendengar jawaban tersebut. Pasalnya dia lapar dan ingin membeli sesuatu di luar. Dilihatnya penunjuk waktu yang ada di kamar ternyata sudah pukul satu dini hari. Bayang-bayang makanan yang sempat hadir dalam mimpi membuat ibu hamil itu merasa gusar. Dia tidak bisa menahan keinginan itu dan terpaksa harus mencari cara agar Arvin bersedia diajak ke luar.
"Vin. Aku lapar!" ujar Fayre sambil menarik ke atas kelopak mata sang suami hingga terlihat manik mata hitam itu.
"Tadi sebelum tidur kan udah makan, Sayang," ucap Arvin dengan suara yang lirih.
"La terus gimana? Aku gak bisa tidur kalau lapar begini!" keluh Fayre dengan suara yang manja, "aku lagi nyidam!" ujar Fayre.
"Ya sudah ayo kita ke dapur," ucap Arvin dengan suara yang terdengar parau itu.
"Gak! Aku gak mau!" sergah Fayre, "aku pengen beli sate telur puyuh di angkringan!" ujar wanita cantik itu.
Arvin membuka kelopak matanya lebar setelah mendengar permintaan itu. Ini bukanlah yang pertama kali Fayre meminta sesuatu di kala malam hari. Kalau sudah begini mau tidak mau Arvin pun harus melaksanakan perintah sebelum sang istri berubah pikiran.
"Gak usah banyak mikir! Memangnya kamu mau anak kita ileran gara-gara pengen sate telur puyuh tapi gak kesampaian!" sarkas Fayre tanpa mengalihkan pandangan dari wajah sang suami.
"Bisa aja bini gue ini! Yang pengen situ tapi yang dipakai alasan janin yang ada dalam perut. Astaga! Serasa dikerjain!" gerutu Arvin dalam hati setelah mendengar rengekan sang istri.
"Oke. Tenang dulu. Sekarang kamu tunggu di sini, aku akan keluar beli sate yang kamu inginkan." Pada akhirnya tidak ada pilihan lain selain bangkit dari atas ranjang dan berangkat menuju angkringan.
"Aku ikut!" ujar Fayre seraya turun dari ranjang.
"Eh, gak usah! Kamu di rumah saja karena angin malam gak baik untuk kesehatan, Sayang," cegah Arvin karena dia tidak mau terjadi sesuatu kepada anak dan istrinya.
Akan tetapi Fayre tidak perduli dengan larangan itu. Dia masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaian tidurnya serta mengambil jaket. Malam ini dia ingin berburu kuliner di angkringan untuk mencari makanan yang sesuai dengan seleranya, termasuk sate telur puyuh.
__ADS_1
"Sayang, kamu di rumah saja ya," bujuk Arvin setelah melihat sang istri duduk di depan meja rias.
"Ikut!" Fayre masih tetap pada pendiriannya.
Tidak ada pilihan lain selain memenuhi keinginan sang istri daripada harus berakhir dengan pertengkaran. Meski rasa kantuk masih berusaha menyerang kelopak matanya, sebisa mungkin ditahan demi kebahagiaan wanita yang sudah siap berangkat itu.
"Kamu mau pakai piyama seperti ini?" tanya Fayre setelah melihat Arvin mengambil jaket tanpa mengganti piyamanya, "gak! Aku gak mau kamu pakai seperti ini! Ganti yang keren dong!" protes Fayre setelah mengamati penampilan suaminya.
Arvin hanya bisa menghela napasnya saat menghadapi Fayre yang lebih cerewet. Padahal, dari dulu istrinya itu tidak banyak bicara ataupun berkomentar tetapi sejak hamil, dia berubah menjadi berisik dan juga cerewet.
"Sudah. Apalagi yang kurang?" tanya Arvin setelah memakai pakaian yang disiapkan oleh Fayre.
"Nah, gini dong! Cakep!" ujarnya dengan wajah yang sumringah.
Mereka segera keluar dari kamar dan berjalan menuju lantai satu agar sampai di garasi. Fayre melepas sepatunya agar tidak menimbulkan derap langkah yang bisa mengganggu tidur nyenyak mertuanya. Dia tidak mau jika sampai bu Linda mengetahui dirinya akan pergi di jam-jam seperti ini.
"Kita mau kemana ini?" tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangannya ke samping saat memasuki area kota. Suasana di sana cukup ramai meskipun saat ini hampir jam dua dini hari.
"Ke angkringan, Vin!" ujar Fayre penuh penekanan.
Tanpa bertanya lagi, Arvin mengarahkan setir mobilnya ke salah satu daerah yang biasa dipakai nongkrong hingga pagi. Di sana memang tempatnya pedagang angkringan. Kita bisa memilih menu di setiap gerobak yang ada di sana.
"Wah! Masih ramai ternyata!" Mata Fayre berbinar setelah melihat tempat tersebut masih ramai pengunjung.
"Kancingkan mantelmu dulu!" ujar Arvin saat melihat sang istri melepas seatbelt. Malam ini Fayre memakai jaket mantel dengan panjang sampai di atas lutut.
Tentu Fayre segera melaksanakan perintah dari sang suami. Semua ini demi kebaikannya karena angin malam tidak baik untuknya. Sepasang suami istri itu pun keluar dari mobil dan berjalan beriringan. Fayre bergelayut manja di lengan sang suami saat menyusuri setiap angkringan yang masih menyediakan sate telur puyuh sesuai dengan keinginan Fayre.
"Kamu cari tempat dulu lah! Aku mau pilih makanannya," ucap Fayre kepada Arvin.
__ADS_1
"Oke, aku tunggu di sana." Arvin menunjuk tempat kosong yang dekat dengan trotoar.
Dua piring berwarna putih penuh dengan berbagai macam sate yang tersedia di sana. Fayre sepertinya benar-benar kelaparan karena mengambil makanan sebanyak itu, padahal hanya makan berdua dengan suaminya.
"Bang, tolong nanti antar minumannya ke meja itu ya!" ucap Fayre sambil menunjuk tempat yang ditempati Arvin saat ini.
Arvin tertegun setelah melihat dua piring yang dipenuhi makanan ada di atas mejanya. Dia menatap tidak percaya wanita yang sedang duduk di sampingnya itu. Arvin hanya menelan ludah melihat begitu banyak makanan yang diambil oleh Fayre.
"Sayang, kamu yakin akan menghabiskan semua ini?" tanya Arvin.
"Habislah! Kan ada kamu yang membantu menghabiskan," ucap Fayre dengan senyum yang sangat manis.
Fayre menikmati waktu di sana sambil menikmati makanan yang sempat hadir dalam mimpinya. Sesekali Arvin menguap karena rasa kantuk kembali menghampiri meski secangkir kopi sudah menemaninya. Beberapa sate telur puyuh dan kulit ayam pun telah dilahap oleh Arvin dan sisanya Fayre yang menghabiskan.
"Pulang yuk! Aku udah kenyang nih!" ajak Fayre setelah semua makanan habis.
"Udah gak ileran lagi kan anak kita nanti?" Arvin memastikan alasan yang dipakai Fayre agar bisa di tempat ini.
"Enggak dong! Anak kita gak bakal ileran, kan ayahnya baik dan siaga." Fayre tersenyum manis sambil mengusap rahang kokoh sang suami.
Setelah menyelesaikan semuanya, Arvin dan Fayre beranjak dari tempatnya. Mereka kembali berjalan menyusuri tempat tersebut hingga sampai di tempat parkir. Tak lupa Arvin membukakan pintu untuk sang istri dan menutupnya kembali. Perjalanan pulang pun akhirnya dimulai. Arvin melihat ke samping karena keheningan begitu terasa di dalam mobil. Dia hanya ingin memastikan apa yang sedang dilakukan sang istri hingga tak bersuara.
"Ya ampun, cepat sekali dia tidurnya. Perasaan belum ada dua menit mobil ini melaju," gumam Arvin setelah melihat bagaimana kondisi sang istri saat ini, "dasar kebo! Eh, tapi aku kan cinta sama dia! Berarti cinta kebo dong!" gumamnya lagi.
"Aku ralat deh!" Arvin tersenyum sendiri karena kekonyolannya saat ini, "kamu bidadari paling cantik yang dikirim Tuhan untukku, Fayre." Arvin tersenyum tipis setelah melihat wajah tenang sang istri.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1