Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Bu Lisa terharu,


__ADS_3

"Mau minum?" tanya Raka di dekat telinga Dira.


Suara musik yang memekik di telinga membuat Raka harus mendekat saat bicara bersama Dira. Dia menawarkan untuk duduk di Sofa sambil menikmati minuman berakohol yang biasa dikonsumsi saat di sana. Akan tetapi Dira menolak tawarannya, karena masih asyik meliuk-liukkan tubuh mengikuti alunan musik di sana.


Setelah berkenalan, Raka menemani Dira berjoget di sana. Kebetulan pria bertubuh kekar itu hanya seorang diri di sana, tanpa Toni ataupun Fabi. Begitu pun dengan Dira, ternyata sekretarisnya tidak bisa datang ke tempat ini karena ibunya tiba-tiba sakit. Alhasil Dira menghabiskan waktunya bersama Raka di tempat yang indah ini.


Keduanya begitu menikmati alunan musik yang membuat tubuh otomatis bergerak. Dira sepertinya benar-benar ingin melupakan semua masalahnya. Dia menikmati waktu bersama Raka dengan senyum sumringah.


Setelah cukup lama berada di depan podium DJ, Dira memutuskan untuk mencari tempat duduk. Tentu setelah memesan minuman dengan kadar alkohol yang tidak terlalu tinggi. Akan tetapi sebelum duduk di sofa kosong, Raka menarik tangannya ke dalam ruang VIP yang biasa ditempati bersama teman-temannya.


"Lebih asyik minum di sini tanpa ada yang mengganggu," ucap Raka setelah duduk di sofa panjang. Mereka berdua duduk di sofa yang sama.


Beberapa menit kemudian, seorang Bartender mengantar pesanan Dira dan Raka. Setelah menyajikan minuman di atas meja, Bartender tersebut meninggalkan ruangan.


"Mari kita bersulang untuk perkenalan kita malam ini," ucap Raka seraya mengangkat gelasnya.


"Cheers!" Begitupun dengan Dira, wanita cantik itu mengangkat dan mendekatkan gelasnya dengan Gelas Raka.


Mengkonsumsi minuman berakohol sudah sering Dira lakukan meski dengan kadar yang paling rendah. Ia biasa minum di saat menjamu para klien. Aroma alkohol bukan lagi perihal mengherankan bagi gadis cantik tersebut.


Muda-mudi itu asyik bersenda gurau sambil menikmati minuman berakohol yang ada di atas meja. Sepertinya pengaruh alkohol mulai terasa dalam tubuh Dira. Pandangannya mulai kabur serta pembahasan mulai ngelantur. Raka hanya tersenyum setelah mendengar Dira merancau.


"Dia gadis frustasi!" gumam Raka seraya menatap Dira yang bersandar di sofa.


Menjadi pria licik bukan berarti Raka adalah pria brengsek yang suka memanfaatkan seorang wanita. Meski acap kali melakukan hubungan dengan seorang wanita, akan tetapi dia tidak mau jika hubungan itu bukan atas dasar suka sama suka, apalagi seperti kondisi Dira saat ini. Dia cukup sabar dalam menanti mangsa-mangsanya.

__ADS_1


"Mari aku antar pulang, kamu terlalu mabuk," ucap Raka setelah melihat Dira beranjak dari tempatnya saat ini.


"Serius?" tanya Dira dengan mata yang terlihat sayu, "aku membawa mobil sendiri," lanjutnya.


Raka hanya tersenyum sambil mengangguk pelan dan setelah itu, dia memapah tubuh Dira keluar dari ruang VIP. Sebelum meninggalkan gedung menyenangkan ini, tak lupa dia membayar semua tagihan malam ini. Raka memutuskan untuk mengantar Dira beserta mobilnya. Dia bisa pulang dengan naik taksi untuk mengambil mobilnya di depan club ini.


"Di mana alamat rumahmu?" tanya Raka setelah masuk ke dalam mobil Dira.


"Pondok Indah," jawab Dira dengan singkat. Ia sepertinya sudah tidak tahan lagi menahan semua rasa akibat pengaruh alkohol di tubuhnya.


Seperti yang diucapkan oleh Dira, Raka segera mengarahkan mobil tersebut ke alamat yang dimaksud oleh Dira. Mobil melesat menuju Pondok Indah dengan kecepatan tinggi.


Setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit, pada akhirnya Raka sampai di alamat yang dimaksud Dira. Setelah mobil yang dikendarainya berhenti di depan teras rumah, Raka segera keluar dan tak lupa membantu Dira keluar dari mobil. Ia memapah tubuh wanita cantik itu hingga sampai di depan pintu. Beberapa kali Raka menekan bel yang ada di sisi pintu hingga pada akhirnya terdengar suara kunci yang terputar.


"Boleh saya membawa masuk putri Anda dulu, nanti saya jelaskan," ucap Raka seraya menatap bu Lisa.


"Oh, ya, silahkan!" Wanita paruh baya itu buru-buru membuka kedua pintu itu, "tolong, sekalian bantu saya membawa dia ke kamar yang ada di lantai dua," ucap bu Lisa ketika Raka masuk ke dalam ruang tamu.


Bukan tanpa sebab beliau meminta bantuan pria asing itu. Siapa lagi yang akan membantu beliau memindahkan Dira ke kamarnya. Tidak mungkin beliau membiarkan putrinya tergeletak di ruang tamu.


"Terima kasih," ucap bu Lisa setelah mereka sampai di kamar Dira dan Raka berhasil membaringkan Dira di atas ranjangnya.


"Sama-sama. Saya permisi dulu," ucap Raka setelah membungkukkan tubuhnya di hadapan bu Lisa.


"Tunggu! Saya ingin bicara sebentar di ruang tamu," ucap bu Lisa.

__ADS_1


Pada akhirnya mereka berdua keluar dari kamar Dira dan berjalan menuju ruang tamu. Setelah melewati satu persatu anak tangga, mereka berdua sampai di ruang tamu. Bu Lisa mempersilahkan Raka duduk di salah satu sofa yang ada di sana.


"Maaf kalau boleh tahu, Anda ini siapa dan kenapa Dira bisa seperti itu?" Tanpa basa-basi bu Lisa bertanya kepada Raka.


"Saya Raka. Tadi saya bertemu dengan Dira di club malam ...," Raka menceritakan semua yang terjadi tanpa ada yang ditutupi, toh, dia dan Dira belum melakukan sesuatu di luar batas.


"Ya Tuhan, saya terharu sekali. Saya tidak menyangka jika masih ada pria baik yang memiliki ketulusan sepertimu," puji bu Lisa setelah mendengar sesuatu yang dilakukan Raka terhadap Dira.


"Kalau begitu saya permisi dulu, saya harus kembali ke club untuk mengambil mobil saya," pamit Raka setelah tersenyum manis kepada bu Lisa.


Wanita paruh baya itu sepertinya jatuh hati kepada Raka. Ada rasa bahagia yang menyelinap ke dalam hati saat bu Lisa membayangkan Raka yang akan menjadi pendamping Dira suatu saat nanti. Bu Lisa sampai meminta kartu nama Raka untuk disimpan, barangkali suatu saat nanti ada perlu dengan pria tersebut. Begitu dalih bu Lisa saat meminta kartu nama kepada Raka.


"Sekali lagi terima kasih sudah mengantar Dira pulang," ucap bu Lisa saat Raka harus pergi, karena taksi online yang dia pesan sudah sampai di depan.


"Sama-sama, Tante," ucap Raka sebelum pergi meninggalkan rumah megah tersebut.


Bu Lisa mengantar kepergian Raka sampai di teras rumah. Beliau terus mengamati punggung yang semakin hilang dari pandangan itu. Perasaan wanita paruh baya itu semakin bercampur aduk setelah kepergian Raka dari rumahnya.


"Dira, kenapa kamu menjadi seperti ini, Nak. Untung saja ada pria baik yang bersedia mengantarmu pulang. Mama tidak sanggup membayangkan jika kamu bertemu dengan orang yang salah. Pasti kamu sudah berakhir di ...." Bu Lisa tidak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Beliau hanya takut putrinya berakhir di atas ranjang bersama seorang pria brengsek.


...๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini semoga suka ๐Ÿ˜๐ŸŒน...


...Yaelah bu lisa! Gak inget tuh, yang pernah jual Fay ke tante Nella๐Ÿ™„...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2