
Dua bulan kemudian,
Perpaduan warna hijau dan kuning mendominasi background sebuah lukisan. Kanvas berukuran besar yang bertengger di spanram berubah menjadi warna-warni setelah tangan Fay bergerak lincah di sana. Lukisan ini akan dipersembahkan untuk putra pertama Rista. Ada foto bayi menggemaskan itu tertempel di atas spanram agar Fay tidak salah saat membuat sketsa wajah tersebut.
"Nyonya muda, Tuan Arvin sudah pulang," ucap seorang ART saat menghampiri Fay di teras belakang.
"Ah iya, Bi. Di mana dia sekarang?" tanya Fay tanpa mengalihkan pandangan dari kanvas.
"Tuan muda langsung ke kamar. Tadi beliau berpesan agar Nyonya membawakan capuccino ke kamar," ucap ART tersebut sebelum berlalu dari samping Fayre.
Fay beranjak dari tempatnya setelah menyelesaikan bagian mata yang tergambar di kanvas tersebut. Sebelum menemui Arvin di kamar, wanita berparas cantik itu pergi ke dapur terlebih dahulu untuk membuatkan pesanan sang suami.
Setelah berkutat di dapur selama beberapa menit, akhirnya Fay keluar dari sana dan berjalan menuju kamarnya. Satu persatu anak tangga telah dilalui hingga wanita cantik itu sampai di lantai dua. Pintu kamar pun akhirnya terbuka, akan tetapi Fay tidak menemukan Arvin di sana. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Mungkin Arvin sedang membersihkan diri, begitu pikir Fay.
Secangkir cappuccino hangat tersaji di atas meja atau lebih tepatnya di sisi ponsel Arvin. Tepat saat Fay akan meninggalkan meja tersebut, dia melihat ponsel itu bergetar, tanda ada sebuah pesan masuk. Mungkin karena penasaran, Fay mencoba untuk melihat siapa pengirim pesan yang terlihat di layar depan ponsel tersebut.
"AW?" Fay bergumam setelah membaca nama pengirim pesan tersebut, "siapa dia?" lanjutnya karena poto profil nomor tersebut hanya setangkai bunga mawar.
Fay meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempat asal. Dia mencoba berpikir positif agar bisa tenang dan tidak memikirkan praduga yang tidak penting. Wanita cantik itu pun mengayun langkah menuju walk in closet untuk menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami.
"Fay, kamu mau ikut aku gak?" tanya Arvin setelah menghampiri Fay di walk in closet.
"Kemana?" tanya Fay tanpa menatap Arvin, dia masih sibuk mengambil pakaian untuk sang suami.
"Ke rumahnya Toni, ada undangan makan malam perayaan anniversary pernikahan tante Winda," ucap Arvin sambil menggosok rambutnya dengan handuk.
"Eemm, boleh deh," jawab Fay setelah memikirkan ajakan tersebut.
__ADS_1
Fay menatap Arvin yang sedang memakai pakaiannya. Dia sedang menimbang untuk mempertanyakan nama pengirim pesan bernama 'AW'. Namun, semua itu dia urungkan karena tidak mau terjadi salah paham dengan Arvin nantinya. Sekali lagi Fay mengikis pikiran buruk yang terlintas di kepalanya.
"Tadi sepertinya aku mendengar ponselmu bergetar, Vin," ucap Fay setelah melihat Arvin menyisir rambutnya di depan meja rias.
"Ada pesan dari siapa?" tanya Arvin tanpa menatap Fay.
"Entahlah. Aku tidak melihatnya," ucap Fay sebelum meninggalkan Arvin di sana seorang diri.
Fayre berlalu dari ruangan yang dipenuhi banyak pakaian itu. Dia memilih menunggu Arvin di sofa sambil duduk manis dan memasang senyum. Tidak lama setelah itu, pria tampan itu pun ikut duduk di sisinya. Fay hanya mengamati bagaimana respon Arvin ketika membaca pesan masuk di ponsel.
"Dia biasa saja," batin Fay ketika melihat Arvin membuka pesan tersebut tanpa rasa takut ataupun terkejut, "berarti bukan siapa-siapa yang mengirim pesan," lanjut Fay.
Kini, Fay percaya jika pengirim pesan tersebut bukanlah sosok yang memiliki nama 'Adelia Winata', karena Fay tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan. Sikap biasa yang ditunjukkan Arvin menjadi penilaian utamanya, karena sejauh ini yang Fay ketahui, jika seorang pria menyembunyikan sesuatu, pasti akan gugup saat berada di sisi pasangannya. Sementara Arvin tidak masuk dalam ketegori itu.
"Kamu tidak siap-siap?" tanya Arvin setelah meletakkan ponselnya.
"Biasanya kan kamu lama banget kalau bersiap." Arvin mulai menuang cappuccino tersebut di atas lepek.
"Iya juga ya. Lagi pula aku belum tahu mau memakai dress yang mana." Fay nampak berpikir dan setelah itu dia berdiri dari tempat duduknya.
Pada akhirnya, Fay meninggalkan Arvin di sana. Dia kembali menuju walk in closet untuk menyiapkan segala keperluan untuk menunjang penampilannya nanti. Pintu almari khusus untuk menyimpan pakaiannya pun akhirnya terbuka lebar. Satu persatu pakaian yang tergantung di hanger mulai diperiksa oleh Fay.
"Pakai ini aja kali ya! Warnanya kalem dan terlihat elegan," gumam Fay saat melihat dress berwarna salem yang tergantung di sana.
...π π π π ...
Malam telah hadir setelah bola raksasa tenggelam di ufuk barat. Ribuan bintang menghiasi langit yang gelap gulita. Langit begitu indah malam ini tanpa mendung ikut campur di sana. Perjalanan menuju kediaman Toni pun sebentar lagi akan sampai, karena jalanan kota bebas dari kemacetan.
__ADS_1
"Ayo keluar," ucap Arvin setelah menghentikan mobilnya di halaman luas depan kediaman tante Winda.
"Berhati-hatilah karena sepertinya Raka hadir di sini," ucap Arvin setelah membukakan pintu untuk Fay. Pandangannya menangkap mobil putih milik sahabatnya itu.
"Ya. Aku pasti berhati-hati. Kamu pun harus begitu." Fay menatap Arvin dengan lekat. Dia hanya takut ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada suaminya.
Keduanya berjalan memasuki rumah tersebut sambil bergandeng mesra. Sepertinya, ada banyak tamu yang hadir di sana. Kedatangan mereka disambut oleh Toni dan ayahnya.
"Selamat datang, Bro," ucap Toni saat bersalaman dengan Arvin, "silahkan masuk, Tuan putri," seloroh Toni saat bersalaman dengan Fay.
Fay hanya tersenyum setelah mendengar ucapan Toni. Sesuai dengan perintah tuan rumah, mereka berdua segera masuk ke dalam rumah. Benar saja, ternyata di sana ada beberapa tamu yang sudah hadir. Mereka juga melihat Fabi hadir di sana, sementar Raka, batang hidunngnya saja tidak terlihat di antara para tamu yang hadir.
"Emm, Vin, aku mau ke toilet nih, di sebelah mana ya?" Fay celingukan karena tidak tahu di mana letak toilet rumah ini.
"Sepertinya di dekat pintu arah teras belakang ada toilet. Kamu ke sana saja. Aku mau menyapa Fabi dulu," ucap Arvin sambil menujuk arah yang dia maksud.
Fay hanya mengangguk pelan setelah mendengar penjelasan sang suami. Dia segera melangkah ke arah teras belakang sambil sesekali mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan tante Winda selaku tuan rumah. Fay tidak menemukan kehadiran dokter yang menangani program hamilnya, "kemana ya tante Winda?" Fay bergumam dalam hati ketika tidak menemukan sosok dokter kandungan tersebut hingga dia sampai di depan toilet. Cukup lama Fay berada di dalam toilet tersebut hingga terdengar suara ketukan dari luar.
"Maaf sudah menunggu lama," ucap Fay setelah keluar dari kamar mandi dan melihat ada orang lain yang sudah menunggu. Dia harus menbenarkan pengait bungkus teletubbies yang terlepas. Hal itu membuatnya harus melepas dress yang dikenakannya terlebih dahulu.
Saat bersiap kembali ke tempat sang suami berada, Fay tidak sengaja melihat tante Winda berdiri di sudut taman dengan seseorang. Sepertinya Fay pun tidak asing dengan suara pria yang berdiri di hadapan tante Winda. Hanya punggung yang tertutup jas biru navy itu yang bisa dilihat oleh Fay.
"Sepertinya suara itu adalah suara Raka. Tapi untuk apa dia bicara dengan tante Winda di tempat sepi?" Fay bergumam dalam hati.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1