
Beberapa bulan kemudian,
"Happy Anniversary, Sayang," ucap Fay seraya menyodorkan cake black forest di hadapan Arvin.
Senyum merekah terbit dari bibir Arvin setelah melihat kehadiran sang istri di ruang kerjanya. Kesibukan di kantor semakin menjadi hingga membuat Arvin lupa jika hari ini adalah ulang tahun pernikahannya yang pertama. Pria tampan itu segera beranjak dari tempat duduknya setelah melihat lilin semakin meleleh.
Lilin angka satu berwarna merah itu pun akhirnya padam setelah mereka berdua meniup secara bersama. Kedua bibir itu pun tersenyum lebar karena merasa bahagia. Arvin mendaratkan kecupan mesra di kening sang istri cukup lama.
"Aku tidak pernah menyangka jika waktu secepat ini berlalu. Aku terus merasa jika kita adalah sepasang pengantin baru," ucap Arvin setelah meletakkan cake tersebut di atas meja kerjanya.
"Ya, kita memang pengantin baru dan akan tetap baru sampai kapanpun." Fay tersenyum manis setelah menatap wajah tampan di hadapannya.
"Apa yang kamu harapkan di pernikahan kita untuk ke depannya?" tanya Arvin seraya tersenyum penuh arti.
"Aku hanya ingin hidup bahagia bersama kamu dan anak-anak kita nanti," jawab Fay seraya mengusap rahang kokoh milik Arvin.
"Kalau begitu kita harus rajin membuat adonannya, biar cepat jadi," seloroh Arvin hingga membuat Fay berdecak kesal.
Fay menatap telaga bening yang ada di hadapannya saat ini. Ia tidak pernah menyangka jika pada akhirnya akan jatuh ke dalam lautan cinta sang suami. Pria yang dulu sempat membuatnya terluka itu telah berhasil mencuri semua hatinya. Untuk beberapa menit lamanya, tidak ada pembicaraan yang terdengar di sana. Sepasang suami istri itu hanya diam sambil menyelami telaga bening masing-masing.
"Aku ingin liburan," ucap Fay setelah teringat jika ingin menyusul mertuanya ke Swiss, "aku ingin kita mengunjungi Papi dan Mami," ucapnya lagi.
Rindu akan kehangatan kasih dan sayang kedua mertuanya, membuat Fay ingin pergi ke sana. Pasalnya, kedua orang tua itu sudah memutuskan untuk tinggal di sana sampai waktu yang tidak bisa ditentukan. Mereka betah tinggal di pedesaan asri yang ada di kaki Gunung Eiger. Bahkan, pak Bram sampai membuka usaha coffe shop di sana bersama bu Linda. Mereka berdua benar-benar menikmati hidup santai di Swiss. Bu Linda sudah mengatakan jika beliau akan kembali ke Indonesia suatu saat nanti setelah Fay hamil anak pertama.
"Oke, demi istriku yang sangat cantik ini, aku akan meluangkan waktu untuk mewujudkan keinginannya," ucap Arvin dengan tatapan penuh arti, "aku akan meminta pak Rofan mengatur jadwal keberangkatan kita." Kedua sudut bibir Arvin tertarik ke dalam setelah mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang," ucap Fay sebelum mendaratkan kecupan mesra di bibir suaminya itu
Perayaan sangat sederhana yang dilakukan di dalam ruang kerja Arvin berlangsung lama. Mereka bersenda gurau hingga terdengar gelak tawa keduanya di sana. Mereka mengingat kembali memori diawal pernikahan. Arvin terkekeh dibuatnya.
"Kalau menikah rasanya seindah ini, pasti sudah aku lakukan sejak dulu. Aku akan menyusulmu ke Amerika dan membawa kabur ke Indonesia," ucap Arvin dengan tangan yang tak henti membelai rambut panjang Fay.
"Aiih, kalau aku tahu rasanya punya suami seenak ini, pasti aku sudah—" Fay menghentikan ucapannya karena Arvin membungkam mulutnya.
"Apa hemmm? apa? Sudah apa? Melakukan hal itu dengan bule Amerika?" Arvin melebarkan matanya saat menerka kelanjutan ucapan sang istri.
Tubuh itu bergetar karena harus menahan tawanya. Ekspresi wajah Arvin saat ini sangat lucu menurut Fay. Padahal, ia belum menyelesaikan ucapannya, akan tetapi suaminya itu sudah menebaknya terlebih dahulu.
"Awas aja kalau berani membayangkan sanca yang lebih besar!" sungut Arvin setelah melepaskan tangannya dari mulut Fay.
"Selamat siang, Tuan muda. Maaf jika kehadiran saya menganggu," ucap Rofan setelah masuk ke dalam ruangan Arvin.
"Silahkan duduk, Pak," ucap Arvin seraya menunjuk sofa tunggal yang ada di dekatnya.
Arvin tahu betul jika kedatangan Rofan pasti membawa berita penting. Apalagi, setelah Rofan membuka map hijau yang diletakkan di atas meja. Setelah membaca sekilas isi berkas yang ada di dalam map tersebut, Rofan menatap Arvin.
"Ada kabar yang datang dari keluarga bu Lisa," ucap Rofan tanpa mengalihkan pandangan dari wajah tampan Arvin.
Fay mengubah posisinya menjadi tegak setelah mendengar nama nenek sihir itu disebut. Ia pun tertarik untuk mendengarkan berita tersebut. Fay harus memasang telinga dengan benar agar tidak salah menangkap informasi.
Berita yang disampaikan oleh Rofan cukup membuat Fay tercengang, karena bu Lisa menjual beberapa aset milik pak Hardi, diantaranya yaitu tanah dan satu unit apartment di daerah Kemang.
__ADS_1
Rofan menyampaikan jika perusahaan yang dipegang Dira mengalami masalah yang besar. Kabarnya, modal dan uang perusahaan dipakai oleh Dira, selaku owner perusahaan tersebut.
"Jika Tuan muda bersedia, kita bisa membeli perusahaan tersebut. Sepertinya bu Lisa akan melepaskannya, mengingat mereka sedang mengalami kerugian yang sangat besar," ucap Rofan setelah menjelaskan semuanya.
"Apa Pak Rofan tahu penyebab kerugian tersebut?" tanya Arvin setelah selesai membaca berkas tersebut.
"Menurut mata-mata kita yang ada di sana, penyebab kerugian itu berasal dari putra pertama bu Lisa yang bernama Reno. Setelah orang-orang kita mencari tahu, Reno memang sering pergi Singapura untuk melakukan j*di dengan nilai fantastis. Kabar burung yang saya terima, Reno kalah hingga lima milyar."
Penjelasan itu berhasil membuat Fay terkejut. Ada rasa tidak terima ketika dirinya tahu hasil kerja keras ayahnya selama ini dihambur-hamburkan oleh pria brengsek seperti Reno. Namun, ia sendiri tidak bisa berbuat apa-apa karena semua itu bukan miliknya.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu berminat dengan semua aset itu? Kalau kamu mau aku bisa mendapatkan perusahaan ayahmu," tanya Arvin seraya menatap Fay dengan intens.
Fay hanya diam mendapat pertanyaan itu dari Arvin. Kali ini ia harus berpikir dua kali sebelum memutuskan perihal ini, "tidak. Aku tidak mau dengan semua aset itu. Biarkan saja bu Lisa menjualnya ke orang lain. Aku tidak mau berurusan dengan mereka meski itu adalah harta ayahku. Lebih baik kamu fokus dengan perusahaan ini saja. Untuk apa kita membeli perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan." jawab Fay dengan tegas.
Arvin pun mengikuti keputusan istrinya. Dia mengatakan hal yang sama kepada pak Rofan agar tidak membeli apapun aset mertuanya. Setelah selesai membahas perihal tersebut, akhirnya Rofan pamit kembali ke ruangannya. Sementara Fay hanya termenung dengan pikiran yang melalang jauh entah kemana.
"Tuhan menunjukkan kuasanya saat ini. Harta yang dirampas bu Lisa pada akhirnya dihabiskan oleh putra kesayangannya sendiri." Fay bergumam dalam hati.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...Hay semua😍BTW othor baru publish karya baru nih😊Kuy baca juga karya baru othor🙂...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1