
Langit cerah telah berubah menjadi gelap gulita setelah sang mentari kembali ke peraduan. Penunjuk waktu sudah berada di angka sepuluh malam. Namun, Arvin tak kunjung kembali sejak menghadap kedua orang tuanya setelah makan malam bersama. Fayre penasaran ada apa kiranya hingga pembicaraan itu tak kunjung selesai.
"Apa perlu aku menyusul Arvin, ya?" Fayre bergumam sambil mondar-mandir di sisi ranjang.
Helaan napas berat terdengar di sana setelah Fayre duduk di tepi ranjang. Dia cemas karena takut pak Bram emosi lagi kepada Arvin. Kali ini bukan Arvin yang dikhawatirkan, melainkan kesehatan pak Bram sendiri.
Fayre termenung di sana saat memikirkan bagaimana rencananya setelah ini. Jujur saja, dia sudah tidak sabar lagi untuk melihat hasil laboratorium obat dan sperm* yang sudah dia kirim. Sampai saat ini Arvin belum tahu akan hal itu, karena Fayre belum sempat berbicara kepada sang suami dalam suasana hangat.
Ceklek.
Pintu kamar terbuka lebar dan tak lama setelah itu pintu kembali tertutup. Arvin hanya diam saja di tempatnya sambil melihat Fayre yang termenung di tepi ranjang. Perasaannya menjadi tak karuan setelah tahu bagaimana perjuangan wanita yang terlihat lemah itu. Arvin tidak menyangka jika Fayre akan melakukan semua ini untuk mempertahankan rumah tangganya. Ya, dia pun merutuki kebodohannya sendiri karena terlalu hanyut dalam ketakutan yang tidak pasti. Hanya satu hal yang kini tersisa dalam diri Arvin—penyesalan—dia pun segera berjalan ke tempat Fayre berada untuk meminta maaf atas semua kesalahannya.
"Fayre, aku minta maaf atas semua yang sudah terjadi. Aku sangat menyesal telah melakukan semua ini kepadamu. Tolong beri pengampunanmu," ucap Arvin ketika tiba-tiba saja duduk bersimpuh di lantai. Kepalanya tertunduk hingga wajahnya menyentuh lutut mulus sang istri.
Tentu saja, apa yang dilakukan Arvin saat ini terlalu berlebihan bagi Fayre. Dia terkejut atas apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini, terlebih setelah melihat tubuh itu bergetar. Lututnya pun terasa basah hingga membuat Fayre mengerutkan keningnya.
"Kenapa dia?" Fayre bergumam dalam hati setelah melihat apa yang sedang dilakukan oleh Arvin.
"Fay, tolong jangan diam seperti ini. Aku benar-benar menyesal karena sudah membuatmu menangis. Aku menyesal atas semua yang sudah terjadi di antara kita," ucap Arvin dengan suara yang bergetar. Sepertinya, air mata turun dengan deras hingga lutut mulus itu terasa semakin basah.
__ADS_1
Fayre tertegun setelah mendengar semua ucapan Arvin. Dia sendiri tidak menyangka jika Arvin akan melakukan semua ini. Bukannya merasa iba, Fayre tergelitik untuk menertawakan sikap Arvin saat ini. Sekuat tenaga Fayre harus menahan tawanya agar tidak meledak saat ini juga.
"Ah, lebih baik aku pura-pura saja. Enak saja kalau dia bisa bernapas lega setelah melakukan semua ini. Oke, aku harus bisa berakting sedih agar Arvin merasa bersalah. Dia harus dihukum!" Fayre bergumam dalam hatinya setelah ide jahat itu muncul.
"Duh! Suamiku lucu banget sih kalau lagi melow gini!" Lagi dan lagi Fayre hanya bisa bergumam dalam hati.
Arvin menegakkan wajahnya. Benar saja, wajanya menjadi merona dengan mata sembab. Sepertinya pria tampan itu tidak bisa menahan segala sesak di dalam dada. Keadaan ini membuat Fayre menjadi tidak tega setelah melihat penyesalan yang begitu dalam dari sorot mata itu.
Ya, memang seperti itulah seorang wanita. Meski merasakan sakit, hatinya terlalu lembut ketika melihat sang suami bersedia minta maaf atas semua kesalahannya.
"Fay, apakah kamu akan meninggalkan aku setelah tahu jika aku tidak bisa memiliki keturunan?" tanya Arvin sambil menggenggam tangan Fayre.
Bukannya menjawab, Fayre malah tergugu setelah mendengar pertanyaan itu. Dia merasa geram karena Arvin masih saja percaya dengan hasil dari dokter Winda yang tidak jelas kebenarannya itu. Fayre semakin tergugu karena tidak tahu harus bagaimana lagi.
"Percaya diri sekali kamu, Vin! Aku tidak menangisi itu, bodoh! Aku hanya tidak tahu saja harus bersikap bagaimana di hadapanmu! Kenapa sih, Vin? Kenapa kamu begitu percaya dengan semua ini!" Fayre hanya bisa mencibir sang suami dalam hatinya.
Fayre mengusap air mata yang membahasi pipinya. Lantas, dia memberikan kode kepada Arvin agar beranjak dari tempatnya saat ini. Fayre menepuk tempat yang ada di sisinya seraya menatap Arvin penuh arti. Pria itu pun menurut begitu saja dengan perintah Fayre.
"Bagaimana kalau setelah ini aku mengajukan gugatan cerai atau mencari pria lain yang bisa memberiku anak?" tanya Fayre setelah beradu pandang dengan Arvin.
__ADS_1
Pria itu hanya bisa menggeleng setelah mendengar pertanyaan yang tidak pernah disangka sebelumnya, "tidak! Aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi!" Arvin menolak keras permintaan sang istri.
"Lalu kenapa kamu melakukan semua itu kepadaku, bodoh!" sarkas Fayre sambil memukul paha Arvin dengan keras. Mungkin inilah bentuk kekesalan yang sudah beberapa hari ditahan oleh Fayre.
"Kamu membiarkan aku berjuang sendiri! Aku harus mondar-mandir sendiri mencari informasi! Sedangkan kamu apa hmmm? Kamu gak ada usaha untuk mempertahankan aku!" ujar Fayre dengan tangan yang tak henti memukul lengan ataupun paha Arvin. Rahangnya pun terlihat mengeras saat melampiaskan semua perasaannya.
"Aku hanya takut, Fay. Aku sangat takut kamu kecewa dan meninggalkan aku. Meski pada akhirnya aku yang berusaha meninggalkanmu," sesal Arvin dengan wajah yang tertunduk.
"Aku sangat takut kamu mengetahui kebenaran atas keadaan yang menimpaku, Fay. Aku sangat takut," gumam Arvin dengan suara yang lirih.
"Lalu untuk apa syarat yang kamu ajukan sebelum menikah dulu? Katanya kamu tidak ingin kita berpisah tapi kamu sendiri yang ingkar. Kamu meminta padaku untuk terbuka dan jujur tapi kenapa kamu yang menyembunyikan semua ini?" Fayre mengungkit kembali semua ucapan Arvin sebelum pernikahan ini berlangsung.
Mungkin, tidak ada kata-kata lagi yang sanggup diucapkan oleh Arvin. Dia hanya diam saja saat Fayre mempertanyakan tentang perjanjian tidak tertulis yang sudah disepakati kala itu. Rasa sesal semakin membelenggu hati dan jiwa pria tampan itu.
"Sekali lagi maafkan aku. Ya, ku akui memang semua ini salahku karena tidak mau jujur kepadamu, Fay," sesal Arvin tanpa berani menatap Fayre.
Tanpa diduga, Fayre tiba-tiba saja menggigit lengan Arvin hingga sang empu berteriak kesakitan. Lengan putih itu terlihat merah karena ulah Fayre yang sedang melampiaskan emosinya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana memulai untuk merancang rencana selanjutnya—membongkar kedok dokter Winda—karena hasil laboratorium belum keluar.
"Lalu, apa kamu percaya dengan semua diagnosa dokter Winda?" tanya Fayre dengan tatapan yang tak lepas dari wajah sang suami.
__ADS_1
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...