Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Tidak tahu malu!


__ADS_3

Satu minggu kemudian,


Segala persiapan liburan ke Swiss telah selesai. Pasport dan segala perlengkapan administrasi telah siap beserta tiket pesawat. Baik Arvin ataupun Fay, mereka tidak memberitahu kedua orang tuanya jika akan berkunjung ke sana. Rencana keberangkatan mereka adalah besok pagi sekitar pukul tujuh dari bandara Soekarno Hatta.


"Apa barang-barangmu sudah siap? Tidak ada yang ketinggalan?" tanya Arvin setelah melihat Fay keluar dari walk in closet.


"Sudah. Aku hanya membawa beberapa barang saja. Nanti kalau butuh kita beli di sana," jawab Fay seraya duduk di sofa.


Sore itu, Fay menemani Arvin yang sedang berkutat dengan laptop, membalas satu persatu e-mail yang masuk. Sesekali pria tampan itu menjawab pertanyaan Fay. Tepat saat Arvin menutup laptopnya suara pintu kamar diketuk beberapa kali.


"Ada apa kira-kira?" Fay mengernyitkan keningnya. Ia tahu bahwa itu adalah ART yang bekerja di sana.


"Buka saja dulu," ucap Arvin seraya menatap pintu.


"Ada apa, Bi?" tanya Fay setelah membuka pintu.


"Ada tamu yang mencari Nyonya muda, namanya Lisa," ucap ART tersebut.


Fay tertegun setelah mendengar nama keramat yang disebutkan oleh wanita yang ada di hadapannya. Ia memberitahu ARTnya agar membuatkan minum untuk menjamu ibu sambung rasa nenek sihir itu. Lantas, ia mengajak Arvin untuk menemui bu Lisa.


"Kira-kira ada apa dia datang ke sini?" tanya Fay saat dirinya dan Arvin keluar dari kamar.


"Ah, aku tahu ... mungkin dia rindu berat denganmu, Fay," kelakar Arvin hingga membuat Fay berdecak kesal.


"Gak sudi!" sarkas Fay dengan tatapan mata sinis.

__ADS_1


Arvin mengulum senyum setelah mendengar ucapan sang istri. Langkah demi langkah pun telah dilalui sepasang suami istri itu hingga sampai di lantai satu. Mereka mengayun langkah menuju ruang tamu, di mana ada bu Lisa yang sedang menunggu.


"Selamat sore," sapa Fay setelah duduk di sofa yang tak jauh dari tempat bu Lisa berada.


"Sore," ucap bu Lisa singkat. Sepertinya wanita itu tetap pada sikap yang sombong seperti sebelumnya.


Fay tak melepaskan pandangan dari sosok yang dulu pernah menyayanginya itu. Ia mengamati gerak-gerik bu Lisa untuk menerka apa kiranya yang membuatnya datang ke rumah ini. Fay semakin penasaran karena bu Lisa hanya diam saja dengan tatapan lurus ke depan. Wanita paruh baya itu seakan sedang merangkai kalimat yang pantas diucapkan.


"Maaf sebelumnya, apa yang membawa Anda datang ke rumah saya?" Akhirnya Fay mengawali obrolan karena bu Lisa tak kunjung bicara.


"Ini bukan rumahmu. Ini adalah rumah mertuamu!" Terlihat sekali jika bu Lisa tetap membenci Fay.


Apa yang diucapkan bu Lisa berhasil membuat Arvin terbelalak. Jujur saja ia tidak terima dengan kalimat yang diucapkan oleh wanita itu, "tolong jaga sikap di rumah ini! Anda adalah tamu, jadi sudah seharusnya Anda menghormati pemilik rumah ini!" Kali ini Arvin angkat bicara. Ia tidak mau Fay tersakiti gara-gara wanita tidak tahu malu itu


"Oke, baiklah. Tanpa basa-basi, saya datang ke sini hanya untuk menawarkan kerja sama antar perusahaan. Perusahaan ayahmu, butuh suntikan dana yang besar!" ucap bu Lisa seraya menatap Fay penuh arti.


"Terus? Apa hubungannya dengan saya?" Fay merasa geli melihat wanita tak tahu malu itu.


"Itu adalah perusahaan yang dirintis ayahmu. Apa kamu ingin perusahaan itu hancur dan perjuangan ayahmu selama ini sia-sia begitu saja?" ujar bu Lisa seraya menatap anak sambungnya.


Fay mencengkram tangan Arvin ketika melihat suaminya itu akan bertindak. Fay ingin Arvin membiarkan bu Lisa mengutarakan semua maksudnya datang ke rumah ini.


"Kenapa hanya diam saja? Apa kamu ingin perusahaan itu hancur begitu saja? Ingatlah setiap perjuangan berat ayahmu membesarkan perusahaan itu!" Bu Lisa mencoba memprovokasi Fay agar hatinya terenyuh ketika beliau menyebut itu adalah perusahaan pak Hardi.


Fay hanya tersenyum mendengar semua itu. Satu hal yang Fay tahu, urat malu wanita paruh baya itu benar-benar sudah terputus. Jujur saja, ia tidak pernah menyangka jika bu Lisa akan datang menemuinya hanya untuk mengemis dengan hormat.

__ADS_1


"Katakan saja jika ibu yang meminta bantuan! Tidak usah membawa nama ayah saya," ucap Fay dengan tenangnya. Ia menyilangkan kakinya dengan santai tanpa melepas pandangan dari wajah yang sedang bersemu merah.


"Memangnya kenapa jika aku yang meminta bantuan? Suamimu kaya raya, membantu perusahaan mertuanya beberapa persen saja tidak akan membuatnya miskin. Anggap saja itu untuk membalas jasaku ketika merawatmu sejak kecil," ucap bu Lisa tanpa rasa malu sedikitpun.


Terkadang, rasa malu akan hilang ketika seseorang terhimpit masalah yang besar.


Mungkin, inilah perumpamaan yang cocok untuk bu Lisa. Wanita paruh baya itu merelakan harga dirinya hancur di hadapan Fay demi kedua anaknya. Apalagi, saat mengatakan hal itu beliau tetap pada sikap yang angkuh dan tidak sopan. Lalu bagaimana Fay bisa luluh dan memberikan bantuan kepadanya?


"Semua harta orang tua saya sudah lebih dari cukup untuk membayar biaya jasa Anda selama merawat saya. Bahkan, saya sendiri sebagai anak yang paling berhak mendapatkan semua peninggalan ayah pun tidak mendapatkan apa-apa." Fay menatap bu Lisa dengan senyum smirk.


"Anda dan kedua anak Anda seharusnya tidak memiliki hak atas semua harta ayah saya. Akan tetapi Anda bisa mendapatkan semuanya dengan mudah. Sekarang perusahaan itu hancur dan beberapa aset ayah saya sudah terjual. Lantas kenapa Anda mendatangani saya dan meminta bantuan? Apa Anda sudah kehilangan rasa malu? Oh, ternyata warisan ayah saya tidak cukup ya untuk membayar hutang putra kesayangan Anda yang kalah j*di itu?" sarkas Fay dengan sikap yang sangat tenang. Bahkan, ia bisa tersenyum manis di hadapan wanita tersebut.


Cukup dulu saja Fay ditindas bu Lisa. Kali ini ia tidak mau lagi mengalah kepada ibu sambungnya itu. Sudah cukup semua pengorbanannya selama ini, ia tidak mau lagi keluarga Bramasta ikut campur masalah bu Lisa.


Wajah bu Lisa semakin merah padam setelah mendengar semua ucapan Fay. Beliau tidak menyangka jika wanita yang dianggapnya lemah itu sekarang telah berubah. Sungguh, bu Lisa terkejut setelah tahu jika berita tentang Reno sudah sampai di telinga Fay. Semua rencana yang sudah dirancang kini tiba-tiba saja hilang entah kemana.


"Sudah cukup Anda menganggu saya! Saya rasa semua pemberian ayah lebih dari cukup untuk membiayai hidup Anda dan kedua anak Anda. Saya tidak akan diam saja jika Anda berani mengusik keluarga ini." ujar Fay dengan tatapan penuh amarah.


"Jika Anda berani mengusik saya dan keluarga ini, jangan sampai menyesal jika semua yang anda miliki saat ini satu persatu akan musnah! Saya gadis yang dulu Anda anggap lemah, akan bertindak jika Anda berani melakukan hal licik!"


Arvin hanya tersenyum ketika mendengar semua yang diucapkan oleh Fay. Ada rasa bahagia yang menyelinap dalam hati ketika melihat perubahan sikap Fay yang tegas kepada ibu sambungnya itu.


"Bagus istriku! Lakukan saja apa yang ingin lakukan! Aku selalu mendukungmu. Jadilah wanita yang kuat!" ujar Arvin dalam hati nya setelah melihat bu Lisa pergi dari rumah ini tanpa pamit atau menjawab semua sarkasme yang dikatakan oleh Fay.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️🌹...

__ADS_1


__ADS_2