
Suara gelak tawa para pria tampan menggema di ruangan bernuansa putih itu. Masalah yang sempat membuat hati Arvin bergemuruh mendadak surut. Kehadiran Fabi dan Toni di sana berhasil membuatnya melupakan kata-kata menohok yang pernah diucapkan oleh Raka tentang bagaimana Fayre kala itu.
"Gimana, Bro? Lancar gak tuh proyek jalan tolnya," celetuk Toni setelah mereka semua terdiam, "jangan bilang lu lupa caranya masuk!" ujar Toni dengan tatapan menyelidik.
"Gile lu! Mana mungkin gue lupa. Apalagi, punya bini cantik seperti dia. Gercep dah!" jawab Arvin dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat bahagia.
Mendengar hal itu, membuat Raka semakin kesal, karena usaha yang dilakukannya kala itu tidak membuahkan hasil. Seharusnya rumah tangga Arvin tidak baik-baik saja, setelah temannya itu mengetahui jika istrinya pernah bekerja di club malam. Raka kembali mengepalkan tangannya setelah melihat gurat-gurat bahagia di wajah Arvin.
"Wah ... wah ... pantesan lu kagak pernah nongkrong bareng kita lagi! Ternyata di rumah mainannya lebih seru," seloroh Fabi dengan diiringi gelak tawa yang menggelegar.
"Yap, itu salah satunya yang bikin gue malas keluar. Ternyata benar nyokap gue, punya istri itu enak. Nyesel dah gue jadi single sampai umur tiga puluh tahun." Arvin sengaja mengatakan semua itu di hadapan Raka, karena ia ingin mengetahui bagaimana respon temannya itu.
"Gue merasa beruntung dijodohkan sama Fayre. Dia benar-benar polos, Bi. Lu kalau cari istri mending yang kek gitu, Bi. Biar hidup lu makin bahagia," ucap Arvin seraya menatap Fabi penuh Arti.
"Ogah! Gue gak suka yang polos! Males ngajarin! Gue tuh suka yang udah pro!" ucap Fabi seraya tersenyum lebar.
"Eh, bukannya istri lu itu pernah kerja di club malamnya tante Nella, ya?" sahut Raka dengan ekspresi wajah sok polos.
Rasanya, Arvin ingin sekali menyerang temannya itu. Sudah jelas jika Raka sangat tidak suka dengan pernikahannya. Bahkan, Arvin sendiri tidak tahu dengan pasti apa penyebab Raka menjadi seperti itu. Apa mungkin Raka sempat suka dengan Fayre? Begitulah praduga Fay saat ini.
"Ya, istri gue pernah kerja di sana dua kali. Dia sengaja dijerumuskan ke sana oleh ibu tirinya. Akan tetapi, dia tidak pernah tuh berhubungan dengan pria manapun seperti yang dikatakan pemilik club itu," terang Arvin tanpa menatap teman-temannya. Ia masih ingat dengan jelas bagaimana Raka dan tante Nella mempengaruhinya kala itu.
Toni dan Fabi menelan ludah setelah mendengar jawaban Arvin. Mereka tidak enak hati karena pada saat itu, mereka pun ikut mengatakan jika memang Fay pernah mengantar minum ke ruangannya.
__ADS_1
"Bro, sorry banget ya, kalau informasi kala itu membuat lu terluka. Tapi gue gak bohong, Bro, perihal istri lu pernah mengantar minum ke room kita. Kalau selebihnya gue memang kagak tahu," ucap Fabi seraya menatap Arvin dengan lekat. Sungguh, Ia merasa sungkan dengan Arvin.
"Udahlah, Bro, kita gak usah membahas itu lagi. Sekarang yang terpenting, rumah tangga gue baik-baik saja dan bahagia. Gue udah gak mau mengungkit lagi tentang masa lalu istri gue." Arvin menatap Fabi dengan diiringi senyum tipis.
"Eh, Bro. Tapi elu bisa kan jebol gawang?" sahut Toni yang penasaran dengan kegiatan intim Arvin.
"Bisa lah! Udah berdarah-darah dia!" jawab Arvin dengan bangganya.
Sebenarnya, Arvin tidak mau mengumbar privasinya seperti tadi. Akan tetapi demi membalas pria yang tak banyak bicara di sisi Toni itu, Arvin harus mengatakan semua ini. Ia hanya ingin menunjukkan kepada Raka jika rumah tangganya tidak bermasalah karena hasutan. Arvin tidak mau jika teman-temannya tahu bahwa Fayre sempat kabur dari rumah.
"Oh, ya. Gue tadi ke sini mau mengantar undangan buat lo, Vin. Gue sih berharap lu datang sama istri lu, saat weekend nanti di Bali," ucap Fabi seraya memberikan dua lembar undangan kepada Arvin.
Tak berselang lama, mereka bertiga pun pamit pulang karena harus kembali ke pekerjaan masing-masing. Arvin mengantar mereka bertiga hingga keluar dari lobby perusahaan. Tatapan mata pria tampan itu tak lepas dari ketiga mobil temannya yang keluar dari pintu gerbang.
Cukup lama Arvin berkacak pinggang di lobby depan, hingga pada akhirnya ia melihat Rofan berjalan dari tempat parkir. Terlintas sebuah ide untuk melakukan suatu hal yang membuat Fay semakin tertarik dengannya.
"Selamat siang, Tuan muda," sapa Rofan setelah sampai di hadapan Arvin.
"Selamat siang. Emm, pak Rofan bisa membantu saya menyiapkan makan malam romantis bersama istri saya?" tanya Arvin tanpa basa-basi.
"Kalau boleh tahu kapan waktu yang Tuan muda inginkan?" tanya Rofan setelah mendengar perintah itu.
"Kalau bisa nanti malam," jawab Arvin. Lantas, ia menyebutkan apa saja yang harus dilakukan asistennya itu.
__ADS_1
"Baik. Semua akan saya persiapkan. Sesuai dengan permintaan Tuan muda," ucap Rofan sebelum Arvin berlalu dari hadapannya.
Arvin berharap jika rencananya berjalan lancar. Ia harus menyatakan bagaimana perasaannya kepada Fay. Ia tidak mau menunda lagi untuk menahan segala rasa yang ada dalam hati. Kali ini, ia harus mengikuti saran dari dokter Zeda agar bisa memiliki Fay seutuhnya.
"Fay!" ujar Arvin setelah masuk ke dalam ruang pribadinya. Ia melihat Fay sedang tertidur pulas di atas ranjang.
Arvin melangkahkan kakinya hingga sampai di sisi ranjang. Lantas, ia duduk di tepi ranjang seraya menatap wajah tenang sang istri. Arvin tidak menyangka saja jika pada akhirnya ia memiliki istri seperti Fay. Ia merasa beruntung meski terkadang kesulitan saat menghadapi sikap Fay yang tidak menentu.
"Ternyata kamu sangat cantik, Fay," gumam Arvin setelah mengamati wajah tenang itu cukup lama.
Keheningan di dalam kamar itupun telah membuat Arvin terbuai. Setelah cukup lama membelai rahang dan pipi mulus itu, akhirnya Arvin memberanikan diri mengecup kening Fay. Begitu, melihat sang istri hanya diam saja, Arvin memberanikan diri untuk mengecup bibir berwarna merah muda itu.
"Aduh!" pekik Arvin saat merasakan gerakan tangan Fay yang keras. Istrinya itu sedang menggeliat dan mengubah posisinya tanpa membuka kelopak matanya.
Inilah yang membuat Arvin semakin heran. Selama ini ia belum pernah melihat Fay bersikap jaim. Fay selalu menjadi dirinya sendiri meskipun terkadang tingkah lakunya membuat Arvin menjadi geram.
"Harusnya si Fay ini tidur di box bayi! Kaki dan tangannya sama saja! Gak bisa diem kalau tidur! Ya kali, kalau tangannya gerak-gerakin si sanca kan lebih enak dan bermanfaat. Nah, ini tadi, malah buat nyerang pipiku!" gerutu Arvin saat mengamati posisi Fay saat ini.
...🌹Selamat membaca🌹...
...Aduh si Raka, mau apa sih dia itu! Cocok nih buat jadi mantunya bu Lisa🤭...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1