Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Berbanding terbalik,


__ADS_3

Suara dentingan sendok dan garpu terdengar di ruang makan yang ada di kediaman almarhum pak Hardi. Kedua wanita penghuni rumah megah tersebut sedang menikmati makan malam berdua. Keduanya hanya diam selama makan malam berlangsung.


"Oh, ya, Dir. Bagaimana kabar perusahaan? Apa keuangan sudah stabil?" tanya bu Lisa setelah selesai menghabiskan makanan yang ada di piringnya.


"Sudah, Ma." Hanya itu yang menjadi jawaban gadis berparas cantik itu.


Bu Lisa bisa bernapas lega setelah mendengar hal itu, karena Dira berhasil mengatasi semua masalah yang ditimbulkan oleh Reno. Setelah terombang-ambing di pintu kehancuran, pada akhirnya Dira bisa berdiri dan membuat perusahaan pulih. Bahkan, bu Lisa sendiri tidak tahu apa saja yang dilakukan oleh putrinya. Satu hal yang diminta oleh Dira sebelum pergi ke Kalimantan untuk menemui investor yang bersedia menyuntikkan dana besar ke perusahaan.


"Mama tidak boleh egois dengan memikirkan kak Reno saja! Dira akan bangkit jika mama berjanji satu hal, jangan biarkan kak Reno masuk ke dalam rumah ini lagi dan menghancurkan semuanya. Jika itu terjadi lagi, maka jangan harap jika mama akan bertemu dengan Dira!"


Tentu saja, dengan berat hati bu Lisa pun mengucapkan janji tersebut demi kelangsungan hidup dan kebahagiaan Dira. Beliau sendiri sudah lelah menghadapi putra sulungnya itu. Bahkan, saat ini beliau tidak tahu di mana keberadaan Reno. Sudah lama putra pertamanya itu pergi dan hilang begitu saja tanpa ada kabar.


"Bagaimana hubunganmu dengan Raka? Apa kalian sering bertemu?" tanya bu Lisa sambil mengupas apel yang tersedia di sana.


Dira tertegun setelah mendengar pertanyaan itu karena tidak ada yang perlu dibahas. Selama ini Dira jarang sekali membalas pesan dari Raka karena satu hal, dia takut ketahuan seseorang yang menjadi patnernya saat ini. Meskipun jauh, pria tersebut selalu memantau gerak-geriknya.


"Dira tidak berhubungan dengan Raka," ucap Dira tanpa berani menatap bu Lisa.

__ADS_1


"Loh! Memangnya kenapa? Padahal Mama berharap kamu bisa dekat dengan pria sebaik dia," ucap bu Lisa seraya menatap Dira penasaran.


"Karena Dira sudah menjalin hubungan kontrak dengan seseorang, Ma! Dira adalah wanita simpanan! Tidak mungkin jika Dira menjalin hubungan dengan pria lain. Entah itu Raka atau pria lainnya." Tentu, pengakuan ini hanya bisa terucap dalam hati.


Ya, Investor tersebut adalah seorang pengusaha sukses dari Kalimantan. Seorang pria berusia empat puluh tahun yang memiliki istri dan dua anak laki-laki. Dira terpaksa menerima tawaran untuk menjadi wanita simpanan karena terhimpit perekonomian yang hancur akibat ulah Reno. Memilih jalan pintas dengan menjual diri secara elegan adalah jalan yang dipilih oleh Dira untuk mengatasi semua kerumitan yang terjadi. Hubungan kontrak itu pun tertulis di atas materai. Ada beberapa poin yang sudah disepakati Dira bersama patnernya selama dua tahun ke depan. Selama dalam masa kontrak, Dira harus bersedia meluangkan waktu kapanpun jika patnernya itu menelfon dan membutuhkan dirinya. Tentu, Dira sangat tertekan karena hal ini. Demi tetap duduk di kursi tertinggi perusahaan dan kelangsungan hidupnya dan bu Lisa, dia rela menghancurkan harga dirinya sendiri. Pengusaha sukses itu tidak main-main saat menggelontorkan rupiah ke rekening Dira. Sudah dua kali ini Dira bertemu di atas ranjang bersama pria beristri itu. Dua kali sudah dia menangis karena kesakitan, ternyata pria tersebut memiliki kelainan seksual. Dia suka saat melihat patnernya tersakiti. Alhasil, tangan Dira selalu diikat jika di atas ranjang bersama pria tersebut.


Sungguh, miris sekali nasib anak bungsu bu Lisa ini. Menjual diri demi kebahagiaan keluarganya.


"Dira ingin fokus mengurus perusahaan saja," pungkas Dira agar bu Lisa tidak membahas siapapun lagi, karena dia takut rahasianya akan terbongkar.


"Sayang, kamu ini sudah dewasa. Sudah sepantasnya kamu mencari pasangan dan menikah," tutur bu Lisa sambil menatap Dira yang sedang mengupas jeruk, "Mama berharap setelah ini kamu menikah dan hidup bahagia bersama suamimu. Mama sangat yakin jika Raka bisa membahagiakanmu," ujar bu Lisa tanpa mengalihkan pandangan dari Dira.


"Sudahlah, Ma. Kalau untuk masalah itu, Dira mohon, Mama jangan terlalu menekan Dira, karena sebuah pernikahan itu harus dipikirkan dengan matang." Agaknya Dira mulai kesal dengan ibunya.


"Memangnya kamu sudah punya pacar? Bawa pulang sini, biar Mama lihat, dia cocok atau enggak sama kamu." Bu Lisa menatap Dira sambil mengunyah apel.


Dira meletakkan jeruk yang baru saja selesai dikupasnya. Dia menatap bu Lisa dengan tatapan mata yang tajam, gadis itu marah karena bu Lisa terus membahas masalah pernikahan. Dia heran saja melihat pemikiran dangkal tersebut.

__ADS_1


"Ma. Dira harap ini adalah pembahasan terakhir tentang pernikahan. Setelah ini Dira berharap Mama tidak akan membahas tentang Raka atau pria yang lain. Apa Mama tidak kasihan sama Dira setelah semua yang sudah terjadi?"


"Apa Mama tidak berpikir bagaimana usaha Dira agar perusahaan tetap berdiri dan kita bisa hidup enak?"


"Sudah cukup Dira mengikuti semua keinginan Mama! Dira juga ingin hidup sesuai dengan keinginan Dira! Maka dari itu, Dira minta jangan pernah menekan Dira dalam hal memilih pasangan dan pernikahan!"


"Mama itu jangan pilih kasih! Mama lebih sayang ke kak Reno 'kan! Maka dari itu, Mama membiarkan pria kurang ajar itu berbuat semaunya! Sebenarnya Dira sangat kecewa dalam hal ini! Dira yang susah tapi kak Reno yang dimanja!"


Setelah mengeluarkan semua kekesalannya, Dira bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan bu Lisa seorang diri di sana. Semua unek-unek yang tersimpan di dalam hati selama ini akhirnya diungkapkan oleh gadis yang mengalami tekanan batin itu.


Bu Lisa tercengang setelah mendengar semua kalimat panjang yang lolos dari bibir putrinya. Beliau tidak pernah menyangka jika Dira bersikap seperti itu. Apalagi, saat Dira mengatakan jika beliau lebih sayang Reno daripada dirinya. Sungguh, bukan seperti itu yang sebenarnya terjadi. Semua ibu pasti menyayangi anak-anaknya, tidak ada yang dibedakan ataupun diistimewakan.


"Kenapa rasanya sesakit ini setelah mendengar semua yang dikatakan Dira? Semua yang aku lakukan selama ini hanya untuk kebahagiaan anak-anakku. Harta yang aku dapatkan pun, semua demi kebahagiaan Reno dan Dira. Lalu kenapa semuanya jadi seperti ini? Kenapa semuanya jadi berantakan dan tidak sesuai dengan ekspektasi ku?" Bu Lisa hanya bisa menangis di sana sambil meratapi nasibnya.


Harta hasil merampas hak orang lain tidak akan bisa membuat bahagia. Apalagi, merampas dengan cara yang licik, perlahan harta itu akan habis tak tersisa. Bahkan, kehancuran pun sudah menanti di depan mata.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...

__ADS_1


...Nah loh! Syukurin dah lu Lisa!!...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2