
Arvin menggeleng beberapa kali tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik sang istri. Sungguh, ia tidak percaya jika Fay yang memijat tengkuknya. Apalagi, setelah melihat ekspresi wajah yang terlihat biasa, tanpa rasa takut sedikitpun seperti sebelumnya.
"Fay," gumam Arvin sambil berkacak pinggang.
Bi Narsih segera pergi dari teras belakang, karena kehadiran beliau di sana tidak dibutuhkan lagi. Beliau merasa jika sepasang pengantin baru itu butuh waktu berdua untuk berbicara.
"Apa?" tanya Fay dengan suara yang lirih. Ia memundurkan tubuhnya untuk berbagi tempat dengan Arvin, "duduklah! Biar aku pijit!" titah Fay seraya menepuk tempat yang ada di sisinya.
"Kamu yakin?" Arvin masih belum percaya jika ucapan Fay adalah nyata.
Setelah melihat sang istri mengangguk pelan, Arvin segera duduk di tempat semula. Entah mengapa, kali ini Arvin lah yang merinding saat dekat sang istri. Apalagi, saat tangan Fay yang halus itu mulai menyentuh tengkuknya. Arvin memejamkan mata dengan kedua sudut bibir mengembang sempurna, ketika tangan itu mulai bergerak naik turun dengan lembut.
"Si Fay ini beneran sembuh apa kesurupan, sih?" Arvin bergumam dalam hatinya. Ia penasaran saja kenapa istrinya itu bisa berubah.
"Kenapa lehermu sakit?" tanya Fay setelah beberapa menit hanya diam saja.
Semua angan di kepala Arvin hilang begitu saja setelah mendengar pertanyaan dari sang istri. Ia bingung harus menjawab bagaimana, karena penyebab rasa sakit itu karena tidur di sofa.
"Ya ... karena aku tidur di sofa akhir-akhir ini," ucap Arvin setalah memikirkan jawaban yang tepat.
"Kamu kenapa sih gak mau tidur di ranjang sama aku?" tanya Fay dengan entengnya.
Tentu Arvin terkejut setelah mendengar pertanyaan tak biasa dari Fay. Ia semakin heran dengan wanita yang ada di balik tubuhnya itu. Arvin pun mengubah posisinya. Kini, ia duduk berhadapan dengan istrinya itu.
"Fay, kamu dalam keadaan sadar 'kan?" tanya Arvin setelah menempelkan punggung tangannya di kening tanpa poni itu.
"Kamu pikir aku mabok?" Bukannya menjawab, Fay malah melempar pertanyaan kepada Arvin.
__ADS_1
"Kamu sudah sembuh?" Arvin mencoba mencari jawaban atas pertanyaannya dari sorot mata sang istri.
"Kamu ini bagaimana sih, Arvin? Selama ini kamu kemana aja? Katanya kamu ini suamiku, tapi kamu tuh ya gak pernah tahu bagaimana perkembangan kesehatanku. Setiap malam malah tidur di sofa! Kamu sengaja ya menjaga jarak denganku?"
"Lagipula kamu ini jadi cowok gak peka banget sih! Di diemin bukannya bertanya, malah ikut diem. Seharusnya kamu itu nanya ke aku! Bukan sok gak perduli gitu!"
Arvin tercengang setelah mendengar semua keluh kesah sang istri. Sungguh, ia tidak percaya jika sosok yang ada di hadapannya itu adalah seorang wanita bernama Kyomi Fayre. Sosok wanita introver yang biasa irit kata, kini bisa memaki dirinya.
"Ya sudah, aku pergi saja! Untuk apa aku bicara dengan patung!" ujar Fay seraya berdiri dari tempat duduknya saat ini. Ia kesal saja melihat respon Arvin saat ini.
Namun, baru saja Fay melangkahkan kaki, tangannya dicekal oleh Arvin. Pergelangan tangan itu ditarik oleh pria yang sedang menengadahkan kepalanya hingga tubuh Fay jatuh di atas pangkuannya. Kedua manik hitam itu saling beradu pandang, seakan sedang mencurahkan segala rasa yang ada di sana.
"Apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu takut?" tanya Arvin setelah menurunkan kedua tangannya di pinggang sang istri. Saat ini Fay duduk menyamping di atas pahanya.
"Aku ... emm ... aku gugup, Vin," ucap Fay dengan kepala yang tertunduk. Tentu saja, saat ini Fay sedang berusaha melawan semua rasa takut dan pikiran negatif dalam dirinya. Ia melakukan apa saja yang sudah disarankan oleh terapisnya.
"Aku menjauh bukan berarti aku tidak perduli denganmu, Fay. Sejak kejadian saat itu, aku merasa bersalah kepadamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, jika kamu kembali ke rumah ini, aku akan berubah menjadi lebih baik,"
"Selama ini aku sengaja tidak tidur seranjang denganmu karena aku takut, Fay. Aku takut kamu kesakitan. Mengingat semua perlakuanku kepadamu kala itu,"
"Maaf karena selama ini aku tidak mengantarmu ke Psikolog secara langsung. Aku kira diammu adalah sebuah arti jika kamu tidak mau dekat denganku. Untuk masalah peka, sudah aku katakan sebelum kita menikah, jika aku bukan pria yang peka."
Arvin menjelaskan semuanya kepada Fay. Ia berharap tidak ada lagi salah paham yang membuat hubungan mereka retak. Arvin ingin sekali membina rumah tangga yang bahagia bersama Fay, meski ia sendiri belum tahu bagaimana perasaan yang sesungguhnya kepada wanita yang duduk di atas pangkuannya itu.
"Jadi, menurutmu aku harus bagaimana? Kamu ingin aku bagaimana, Fay?" tanya Arvin tanpa melepaskan pandangan dari manik hitam sang istri.
Fay segera mengalihkan pandangan ke arah lain setelah mendapatkan pertanyaan itu. Tentu saja, ia gengsi mengatakan keinginannnya, "dasar gak peka! Masa iya, aku harus bilang jika kamu harus tidur di sisiku! Hancur lah harga diriku!" umpat Fay dalam hatinya. Ia merasa gemas saja melihat pria yang sedang menatapnya itu.
__ADS_1
"Berarti aku boleh tidur di ranjang?" tanya Arvin setelah mencoba mengartikan diamnya sang istri.
"Terserah sih ya kalau itu. Jika kamu ingin lehermu sakit seperti ini, ya, tidur aja di sofa!" ujar Fay seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sekali lagi, Arvin dibuat gemas dengan jawaban yang diucapkan oleh istrinya. Rasanya, ia ingin menggigit bibir berwarna merah muda itu agar tidak lagi berkata sembarang. Sialnya, setelah mengamati bibir itu dari dekat, keinginan Arvin semakin bertambah.
"Sejak kapan kamu bisa menerima kehadiranku, Fay?" Arvin mencoba mengalihkan pikirannya ke hal yang lain, agar tidak fokus ke bibir yang menggoda itu.
"Sepertinya, sejak pertemuan ke dua dengan Psikolog," jawab Fay setelah mengingat kapan dirinya mulai membuang semua rasa takut kepada Arvin.
"Apa? Berarti sudah lama kamu sembuh, Fay?" Arvin terkejut setelah mendengar jawaban itu, "jadi kamu sengaja mengerjaiku ya selama ini?" Arvin menaikkan satu alis saat melontarkan pertanyaan itu.
Fay tersenyum smirk setelah melihat ekspresi wajah suaminya. Ia merasa puas karena berhasil membuat suaminya itu kesal atas semua tipuannya akhir-akhir ini.
"Emang! Aku sengaja menyembunyikan semua ini! Biar kamu kapok!" ujar Fay seraya menatap Arvin dengan satu sudut bibir yang tertarik ke dalam.
"Fay!" ujar Arvin dengan tatapan tajamnya.
Suara gelak tawa Fay terdengar di sana karena Arvin tiba-tiba saja menggelitik perutnya. Fay turun dari pangkuan Arvin karena menghindari tangan itu. Ia duduk di tempat semula sambil menggeliatkan tubuh karena merasakan geli. Apa yang dilakukan Arvin saat ini berhasil membuat Fay terlentang di atas kursi tersebut.
"Arvin!"
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Hmmm bagaimana episode kali ini?? kuy tulis komentar kalian😎 coba tebak apa yang terjadi🤭...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1