Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Tidak bisa program hamil,


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


Kesehatan Fayre sejak kembali dari Jerman menurun. Sudah dua hari ini dia hanya berbaring di kamar karena demam tinggi dan terus-terusan muntah. Mungkin saja wanita berparas cantik itu terlalu lelah saat menempuh perjalanan jauh dari salah satu negara yang ada di Eropa itu.


"Bagaimana kalau kita batalkan saja janji dengan dokter Areta?" tanya Arvin setelah duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur hingga menyentuh kening sang istri, "sepertinya suhu badanmu sudah turun, Fay," gumam Arvin setelah menyentuh kening sang istri.


"Gak usah dibatalkan. Kita tetap pergi ke sana saja. Lagi pula kondisiku baik-baik saja kok." Fayre tidak setuju dengan saran dari sang suami, "kita berangkat jam berapa sih?" tanya Fayre dengan suara seraknya.


"Seharusnya kalau bisa kita berangkat sebelum pukul lima sore, Fay," ucap Arvin saat melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Berarti satu jam lagi dong!" Gumam Fayre, "tolong siapkan air hangat di bathup dong, Sayang. Aku mau mandi karena sudah dua hari aku gak kena air," rayu Fayre seraya mengusap lembut tangan Arvin.


Tanpa banyak bicara, Arvin beranjak dari tempatnya saat ini. Dia masuk ke dalam kamar mandi untuk melaksanakan permintaan dari sang istri tercinta. Ya, hanya di saat sakit seperti ini Fayre bersikap manja kepada Arvin karena biasanya Fayre sendirilah yang menyiapkan segala kebutuhan untuk dirinya sendiri dan Arvin.


"Mau sekalian dimandiin gak?" tanya Arvin setelah keluar dari kamar mandi dan kembali menghampiri sang istri.


"Jangan nyari kesempatan deh!" cibir Fayre sambil membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya.


Fayre segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri yang terasa tak karuan. Suhu tubuh yang belum normal membuat tubuh tersebut meremang. Buru-buru dia menyelesaikan rutinitas di dalam kamar mandi mewah itu.


"Aduh ... aduh! Suami idaman banget nih! Tiap hari napa seperti ini," ujar Fayre setelah keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum lebar setelah melihat ranjang yang rapi dan ada pakaian ganti yang sudah disiapkan Arvin untuknya.


"Iya dong. Tapi ada syaratnya kalau mau pakai baju yang sudah aku siapkan ini," ucap Arvin dengan sorot mata penuh arti.


"Hmmm ... pakai syarat segala! Memangnya apa sih syaratnya?" tanya Fayre.

__ADS_1


"Berhubung aku yang menyiapkan bajumu, aku pun yang harus memakaikan semua ini ke badanmu." Arvin tersenyum tipis setelah mengatakan hal itu.


"Dengan senang hati," ucap Fayre sambil menarik tali bathrobe di pinggangnya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Arvin segera melakukan tugasnya. Dia tak henti tersenyum setelah melihat keindahan di depan mata. Sesekali dia memberikan sentuhan lembut yang membuat Fayre mendesis. Kali ini Arvin murni hanya melakukan tugasnya tanpa meminta hal yang lebih. Dia sendiri harus menahan semua gejolak yang muncul di dalam jiwa karena waktu untuk bertemu seorang dokter kandungan tidak mungkin harus diundur lagi.


"Duh, Pak Arvin Axelle hebat banget sih! Bisa menyelesaikan tugas dengan baik tanpa merambah ke yang lain," puji Fayre setelah Arvin melakukan tugasnya. Tubuh mulus itu pun telah terbalut dengan setelan rok selutut yang dipadukan dengan blouse dengan warna senada.


"Jangan lupa ya Bu Fay, nanti malam harus membayar biasa jasa yang saya berikan. Misalnya dengan menikmati lolipop cokelat mungkin." Arvin menaikturunkan alisnya dengan tatapan mata penuh arti.


Fayre tergelak mendengar permintaan suaminya. Sebelum pergi ke ruang walk in closet, wanita cantik itu mendaratkan kecupan mesra di bibir sang suami. Fayre tak henti tersenyum karena bahagia bisa menjadi istri pria tampan di hadapannya itu. Semua rasa takut dan kepribadiannya mendadak berubah dan seseorang yang berhasil mengubah semuanya tak lain adalah Arvin Axelle.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Sepasang suami istri itu baru saja tiba di rumah sakit tersebut. Mereka berjalan menuju tempat pendaftaran pasien rawat jalan untuk mengkonfirmasi janji dengan dokter Areta. Perawat tersebut segera menelfon ke poli kandungan untuk memberitahu dokter Areta jika pasien sudah sampai.


"Silahkan Tuan dan Nyonya menuju poli kandungan. Ruangannya ada di sebelah sana," ucap perawat tersebut sambil menunjukkan letak poli kandungan tempat dokter Areta berada.


"Terima kasih, Bu," ucap Fayre sebelum pergi.


Langkah demi langkah telah dilalui sepasang suami istri itu hingga sampai di tempat tujuan. Setelah mengetuk pintu dua kali, Arvin pun membuka pintu tersebut. Wajah ramah dari seorang wanita yang duduk di kursi kerjanya menjadi sambutan tersendiri untuk sepasang suami istri itu.


"Selamat malam, selama datang Moms, Dad," sapa dokter cantik tersebut.


"Selamat malam, dok," jawab Arvin dan Fayre serempak.

__ADS_1


Mereka berdua segera duduk di kursi yang ada di sebrang meja kerja dokter Areta. Dokter tersebut menanyakan beberapa hal kepada Fayre sebelum memulai program hamil. Surat-surat hasil pemeriksaan dari Jerman pun diserahkan Fayre kepada dokter tersebut.


"Baiklah, hasil pemeriksaan Daddy cukup baik dan tidak ada kendala lagi. Mari kita melakukan pemeriksaan USG untuk melihat kondisi rahim Moms," ucap dokter Areta seraya memberi kode kepada Fayre agar berbaring di atas bed pasien.


Gel pelumas untuk melakukan USG telah dituang di atas perut Fayre. Dokter tersebut mulai mengarahkan alat tersebut ke kiri dan ke kanan. Namun, dokter cantik itu mengernyitkan keningnya ketika melihat hasil pemeriksaan di layar monitor tersebut.


"Maaf Moms saya harus memastikan satu kondisi di rahim Moms. Jadi, saya akan melakukan USG transvaginal untuk mendapatkan hasil akurat. Apakah moms bersedia?" tanya dokter Areta setelah menghentikan pemeriksaan.


"Silahkan saja, dok." Fayre sudah menyiapkan mentalnya untuk melakukan jenis pemeriksaan apapun di rumah sakit ini.


Seorang perawat membantu dokter Areta menyiapkan pemeriksaan tersebut. Alat yang akan dipakai pun sudah siap setelah dipasang pelindung dan gel. Arvin bergidik ngeri ketika tahu jika gagang tersebut dimasukkan lewat jalan tol yang biasa dia lalui menuju surga.


"Moms ternyata tidak bisa melakukan program hamil loh," ucap dokter Areta tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.


"Kenapa, dok?" tanya Fayre dengan ekspresi wajah yang berubah.


"Apa ada kelainan pada rahim istri saya?" Arvin pun terkejut setelah mendengar pernyataan dokter Areta.


Bukannya menjawab, dokter Areta hanya tersenyum tipis sambil melihat layar monitor alat tersebut dan setelah itu beliau mengeluarkan gagang USG itu setelah pemeriksaan selesai. USG perut kembali dilakukan dokter cantik itu untuk menjawab pertanyaan dari pasiennya.


"Moms tidak bisa melakukan program hamil karena hasil pemeriksaan menunjukkan jika Moms sekarang sedang hamil. Selamat ya Moms, Dad karena ada janin yang sudah tumbuh di rahim." ucap dokter tersebut seraya menatap Arvin dan Fayre bergantian.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2