
Dua bulan kemudian,
"Arvin, kita istirahat dulu. Aku lemes banget!" keluh Fayre setelah duduk di kursi panjang yang ada di lobby penjemputan bandara.
Ya, sepasang suami istri itu telah kembali dari Jerman setelah melakukan pengobatan di salah satu rumah sakit terkenal di sana. Arvin memutuskan kembali ke tanah air karena perusahaan membutuhkan dirinya dan rencananya mereka akan melakukan kelanjutan program hamil di Indonesia. Rumah sakit recomended telah disiapkan bu Linda setelah mendapat kabar jika putranya akan kembali.
"Fay, mungkin gak sih kalau kamu sekarang lagi hamil?" tanya Arvin setelah menurunkan tubuh di hadapan Fayre. Dia berjongkok seraya menatap wajah pucat sang istri.
"Masa sih? Kan aku belum telat datang bulannya. Lagi pula kita juga belum mulai program hamil," ucap Fayre dengan suara yang lirih.
Program hamil sepasang suami istri itu memang belum dimulai. Saat di Jerman mereka fokus untuk penyembuhan Arvin terlebih dahulu dan nanti mereka akan menemui dokter dari indonesia yang sudah dipilihkan bu Linda.
"Atau mungkin kamu jet lag?" tanya Arvin lagi setelah bagaimana kondisi Fayre sejak terbang dari bandara Jerman.
"Bisa jadi begitu. Maklum kan kita lama banget di pesawat. Aku sampai bosan!" keluh Fayre sambil menyandarkan tubuh di kursi, "lebih baik kamu beli makanan deh, Vin dari pada nanya mulu! Aku tuh laper tau gak sih!" gerutu Fayre dengan ekspresi wajah yang terlihat kesal.
Kalau sudah begini, Arvin tidak mau banyak berkomentar lagi. Dia harus segera beranjak dari tempatnya dan mencari makanan untuk sang istri. Sepeninggalan Arvin, Fayre merebahkan tubuhnya di kursi panjang tersebut. Posisi tubuhnya miring dengan jaket dan syal yang dijadikan bantalnya.
"Duh! Lelah banget aku!" keluh Fayre dengan suara yang lirih. Separuh tenaganya terkuras habis karena terus muntah sejak penerbangan transit pertama.
Beberapa puluh menit kemudian, Arvin kembali dengan membawa satu kantong besar ditangannya. Ada banyak makanan yang sudah disiapkan untuk sang istri. Pria tampan itu menghela napasnya setelah melihat Fayre tertidur pulas di kursi panjang itu. Untung saja semua barang-barang tidak ada yang hilang karena di sana pun ada pengawal tersembunyi yang selalu mengawasi gerak-gerik mereka dari jauh.
"Sayang, bangun!" ucap Arvin sambil mengusap pipi mulus itu dengan gerakan yang sangat lembut, "makan dulu gih! Ini aku beli banyak makanan favoritmu," ucap Arvin lagi.
Perlahan Fayre mulai membuka mata setelah mendengar makanan yang disebutkan oleh Arvin. Dia segera duduk di sana tanpa merapikan rambutnya. Dia tidak perduli meski rambut panjangnya terlihat berantakan.
__ADS_1
"Ini orang kelaparan atau gimana? Perasaan di pesawat pun jatah makananku dimakan," batin Arvin ketika melihat sang istri begitu lahap saat menikmati roti cokelat.
Fayre meletakkan rotinya setelah rasa mual datang kembali. Dia segera membuka botol air mineral dan meneguknya. Semua ini dilakukan Fayre agar makanan yang baru saja masuk tidak keluar sia-sia. Dia terus membekap mulutnya sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tempat sampah. Rasa mual itu menyerang begitu hebat hingga Fayre tidak mampu lagi menahannya dan pada akhirnya terjadi sesuatu yang membuat Arvin melebarkan matanya.
"Fayre!" teriak Arvin sambil bergidik ngeri ketika sang istri muntah tepat di atas sepatunya, "Oh My God! Sepatuku!" Arvin menepuk keningnya setelah melihat sepatunya kotor dan terlihat menjijikkan.
"Sory, Vin. Aku sudah tidak tahan." Fayre mengatupkan kedua tangannya di depan dada ketika melihat kekacauan yang dia lakukan.
Tentu wanita berparas cantik itu merasa bersalah ketika melihat hal menjijikkan itu. Dia tidak tahu harus bagaimana membersihkan semua kekacauan ini karena dia sendiri merasa geli melihat hal itu.
Arvin segera melepas sepatunya sebelum kotoran itu menembus permukaan kulitnya. Ekspresi wajah jijik terlihat jelas dari raut wajah pria tampan itu. Sesekali wajahnya terlihat merah padam karena harus menahan rasa mual yang datang menghampiri.
"Pak! Pak! Pak!" teriak Fayre ketika melihat OB yang kebetulan lewat tak jauh dari tempatnya.
"Bisa menolong saya untuk membersihkan semua ini, Pak?" tanya Fayre dengan raut wajah penuh sesal. Dia tidak enak hati dengan pria yang bertugas membersihkan bandara itu.
Fayre hanya diam saja ketika melihat Arvin membuka salah satu koper untuk mengambil alas kaki yang tersimpan di sana. Pria tampan itu sekaligus mengambil celana pendek untuk mengganti celananya yang terkena muntahan sang istri.
"Kamu di sini saja, aku mau ke toilet dulu, oke!" pamit Arvin sebelum meninggalkan Fayre di tempatnya.
Wanita berambut cokelat itu hanya bisa menghela napas setelah melihat semua yang terjadi. Tidak lama setelah itu datanglah seorang OB membawa troly berisi alat-alat kebersihan.
"Maaf, apakah Nyonya bersedia pindah ke sebelah sana biar saya bersihkan tempatnya," ucap OB tersebut dengan santun.
"Oh, iya. Baik, Pak," ucap Fayre seraya berdiri dari tempatnya.
__ADS_1
Sebelum pergi dari sana, tak lupa Fayre mengabadikan sepatu putih penuh noda itu dan setelah itu dia membuang sepatu kotor itu di tong sampah yang ada di troly milik OB tersebut.
"Maaf, Nyonya, kenapa sepatunya dibuang?" tanya OB tersebut setelah melihat sepatu tersebut berakhir di tong sampah.
"Sepatunya tidak bisa dipakai, Pak. Kotor sekali itu kena muntahan saya," ucap Fayre seraya tersenyum kecut karena malu di hadapan OB tersebut.
"Boleh saya ambil saja, Nyonya? Nanti biar dicuci istri saya karena sayang kalau dibuang," tanya OB itu lagi.
"Eh, jangan, Pak. Jangan! Itu sudah kotor," sergah Fayre karena sepatu tersebut sudah tidak layak pakai.
Fayre membuka tas untuk mencari dompetnya. lantas dia mengambil beberapa lembar rupiah untuk diberikan kepada OB tersebut, "begini saja, Pak. Tolong diterima ini ya, Bapak beli sepatu baru saja di toko. Jangan yang itu, kotor, Pak," ucap Fayre dengan suara yang lembut dan lirih agar tidak ada yang mendengar pembicaraannya.
"Tidak perlu, Nyonya. Maaf." OB tersebut berusaha menolak uang pemberian dari Fayre.
"Tolong diterima ya, Pak. Ini adalah bentuk rasa terima kasih saya kepada Bapak karena bersedia membantu saya," ucap Fayre dengan sorot mata memohon. Pada akhirnya setelah dipaksa Fayre, OB tersebut menerima uang pemberian wanita berparas cantik itu.
Beberapa puluh menit kemudian, setelah selesai membersihkan tempat kotor akibat ulah Fayre, OB tersebut pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Tidak lupa pria tersebut mengucapkan terima kasih kepada Fayre sebelum pergi.
"Pulang sekarang saja yuk!" ajak Arvin setelah kembali dari toilet. Pria tampan itu mengedarkan pandangan untuk mencari sesuatu, "Di mana sepatuku?" tanya Arvin seraya menatap Fayre.
Fayre menunjuk troly OB yang berada jauh dari tempatnya saat ini, "sudah aku buang di sana! Sepatumu terlihat menjijikkan, Vin!" ujar Fayre dengan entengnya hingga membuat Arvin menepuk keningnya.
"Astaga! Sepatu limited edition dari Paris berakhir di tong sampah!" ujar Arvin dengan helaian napas yang berat, "hilang sudah lima puluh juta," sesal pria tampan itu setelah mengetahui sepatu yang dulu dia dapatkan dengan susah payah harus menjadi sampah.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...