
Dua bulan kemudian,
Sang raja sinar tengah menampakkan keangkuhannya meski penunjuk waktu masih berada di angka sepuluh pagi. Semua itu tidak membuat seorang wanita dengan perut buncit menyurutkan semangatnya saat berjalan dari tempat parkir menuju rumah tahanan.Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Dira. Lajang bukan perawan itu membawa beberapa makanan untuk pria yang diakui sebagai ayah dari bayi yang ada dalam kandungannya. Usia kandungannya pun sudah masuk minggu ke dua puluh. Tentu perutnya pun sudah terlihat dengan jelas.
"Mari saya antar, Nona," ucap seorang petugas setelah tiba giliran Dira masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk Raka.
Ya, saat usia kandungan Dira ada di minggu ke enam belas, dia menemui Raka dan meminta kejelasan statusnya. Pada akhirnya Raka luluh setelah Dira meyakinkan jika anak yang ada dalam kandungan adalah benih milik Raka. Pria itu sendiri tidak tega melihat nasib Dira yang malang.
Hamil tanpa seorang suami serta merawat seorang ibu yang sedang sakit komplikasi, membuat Raka tak kuasa untuk tidak menerima Dira. Biar bagaimanapun Raka memiliki rasa kepada Dira, dia sendiri tidak mau membuat sosok wanita yang sedang mengandung benihnya harus menderita lebih dalam lagi.
"Hai," sapa Dira setelah melihat kehadiran Raka di ruangan tersebut.
Pria bertubuh kekar itu tersenyum lebar setelah melihat kehadiran Dira di sana. Dia segera menghampiri Dira yang sedang duduk di bangku tunggal. Dia mengecup puncak rambut itu dan kini pria bertubuh kekar itu berjongkok di hadapan perut buncit Dira. Kecupan penuh kasih mendarat di sana beberapa kali.
"Hallo anak Papa, apa kabar di dalam sana?" tanya Raka di depan perut buncit itu, "bagaimana perkembangannya? Baik-baik saja kah?" tanya Raka saat menengadahkan kepala sambil menatap Dira.
"Dia sudah bisa bergerak, tidak ada kendala dengan pertumbuhannya," jawab Dira dengan diiringi senyum yang sangat manis. Dia bahagia karena Raka begitu menyayangi anaknya.
"Jaga dia dengan baik. Maaf aku belum bisa memberikan yang terbaik kepadamu dan anak kita," ucap Raka dengan nada penuh sesal.
Raka beranjak dari hadapan Dira. Dia menyeret kursi kosong yang ada di sisi meja yang lain dan memposisikan diri di dekat Dira. Senyum manis terus mengembang dari kedua sudut bibir itu untuk dipersembahkan kepada wanita cantik yang sedang menatap ke arahnya.
"Aku merindukanmu," ucap Dira setelah Raka mendekap tubuhnya.
__ADS_1
"Sabar ya. Aku sendiri tidak bisa menjamin kapan aku pulang," ucap Raka sambil mengusap rambut panjang Dira. Sesekali dia mengecup rambut itu untuk mencurahkan kasih sayang.
"Doakan aku kuat menjalani semua ini," ucap Dira dengan suara yang bergetar.
"Kamu pasti kuat! Kamu pasti bisa." Raka memberikan semangat kepada Dira, "kapan kamu menemui keluargaku? Papa dan mama menunggu kehadiranmu. Aku sudah memberitahu mereka jika ada cucunya yang tumbuh di sini," ucap Raka sambil mengusap perut buncit Dira.
"Kenapa bukan mereka yang mengunjungi aku saja. Kamu tahu sendiri bukan jika aku sedang merawat Mama di rumah," ucap Dira tanpa menegakkan tubuhnya. Dia tetap menyandarkan tubuhnya dalam tubuh tegap pria yang dicintainya itu.
"Nanti aku akan memberitahu mereka agar mengunjungi mu." Raka mencoba menenangkan Dira agar tidak terlalu banyak pikiran.
"Aku sebenarnya butuh biaya pengobatan untuk Mama," ucap Dira dengan hati-hati.
"Untuk urusan itu jangan dipikirkan lagi. Nanti kakak ku akan mengantar uang ke rumahmu," ucap Raka tanpa berpikir panjang.
"Nanti aku cukur. Kapan kamu datang ke sini lagi?" tanya Raka.
"Minggu depan." Dira menegakkan tubuhnya karena merasa tidak nyaman dengan posisi seperti ini.
Sisa waktu berkunjung dipakai mereka berdua untuk berbicara seputar kehamilan. Raka begitu perhatian kepada sosok yang sedang mengandung benihnya itu. Sikap yang dulu dia tunjukkan berubah total semenjak berada di dalam rumah tahanan ini dan semenjak menerima kehadiran Dira dan calon putranya nanti. Dia merasa bersalah karena tidak bisa bertanggung jawab kepada Dira.
"Sekarang pulanglah. Ini sudah waktunya kamu istirahat. Mungkin nanti kakakku akan datang ke rumahmu karena kebetulan dia sedang berada di Jakarta." ucap Raka setelah melihat jam dinding yang ada di ruangan tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang sekarang. Jaga kesehatan ya," ucap Dira seraya membelai rahang kokoh milik Raka.
__ADS_1
Pria yang ada di hadapan Dira hanya bisa tersenyum manis setelah mendapat perhatian kecil itu. Raka pun membelai pipi mulus itu dan selang beberapa detik kemudian, kedua bibir itu saling bertautan. Mereka tidak perduli meski ruangan tersebut cukup terbuka. Suara decapan terdengar di sana, pertanda jika keduanya saling menginginkan satu sama lain.
"Aku selalu merindukanmu," gumam Dira dengan suara yang lirih. Kedua kening itu saling bersentuhan satu sama lain dengan kedua mata yang terpejam.
"Aku mencintaimu, Dira. Sangat." Raka mengusap lembut pipi mulus Dira dengan penuh kasih.
Setelah mencurahkan kasih dan sayang di dalam ruang tunggu tahanan, pada akhirnya Dira beranjak dari tempatnya. Dia harus pulang karena jam berkunjung pun akan habis. Rasa rindu yang sempat menggebu telah terkikis karena sudah bertemu dengan yang dirindukan.
"Aku pulang ya," pamit Dira setelah berdiri dari tempatnya.
"Tunggu!" Raka menarik tangan Dira hingga posisinya menghadap ke arahnya.
"Hai anaknya Papa. Baik-baik di dalam sana ya, jangan nakal dan membuat mama susah," bisik Raka di hadapan perut buncit itu.
Dira hanya tersenyum melihat perlakuan manis itu. Dia lega meski harus berjauhan dan tidak bisa menikah dalam waktu dekat ini. Dia harus sabar menanti beberapa tahun lamanya untuk hidup bersama dengan Raka. Semenjak Raka menerima kehadiran anak yang ada dalam kandungannya, Dira lebih bersemangat dalam menjalani hidup meskipun sedang berada di tengah badai yang sedang melanda.
Sejak kejadian kala itu, bu Lisa sering keluar masuk rumah sakit karena memikirkan nasib Dira. Awalnya wanita paruh baya itu didiagnosa dokter mengidap jantung koroner dan seiring berjalannya waktu beliau menderita stroke, karena mengalami hipertensi. Wanita yang dulunya angkuh dan merasa berkuasa, sekarang tidak berdaya di atas kursi roda. Bu Lisa tidak bisa bicara lantang seperti dulu, saparuh tubuhnya tidak bisa digerakkan seperti dulu. Sungguh, keadaan ini semakin mempersulit Dira, karena banyak hal yang harus dia pikirkan seorang diri. Tentu Dira hanya bisa menerima semua ini dan menjalaninya dengan hati yang lapang, karena masih ada janin yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Dia harus menjadi kuat untuk ibu dan anaknya nanti.
"Hati-hati, Sayang. Jangan berkendara sendiri. Pakailah sopir untuk mengantarmu," ucap Raka sebelum Dira berlalu dari ruangan.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1