
"Aku gak PD, Vin," keluh Fayre sebelum keluar dari mobil.
Rambut hitam telah berubah menjadi cokelat muda. Fayre terlihat lebih cantik dengan warna rambut ini, akan tetapi wanita itu kurang percaya diri. Dia merasa aneh ketika melihat penampilannya dari pantulan cermin seusai treatment pewarnaan di salon.
"Ayolah, Sayang. Kamu sangat cantik." Arvin tak henti tersenyum setelah melihat sang istri gusar.
Pada akhirnya wanita berambut cokelat itu keluar dari mobil dan berjalan menuju teras rumah. Ada rasa gelisah yang datang menghampiri karena takut ditertawakan bu Linda karena warna rambutnya saat ini.
"Wow! You're so beautiful, Honey!" ucap Bu Linda setelah melihat kehadiran Fayre di ruang keluarga bersama Arvin, "Mami suka, kamu terlihat semakin cantik." Bu Linda tak henti memuji kecantikan sang menantu.
"Oh iya, Vin. Tadi Mami sudah menelfon teman Mami. Dia merekomendasikan Mami agar kalian berobat ke Jerman saja, di sana fasilitasnya lebih bagus. Kalian coba saja mengunjungi rumah sakit Xxxx untuk melakukan konsultasi dengan dokter kandungan di sana," tutur bu Linda seperti apa yang sudah beliau dengar dari teman sosialitanya.
"Baik, Mi. Nanti kami akan mencari rumah sakit itu," jawab Arvin seraya tersenyum tipis.
Setelah obrolan santai di ruang keluarga berakhir, Arvin dan Fayre pamit pergi ke kamar untuk membersihkan diri karena sebentar lagi rona jingga akan terlukis di cakrawala barat untuk menemani sang surya kembali ke singgasana.
"Hah! Akhirnya sampai juga," gumam Fayre setelah menghempaskan diri di atas ranjang. Dia bergerak ke kiri dan ke kanan untuk meregangkan otot-otot tubuh yang terasa kaku.
"Mandi dulu, Fay. Setelah itu kamu bisa tidur nyenyak," ucap Arvin sebelum melepas jaket dan kaosnya.
"Kamu aja yang mandi duluan," ucap Fayre dengan suara yang lirih. Mungkin wanita cantik itu mulai mengantuk dan ingin segera beristirahat karena merasa lelah setelah seharian penuh menghabiskan waktu di luar rumah bersama Arvin.
"Fay, aku sudah lama tidak melihatmu melukis. Apa kamu sudah bosan berkutat dengan kuas dan palet cat?" tanya Arvin setelah teringat tentang hobi yang selama ini ditekuni oleh sang istri hingga memiliki banyak koleksi di rumah lamanya.
"Iya, ya! Aku sampai lupa dengan semua peralatan itu semenjak ada pria labil sok pintar bermain-main dengan pengadilan," sindir Fayre seraya menatap Arvin sekilas dan setelah itu dia mengubah posisi membelakangi pria tampan itu.
__ADS_1
Helaan napas berat terdengar di sana. Arvin merasa malu jika Fayre membahas kembali masalah itu. Dia mendekat ke tubuh Fayre dan mendekapnya dari belakang.
"Please, jangan bahas masalah itu lagi, Sayang." Arvin berucap dengan suara yang sangat lirih di tengkuk mulus itu.
Fayre mencengkram ujung bantal yang dipakainya saat ini ketika merasakan hembusan napas hangat di tengkuknya. Tentu hal ini membuat perasaan aneh dalam tubuhnya hadir kembali. Ya, Arvin begitu pintar jika mencari titik kelemahannya. Apalagi saat ini pria yang ada di balik tubuhnya semakin berbuat lebih. Sapuan lidah itu menyusuri tengkuk hingga daun telinganya. Getaran-getaran di dalam tubuh mulai hadir dan ingin segera dituntaskan.
"Nananininunu, Yuk!" bisik Arvin dengan suara yang sangat lirih hingga mampu membuat Fayre menggelinjang karena hembusan napas berat sang suami.
"Ih! Kenapa harus nanya dulu sih! Langsung sat set aja kan enak!" gerutu Fayre dalam hati setelah mendengar ajakan itu.
Berawal dari hembusan napas serta kelihaian tangan untuk menyentuh pusat getaran di tubuh mulus itu, pada akhirnya suara-suara manja menggema di kamar bernuansa abu-abu tersebut. Sepasang suami istri itu akhirnya kembali memadu kasih di waktu senja. Arvin membawa Fayre terbang jauh menuju puncak surga hingga berkali-kali. Dia telah menunjukkan betapa hebat kuasanya atas tubuh yang ada dalam kungkungan. Sungguh sepasang suami istri itu dimabuk asmara sejak perdamaian yang sudah disepakati bersama.
...π π π π ...
Tiga hari sejak rencana pergi ke luar negeri disetujui oleh Arvin telah berlalu. Kini mereka sedang mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk tinggal sementara di Eropa. Semua dokumen yang dibutuhkan nanti pun sudah siap. Mereka berdua tinggal berangkat ke tempat tujuan.
"Kapan kita berangkat?" tanya Fayre tanpa menatap Arvin. Dia sibuk mengemas pakaian yang harus dibawa.
"Kata Surya besok sore adalah jadwal keberangkatan kita ke Jerman," ucap Arvin setelah meletakkan ponsel di meja.
Pembicaraan di antara suami-istri itu harus berakhir karena Arvin pun sibuk membantu Fayre mengemas beberapa pakaiannya. Untuk urusan pekerjaan sudah diurus Rofan dan dipantau langsung oleh pak Bram.
"Vin, kita perlu membawa mantel atau jaket yang banyak gak sih?" tanya Fayre setelah teringat jika akan mengunjungi salah satu destinasi di Austria sebelum berobat ke Jerman.
"Gak usah lah, kalau kita butuh apa-apa beli di sana saja," jawab Arvin tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
Seperti yang disarankan oleh sang suami, Fayre pun hanya membawa beberapa barang penting saja. Tidak lupa dia membawa alat lukis barangkali dibutuhkan di sana untuk mengusir rasa bosan.
Fayre sangat berharap usahanya kali ini berhasil dan tanpa ada halangan apapun. Dia selalu berdoa tidak ada kejadian seperti yang ditimbulkan Raka dan dokter Winda yang merugikan kesehatan sang suami. Untuk itu dia setuju begitu sang mertua menyarankan pergi ke luar negeri karena trauma dengan semua yang sudah terjadi.
"Vin, bagaimana kabarnya Fabi?" tanya Fayre setelah teringat sahabat suaminya yang masih tersisa.
"Dia pergi ke Australia minggu lalu. Mungkin mau jadi peternak kanguru kali dia di sana," jawab Arvin asal.
"Kalau Toni bagaimana? Apa kamu tahu bagaimana kabar pria itu?" tanya Fayre lagi karena penasaran dengan putra dokter Winda yang bebas dari hukuman.
"Aku tidak tahu kalau keberadaan dia. Lagi pula aku juga gak mau tahu tentang dia lagi." ujarnya dengan tegas.
Ya, tidak bisa dipungkiri sejak kejadian saat itu Arvin menjadi trauma. Kepercayaannya kepada orang lain pun tidak bisa seperti dulu. Berada dalam circel pertemanan toxic membuatnya ragu jika harus menjalin hubungan pertemanan bersama orang lain. Bahkan dengan Fabi pun perasaannya tidak sama seperti dulu.
"Semoga dia tidak mengganggu kita lagi ya, Vin. Aku ingin hidup tenang bersama keluarga ini tanpa ada rasa was-was seperti sebelumnya," ucap Fayre dengan suara yang lirih.
"Sepertinya dia tidak berani menganggu kita lagi. Kalau perkiraanku Toni memiliki dendam kepada Raka karena sudah memberatkan hukuman ibunya. Cih, pria itu tetap saja licik walaupun terbukti bersalah." Arvin terlihat kesal ketika mengingat semua yang sudah terjadi kepadanya.
Arvin mendadak geram setelah teringat seringai jahat Raka ketika di pengadilan. Pria yang memiliki segudang alibi itu seakan tidak takut dengan hukuman yang dijatuhkan oleh pengadilan.
"Sudahlah. Kamu tidak perlu mengingat dia lagi. Aku percaya dia pasti akan mendapatkan karma atas semua perbuatan yang dia lakukan. Yang perlu kamu ingat itu hanya wajahku, Vin! Bukan yang lain!" ujar Fayre seraya menatap Arvin dengan lekat.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka π mohon maaf ya tadi malam othor mendadak pusing, alhasil tidur dan lupa gak bikin part nana nini nunuπβοΈπΉ...
...π·π·π·π·π·...
__ADS_1