
"Fay, kamu baik-baik saja 'kan? Mau pulang sekarang?" Arvin gelisah karena melihat sikap sang istri saat ini.
Fay hanya menggeleng pelan tanpa mengalihkan pandangannya ke samping. Tatapannya lurus ke depan, mengamati segala gerik-gerik Raka saat ini. Pria itu terlihat tidak tenang, wajahnya mulai dipenuhi keringat. Hal itu semakin membuat Fay penasaran dibuatnya.
"Kenapa dia masih bertahan? Sebenarnya cairan apa yang dimasukkan ke dalam minuman yang tadi," gumam Fay dalam hatinya. Sesekali Fay mengalihkan pandangan ke arah lain agar tidak ada yang curiga dengannya.
Mata indah itu terbelalak sempurna ketika melihat Raka menarik tangan wanita yang tadi menemaninya. Fay melihat sendiri bagaimana kasarnya Raka ketika menc*mbu wanita tersebut. Ia seakan tidak perduli dengan keramaian pesta saat ini.
"Gila!" Hanya itu yang lolos dari bibir Arvin ketika melihat apa yang dilakukan oleh Raka saat ini.
"Kenapa temanmu itu?" tanya Fay seraya menatap Arvin, "dia gak malu apa ya?" lanjutnya.
"Entahlah. Sejauh ini Raka tidak pernah seperti itu di hadapan umum. Meski sering menghabiskan malam bersama wanita, tapi dia tidak mau di sembarang tempat bermesraan seperti itu! Ck. terlalu banyak minum dia," ucap Arvin saat mengamati apa yang dilakukan Raka saat ini.
Tatapan mata wanita cantik itu terus mengamati gerak-gerik Raka saat ini. Ia melihat Raka menarik tangan wanitanya dan pergi dari sana. Ekspresi wajah Raka terlihat tidak baik-baik saja. Ia seakan sedang menahan gejolak yang begitu besar dalam dirinya.
"Ayo kita pulang!" ajak Fay seraya beranjak dari tempatnya, "pertunjukkannya gak seru!" Fay bergumam tanpa melihat ke samping.
Arvin mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan sang istri. Ia penasaran saja dengan kalimat yang lolos dari bibir merah itu. Sebelum membawa Fay pergi dari club ini, Arvin menemui Toni dan Fabi untuk pamit terlebih dahulu. Ia pun mengatakan jika Raka naik ke lantai dua bersama wanita.
"Lu serius, Vin?" Toni terkejut setelah mendengar cerita dari Arvin, "wah gila itu si Raka! Ternyata dia benar-benar minum itu obat," ucap Toni hingga membuat Arvin dan Fabi saling pandang. Sementara Fay bersikap biasa saja sambil menunggu kelanjutan cerita dari Toni.
"Maksud lu obat apaan, Bro?" tanya Fabi.
"Ck. Dia kemarin nyuruh gue minta rekomendasi ke nyokap buat nyariin obat kuat yang ampuh. Eh, ternyata dipakai sendiri padahal kemarin dia bilang mau buat kado temennya yang nikah," ucap Toni seraya berkacak pinggang.
__ADS_1
Bukan tanpa alasan jika Raka meminta bantuan dari Toni tentang obat-obatan, karena ibunya Toni adalah dokter kandungan yang sudah memiliki rumah sakit pribadi khusus untuk wanita hamil dan bersalin. Setidaknya, beliau pun mengetahui tentang dosis dan obat tersebut.
"Oh, jadi obat yang tadi itu obat kuat? Lalu kenapa Raka memberikan obat itu ke minuman Arvin? Untuk apa tujuannya?" batin Fay setelah mendengar penjelasan dari Toni.
Entah mengapa, sudut bibirnya tiba-tiba tertarik ke dalam setelah membayangkan apa yang terjadi kepada Raka saat ini. Setelah pamit, Arvin membawa Fay keluar dari club ini. Tak lupa ia memakaikan coat cream itu di tubuh sang istri.
"Fay, kamu kenapa? Aku lihat dari tadi kamu senyum-senyum sendiri." Arvin heran saja melihat Fay terus tersenyum saat berjalan keluar dari club tersebut.
Angin malam mulai menerpa keduanya setelah mereka berjalan kembali ke hotel. Selama itu pula, Fay terus tersenyum tanpa menjawab pertanyaan dari Arvin. Binar bahagia terlihat jelas di sorot matanya, hal inilah yang membuat Arvin semakin heran.
"Fay, kamu sehat kan?" Sekali lagi Arvin memastikan kondisi sang istri setelah sampai di lobby hotel.
"Ya. Aku sehat dan baik-baik saja, Vin. Aku hanya sedang bahagia," jawab Fay seraya menatap Arvin sekilas. Lantas mereka segera masuk ke dalam lift menuju kamar mereka yang ada di lantai lima.
"Oh, ya, mending kamu masuk dulu. Aku mau ke ke resepsionis sebentar. Ada yang lupa," ucap Arvin setelah sampai di depan pintu kamarnya.
"Jangan terlalu lama, aku takut sendirian di dalam," ucap Fay sebelum Arvin pergi. Ia melihat Arvin berlari menuju pintu lift.
Setelah menempelkan kartu akses di sisi pintu. Fay segera masuk ke dalam kamar. Ia berjalan menuju meja rias yang ada di sana untuk meletakkan tas dan coatnya di sana. Fay mulai melepas aksesoris yang ada ditubuhnya.
"Siapa yang datang?" Fay bergumam setelah mendengar ketukan pintu beberapa kali, karena tidak mungkin jika Arvin kembali secepat itu.
Setelah mendengar suara ketukan pintu sekali lagi, Fay memutuskan untuk melihat siapa yang ada di balik pintu. Meski ragu pada akhirnya Fay membuka pintu tersebut.
"Apa benar ini kamar Nyonya Kyomi Fayre?" tanya pria yang memakai pakaian rapi berwarna biru. Dia tak lain adalah petugas hotel.
__ADS_1
"Ya, benar. Ada apa?" tanya Fay seraya menatap pria tersebut.
"Ini ada kiriman untuk Nyonya, dari Tuan Arvin Axelle," ucap pria tersebut seraya menyerahkan kotak berwarna gold kepada Fay.
"Hah!" Bibir berwarna merah itu sedikit terbuka setelah mendengar nama pengirimnya, "terima kasih," ucap Fay seraya menerim kotak tersebut.
Pintu kamar kembali tertutup setelah petugas hotel itu pamit pergi. Fay duduk di atas ranjang untuk membuka kotak tersebut. Ia penasaran saja apa yang dikirim Arvin untuknya.
"Lingerie?" Fay bergumam setelah melihat isi kotak tersebut.
Satu persatu pakaian sexy itu dikeluarkan dari kotak. Ada empat pakaian sexy dengan model yang berbeda dan salah satunya ada kostum cosplay pelaut. Fay mengamati satu persatu pakaian tersebut sambil menggigit jari telunjuknya.
"Aih! Dia ingin aku tidur memakai ini?" Fay bergumam dalam hati saat mengamati lingeri berwarna hitam.
Setelah berpikir selama beberapa menit, pada akhirnya Fay memutuskan pergi ke kamar mandi. Kali ia sepertinya ia harus siap melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Melayani sang suami dengan sepenuh hati. Terus menghindar bukanlah solusi yang tepat untuk kelangsungan pernikahannya, karena banyak badai yang akan menghantam.
"Sepertinya, aku harus mandi yang bersih malam ini. Aku tidak mau Arvin kecewa kalau sampai aku bau! Oke, sekarang lebih baik aku gosok gigi dulu! Bila perlu semua pasta gigi ini aku habiskan!" cerocos Fay sambil meraih pasta gigi yang ada di dekat wastafel.
Cukup lama, Fay berada di dalam kamar mandi. Setelah yakin jika aroma tubuhnya sudah harum, ia segera memakai lingeri hitam yang dipilihnya tadi. Fay terkekeh saat melihat dirinya dari pantulan cermin di hadapannya.
"Duh, kenapa aku gugup banget ya," ucap Fay saat memakai kimono untuk menutupi tubuhnya.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
__ADS_1