Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kedatangan Raka


__ADS_3

Beberapa hari kemudian,


"Maaf sebelumnya, apa Nyonya Fayre bisa menunggu di luar. Saya ingin berbicara empat mata dengan suami Nyonya," ucap dokter psikolog bernama Zeda itu.


Hari ini Arvin sengaja mengantar Fay untuk kontrol ke psikolog yang menanganinya selama ini. Baru kali ini Arvin mengantar istrinya bertemu dengan dokter cantik yang ada di hadapannya itu. Sepertinya ada perihal penting yang harus disampaikan dokter tersebut.


"Bagaimana kondisi nyonya Fayre saat berada di dekat Anda?" tanya Zeda seraya menatap Arvin.


Arvin pun menjelaskan bagaimana keadaan yang semestinya. Ia menyampaikan jika kondisi Fay tidak seperti dulu saat bertemu dengannya. Arvin pun tak sungkan untuk bertanya tentang bagaimana menghadapi wanita dengan karakter seperti istrinya itu.


"Anda harus lebih bersabar, karena Nyonya Fay adalah seorang wanita introvert. Seorang berkepribadian seperti istri Anda memang begitu. Dia tidak suka keramaian, tidak banyak bicara dan jarang sekali mengekspresikan perasaannya,"


"Nyonya Fayre pasti lebih suka menyendiri. Dia pun pasti lebih suka mengungkapkan perasaannya lewat sebuah tulisan ataupun sebuah karya. Saya sarankan, agar Anda memahami dulu bagaimana karakter nyonya Fayre,"


"Kesembuhan Nyonya Fay, tak luput dari dukungan Anda, Tuan. Coba pahami dulu apa yang dia sukai, bagaimana dia mengekspresikan diri. Mungkin Nyonya Fay pun tidak suka banyak bicara dengan seseorang yang baru dikenal."


Arvin mendengarkan semua saran dari dokter Zeda. Ia harus mencatat dengan baik apa saja yang harus dia lakukan agar Fay selalu nyaman saat bersamanya. Banyak hal yang ditanyakan Arvin tentang bagaimana cara untuk mengetahui perasaan seperti seorang wanita introvert.


"Dok, bagaimana saya tahu jika dia sudah tertarik kepada saya? Jujur saja, kami ini dijodohkan loh," tanya Arvin seraya menatap dokter psikologi itu.


Zeda tersenyum manis mendengar pertanyaan dari Arvin, "Coba Anda ingat bagaimana sikap nyonya Fayre saat bertemu dengan Anda di awal perkenalan dengan saat ini. Apakah sudah ada perbedaan?" tanya Zeda tanpa melepaskan pandangan dari Arvin.


"Perubahan yang saya rasakan sih, dia mulai nyaman saat di dekat saya. Terkadang dia yang memulai obrolan padahal jarang sekali dia melakukan itu. Dia lebih perhatian kepada hal-hal kecil yang saya lakukan dan yang paling penting dia sudah menerima jika saya sentuh." Arvin menjelaskan semuanya tanpa ada yang ditutupi.

__ADS_1


Zeda kembali tersenyum setelah mendengar pengakuan Arvin yang jujur itu. Kini ia tahu harus bagaimana menerapkan terapi untuk kasus yang dialami oleh Fay.


"Wah, sepertinya nyonya Fayre banyak perubahan, ya. Saya yakin satu pertemuan lagi, nyonya Fayre benar-benar sembuh." Zeda menatap Arvin dengan lekat, "baiklah, untuk kasus yang sudah Tuan ceritakan, saya bisa menyimpulkan jika Nyonya Fayre mulai suka dengan Anda," ucap Zeda hingga membuat Arvin tersenyum tipis.


"Seorang introvert tidak akan mungkin melakukan hal-hal yang sudah Anda sebutkan tadi dengan orang yang tidak dikenal. Saya berani menjamin, jika nyonya Fayre sudah memiliki perasaan kepada Anda,"


Pembicaraan itu terus berlanjut hingga Arvin mendapatkan semua kebenaran tentang sang istri. Setelah konsultasi itu berakhir, dokter Zeda memberikan beberapa saran yang harus dilakukan oleh Arvin,


"Jangan terlalu sering mengajak nyonya Fayre ke tempat ramai karena dia suka keheningan. Beri dia ruang untuk menyendiri dan jangan terlalu mengekangnya. Satu hal lagi, jangan memaksa dia melakukan apa yang tidak disukai, karena dia bisa setres jika dipaksa untuk melakukan hal tersebut."


...💠💠💠💠💠💠...


Mobil sport warna hitam yang dikendarai Arvin mulai membelah jalanan padat menuju kantor. Sesekali Arvin mengalihkan pandangan ke arah Fay saat teringat semua saran yang disampaikan oleh dokter Zeda. Apa yang sudah diketahui Arvin tadi, berhasil membuat terus tersenyum.


"Si Arvin kenapa ya senyum-senyum sendiri? Kok aku takut dia jadi gila," gumam Fay dalam hatinya. Ia enggan untuk bertanya tentang keadaan pria yang sedang sibuk dengan kemudinya itu.


"Arvin, aku malu! Banyak orang tuh!" ujar Fay sebelum membuka seatbeltnya.


"Namanya juga perusahaan. Pasti rame lah," jawab Arvin sebelum keluar dari mobil.


Singkat cerita, mereka berdua pada akhirnya sampai di ruangan utama gedung ini. Fay memutuskan duduk kursi tunggal yang ada depan meja kerja sang suami.


"Siapa yang buat maket itu?" tanya Fay setelah melihat maket yang tersimpan di meja lain. Ia beranjak dari tempatnya saat ini, untuk melihat hasil karya tersebut.

__ADS_1


"Aku yang membuatnya! Tapi belum jadi semuanya, masih delapan puluh persen," jawab Arvin seraya menatap sang istri yang sedang mengamati hasil karyanya.


"Seharusnya tidak seperti ini, Vin, desainnya. Jika kamu memaksakan taman ini ada di samping, maka rumah ini kehilangan estetikanya. Kenapa gak kamu coba bikin kolam saja di depan atau kalau klienmu mau menambah budget, buatkan saja kolam di samping rumah, tapi dari depan ke belakang. Nanti ikannya bisa diisi dengan ikan koi." Fay tak melepaskan pandangan dari maket yang dibuat oleh suaminya itu.


Arvin termangu setelah mendengar kalimat panjang yang disampikan oleh Fay. Ia tidak menyangka saja jika Fay bisa memiliki ide cemerlang. Hal itu membuatnya semakin kagum dengan Fay.


"Sejak kapan kamu menjadi hebat seperti ini, Fay?" tanya Arvin seraya mengusap rambut hitam sang istri.


Belum sempat menjawab, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka lebar. Suara tiga sahabat Arvin pun terdengar di sana. Tanpa sengaja tatapan mata Fay beradu pandang dengan Raka meski hanya beberapa detik saja.


"Waaah! Pengantin baru gak pernah muncul aja nih!" seloroh Toni saat berjalan menghampiri Arvin.


"Hay, Bro! Selamat datang," sambut Arvin dengan senyum manis khas dirinya.


"Gile lu, Bro! Lu gak kangen kita apa ya?" sahut Fabi sambil menoyor lengan Arvin.


Sementara Raka hanya tersenyum simpul melihat teman-temannya. Sesekali ia melirik Fay yang sedang menatap ke arah lain, "jadi lu, gak mau ngenalin istri lu ke kita nih, Bro! Perasaan semenjak pengantin baru, lu gak pernah ngajak dia main ke club," ujar Raka seraya menatap Arvin.


Tangan Arvin mengepal begitu saja, setelah mendengar ucapan Raka. Semua ucapan Raka dan tante Nella yang membuat dirinya terbakar emosi, mendadak hadir dalam ingatan. Padahal, Arvin sudah bersusah payah melupakan hal tersebut, agar tidak ada pertengkaran dengan teman sendiri.


"Aku sepertinya gak asing dengan pria ini, tapi di mana ya aku ketemu dia selain waktu resepsi," gumam Fay dalam hatinya setelah menatap Raka beberapa saat lamanya.


Fabi mulai mencairkan suasana setelah melihat perubahan wajah Arvin. Ia mengalihkan pembicaraan ke topik yang lain agar suasana kembali mencair. Keempat pria itu pun akhirnya duduk di sofa yang ada di sana.

__ADS_1


"Sayang, tunggu aku di kamar saja. Lebih baik kamu istirahat dulu," ucap Arvin seraya menatap Fay penuh arti.


...🌹Selamat Membaca🌹...


__ADS_2