Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Datang ke kantor,


__ADS_3

Sang surya telah hadir di cakrawala timur. Sinarnya berhasil menyibak langit yang gelap, karena tidak ada satupun bintang yang hadir. Segala aktivitas akhirnya dimulai setelah tubuh beristirahat di balik selimut tebal.


"Sebaiknya aku ke kantor lebih pagi dengan membawa sarapan untuk Arvin," gumam Fayre setelah meregangkan otot-otot tubuhnya. Wanita cantik itu segera turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.


Beberapa puluh menit kemudian, Fay keluar dari kamar mandi. Dia segera masuk walk in closet untuk bersiap sebelum menemui Arvin di kantor. Dia harus berangkat cepat agar tidak terjebak macet di pusat kota.


"Akhirnya selesai juga," gumam Fay setelah selesai bersiap. Dia segera keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur untuk membawa menu sarapan favorit Arvin.


"Sudah siap, Bi?" tanya Fay setelah menghampiri ART yang biasa dipercaya untuk menyiapkan makanan di rumah ini.


"Sudah, Nyonya." ART tersebut segera memberikan paperbag berisi makanan seperti yang sudah dipesan Fay tadi malam.


Pagi ini Fayre minta diantar sopir agar lebih cepat sampai ke kantor. Dia sendiri tidak suka berkendara di pagi hari karena jalanan terlalu ramai dan banyak hal yang harus dia amati agar tidak menimbulkan kecelakaan.


"Berangkat sekarang, Pak," ucap Fay setelah masuk ke dalam mobil.


"Baik, Nyonya," ucap sopir tersebut sebelum melajukan mobilnya keluar dari rumah ini.


Perjalanan pun akhirnya dimulai. Banyak kendaraan yang berlalu lalang menuju tujuan masing-masing. Sementara Fay, selama dalam perjalanan menuju kantor, dia sibuk dengan ponselnya. Beberapa kali dia mencoba menghubungi Arvin, tetapi tidak ada jawaban. Mungkin saja, Arvin masih tidur. Begitu pikir Fayre untuk menyingkirkan pikiran negatif yang kerap menghampiri.


"Huh! akhirnya sampai juga," gumam Fay setelah menghabiskan waktu selama beberapa puluh menit di jalan. Dia telah sampai di depan lobby perusahaan yang masih sepi. Hanya ada petugas keamanan yang hadir di sana.


"Selamat pagi, Bu Bos," sapa petugas keamanan tersebut.


"Selamat pagi." Senyum manis terbit dari bibir Fay saat menjawab sapaan petugas tersebut.


Fayre melanjutkan langkahnya menuju lift khusus untuk sampai di ruang utama gedung ini. Senyum manis seakan tidak bisa pudar dari sudut bibirnya karena membayangkan betapa terkejutnya Arvin setelah melihat kehadirannya di kantor ini. Tidak sampai dua menit, Fay akhirnya sampai di lantai teratas gedunng ini. Dia segera melangkah menuju ruangan sang suami. Namun, langkahnya harus terhenti di depan pintu ruangan ketika ada seorang wanita keluar dari sana. Fayre mengernyitkan keningnya karena tidak pernah melihat wanita tersebut sebelumnya.

__ADS_1


"Siapa dia?" gumam Fay saat berpapasan dengan wanita yang memiliki bentuk tubuh proporsional dan terlihat cantik dan anggun.


Fayre membalikkan tubuhnya untuk melihat arah pergi wanita tersebut. Rupanya wanita itu masuk ke dalam lift umum. Bukan tanpa sebab Fayre penasaran dengan sosok tersebut, karena saat ini masih terlalu pagi bagi seorang karyawan masuk ke kantor.


"Lebih baik aku bertanya langsung ke Arvin," gumam Fayre sebelum melanjutkan langkahnya menuju ruangan Arvin.


Ruangan kosong. Hanya itu yang dilihat Fayre saat ini. Setelah masuk ke dalam ruangan tersebut, Fay meletakkan paperbag berisi sarapan untuk Arvin di atas meja. Lantas dia berjalan menuju ruang khusus yang biasa dipakai Arvin istirahat. Tanpa mengetuk pintu, Fayre menerobos masuk begitu saja.


"Fay!"


Kehadiran wanita cantik yang sedang berdiri di ambang pintu sontak membuat Arvin terkejut. Apalagi, saat ini dia sedang mengenakan kemejanya. Tatapan mata Fayre terlihat menelisik seisi kamar tersebut.


"Se ... sejak kapan kamu datang?" Arvin terbata saat bertanya tentang hal itu, "kenapa tidak memberi kabar kalau datang ke sini?" tanya Arvin tanpa menatap Fay. Dia sedang mengancingkan kemejanya.


"Aku sudah menghubungimu, tapi tidak ada jawaban," jawab Fay setelah duduk di tepi ranjang.


Ada rasa curiga yang menelusup ke dalam hati ketika mengamati apa yang sedang dilakukan sang suami. Seorang wanita baru saja keluar dari ruangan dan kini Arvin sedang memakai pakaian. Lalu, bagaimana bisa pikiran tetap positif jika situasinya seperti ini?


"Tidak. Aku tidak boleh berpikir negatif." Fayre bergumam dalam hati saat menyangkal semua pikiran buruk itu.


Arvin membalikkan tubuhnya setelah selesai merapikan kemejanya. Dia menaikkan satu alisnya ketika melihat ekspresi wajah sang istri yang menurutnya aneh. Akhirnya, Arvin pun duduk di sisi Fayre, lantas dia meraih telapak tangan yang halus itu dan digenggamnya.


"Ada apa?" selidik Arvin tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik sang istri.


"Siapa wanita cantik yang baru saja keluar dari ruanganmu?" tanya Fayre seraya menatap Arvin dengan intens.


Arvin tak segera menjawab pertanyaan itu. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan seakan sedang mencari sesuatu. Ekspresi wajahnya berubah, seperti seseorang yang sedang ketahuan main mata dengan wanita lain.

__ADS_1


"Wanita?" Pria itu malah bertanya balik, "Tidak ada wanita yang datang ke ruangan ini, Fay!" sangkal Arvin.


"Masa sih? Aku tadi melihat dia keluar dari ruangan ini," ujar Fay tanpa mengalihkan pandangannya.


Fayre beranjak dari tempatnya karena Arvin tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dia keluar dari ruang pribadi ini, meninggalkan Arvin begitu saja. Langkahnya terhenti di balik meja kerja sang suami dan dia pun duduk di sana.


Laptop berwarna hitam itu pun akhirnya terbuka. Fay mengetik sandi untuk membuka akses laptop tersebut dengan angka yang pernah ditunjukkan oleh Arvin. Lantas, dia mencari sesuatu yang bisa menjawab rasa penasarannya.


"Berapa sandi untuk membuka akses CCTV?" teriak Fayre.


Mendengar suara lantang sang istri, Arvin pun keluar dari ruangan pribadi. Dia berjalan menuju tempat Fayre berada saat ini dan berdiri di dekat Fayre. Dia membungkukkan tubuh sambil mengetik deretan angka yang menjadi kunci akses.


Setelah terbuka, Fayre pun segera mencari data rekaman pagi ini sebelum dia datang. Tidak lama setelah itu, wanita cantik itu menemukan rekaman di mana wanita yang dimaksud masuk ke dalam ruangan ini.


"Ini wanita yang aku maksud!" ujar Fay seraya menunjuk video yang terjeda, di mana saat wanita cantik itu masuk ke dalam ruangan.


Arvin mengamati video di layar laptop itu untuk memastikan siapa wanita tersebut. Bahkan, dia sendiri tidak tahu jika ada yang masuk ke dalam ruangannya. Dia terus memperhatikan apa saja yang dilakukan wanita cantik itu di dalam ruangannya.


"Oh, dia Amelia Wardah. Dia mahasiswa magang. Biasanya dia membantu pekerjaan pak Rofan," ucap Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.


Fayre tidak menjawab ucapan tersebut, dia masih mengamati apa saja yang dilakukan wanita bernama Amelia itu di ruangan suaminya, agar tidak ada lagi rasa curiga yang menghantui. Setelah selesai melihat rekaman CCTV di layar laptop itu, akhirnya Fayre bisa menghilangkan rasa curiga yang sempat menghantui karena wanita itu hanya menyiapkan berkas di meja Arvin.


"Maaf aku sempat curiga jika kamu macam-macam dengan wanita cantik itu," ucap Fayre saat menengadahkan kepala agar bisa menatap wajah sang suami, "kalau begitu mari kita sarapan. Aku membawakan menu sarapan favoritmu." Senyum yang sangat manis mengembang begitu saja dari bibir berwarna merah itu.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2