Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kado ulang tahun spesial,


__ADS_3

Keesokan hari,


Tirai berwarna putih yang menutupi kaca besar di kamar telah terbuka. Sinar sang mentari berhasil membuat kamar yang gelap menjadi terang. Seketika tubuh meringkuk yang ada di atas ranjang itu pun mengubah posisi membelakangi kaca.


"Bangun!" ujar Fay sambil memukul ****** Arvin dengan keras. Pasalnya ia kesal setelah beberapa kali mendaratkan kecupan mesra, akan tetapi sang empu tak kunjung bangun.


"Aku gak ke kantor," gumam Arvin tanpa membuka kelopak matanya.


Fay mengernyitkan keningnya setelah mendengar jawaban tersebut. Ia penasaran saja kenapa Arvin tidak ke kantor padahal hari ini masih hari jumat. Fay pun beranjak dari tempatnya. Ia memutuskan keluar ke balkon kamar untuk merasakan kehangatan sang mentari.


Udara segar di pagi hari menerpa wanita cantik yang sedang berdiri di balkon kamar. Helaian rambutnya menari-nari setelah merasakan hembusan angin di pagi hari. Sementara kedua tangannya menggenggam erat pagar pembatas balkon.


Hembusan nafas yang berat terdengar di sana. Fay kesal karena sejak tadi malam hingga saat ini ia menunggu sesuatu yang terucap dari bibir suaminya. Akan tetapi hingga saat ini pria itu masih asyik bersama mimpinya.


"Dia gak peka banget sih!" Fay menggerutu sambil menatap halaman luas rumah yang ia tempati.


Kata-kata romantis yang diharapkan Fay, sepertinya hanya menjadi angan semata. Menunggu hal yang tidak pasti rasanya percuma saja. Lagi dan lagi Fay hanya menghela napas karena sikap acuh sang suami di hari spesialnya.


"Jangankan kado, ngucapin aja enggak!" gerutunya saat membayangkan mendapat kejutan romantis dari Arvin.


Fay terkesiap setelah merasakan ada tangan di pinggangnya. Ternyata, pemilik tangan itu adalah Arvin. Ia merasakan dekapan hangat dari pria yang ada di belakangnya itu. Hembusan napas berat terdengar di dekat daun telinga Fay.


"Mandi sana!" ujar Fay dengan ketus.


"Aku sudah mandi, Fay! Tinggal ganti baju aja," jawab Arvin setelah memposisikan kepala di atas bahu yang terbuka itu.


"Ya sudah sana, ganti baju! Setelah itu kita sarapan," ucap Fay tanpa menoleh ke samping.


Arvin tersenyum simpul setelah mendengar ucapan ketus sang istri. Ia tahu jika saat ini Fay kesal dengan dirinya. Memang inilah tujuan Arvin saat ini, membuat Fay kesal dengan pura-pura tidak mengerti jika hari ini dirinya ulang tahun.


"Oke. Kalau begitu kita sarapan sekarang saja," ucap Arvin seraya mengurai tubuhnya. Ia meninggalkan Fay di sana seorang diri, sementara dirinya kembali ke dalam kamar.

__ADS_1


Bibir berwarna merah itu mengerucut sempurna setelah melihat sikap yang ditunjukkan oleh Arvin. Fay menghentakkan kakinya beberapa kali setelah Arvin hilang dari pandangan.


"Ngeselin banget sih!" ujar Fay sebelum masuk ke dalam kamar.


Tanpa menunggu Arvin keluar dari walk in closet, Fay keluar dari kamar dan berjalan menuju ruang makan yang ada di lantai satu. Moodnya mendadak hancur dan membuatnya malas melakukan apapun pagi ini. Beberapa menit kemudian, Arvin sudah berada di ruang makan. Fay menatapnya sekilas dengan tatapan heran, mungkin karena saat ini Arvin memakai pakaian yang rapi. Sarapan akhirnya dimulai tanpa ada yang bicara, hanya suara sendok dan garpu yang bersahutan untuk menjadi musik pengiring di pagi hari.


"Setelah ini ikut aku menemui klien. Pakai dress yang sudah aku siapkan di atas ranjang," ujar Arvin setelah menghabiskan makanannya.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Tepat pukul sepuluh pagi mobil sport yang dikendarai Arvin sendiri keluar dari gerbang yang menjulang tinggi. Meski sudah tampil cantik dengan balutan dress berwarna merah muda serta make-up tipis yang membuat wajahnya semakin terlihat cantik, Fay tetap cemberut seperti sebelumnya.


"Kamu ini kenapa sih, Fay?" tanya Arvin saat menatap wajah cantik di sampingnya.


"Gak papa," jawab Fay dengan pandangan lurus ke depan.


Keheningan kembali terasa di dalam mobil tersebut. Arvin sengaja membiarkan sang istri terus seperti itu karena tidak lama lagi, mobil yang dikendarainya akan sampai di tempat tujuan. Rasanya, ingin sekali Arvin menggigit bibir berwarna merah itu agar tidak cemberut lagi.


"Ayo keluar," ucap Arvin sebelum membuka pintu mobilnya.


"Mau ngapain kita di sini, Vin? Mau ketemu bu Lisa maksudmu?" tanya Fay dengan tatapan tajamnya.


"Udahlah turun saja! Ada hal penting yang harus kita selesaikan di sini," ucap Arvin sebelum keluar dari mobil.


Rasa penasaran semakin memenuhi isi kepalanya. Fay segera keluar dari mobil tanpa menunggu Arvin membukakan pintu untuknya. Tangan mulus itu pun digenggam erat oleh Arvin saat berjalan memasuki rumah bernuansa klasik itu.


"Hati-hati, Vin! Jangan sampai bu Lisa membahayakan kita," ucap Fay saat langkahnya sampai di teras rumah.


"Tenanglah!" ucap Arvin setelah sampai di depan pintu. Ia menekan bel yang ada di samping pintu.


Arvin memutuskan untuk membuka pintu tersebut setelah menekan bel tiga kali tapi tidak ada jawaban. Kedua pintu berwarna cokelat itu pun akhirnya terbuka lebar dan berhasil membuat Fay tercengang setelah melihat apa yang ada di balik pintu.

__ADS_1


"Surprise!"


Teriak beberapa orang yang ada di sana sambil meniup terompet. Fay membekap mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini. Mata indah itu mulai berembun setelah melihat kejutan pesta ulang tahun di dalam ruang tamu rumah lamanya.


"Selamat ulang tahun, Fayre!" teriak Fabi, Toni dan kedua wanita yang menjadi kekasih Fabi dan Toni.


Fay membekap mulutnya setelah mendengar ucapan tersebut. Ia terharu karena mendapatkan kejutan yang berhasil membuatnya benar-benar terkejut. Seketika, ia mengalihkan pandangan ke samping untuk melihat sosok yang dinilainya menyebalkan itu.


"Selamat ulang tahun, Istriku," ucap Arvin seraya menangkup wajah cantik tersebut dengan kedua tangannya, "semoga Tuhan selalu memberimu kebahagiaan," ucapnya sebelum mendaratkan kecupan mesra di kening tersebut.


Fay menitikkan air mata setelah mendengar doa yang diucapkan oleh suaminya itu. Ia terharu karena semua kejutan yang sudah disiapkan oleh Arvin. Ada kue tart dan beberapa perlengkapan pesta lainnya.


"Terima kasih, Sayang," ucap Fay sebelum mendaratkan kecupan mesra di bibir Arvin hingga kecupan itu semakin lama berubah menjadi cumb*an mesra.


"Ehem!" Semua orang yang ada di sana membuang pandangan ke arah lain setelah melihat adegan mesra itu.


Fay merasa malu setelah sadar jika ada beberapa pasang mata yang melihatnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan tersebut untuk menutupi wajah yang bersemu merah itu.


Mereka semua beralih menuju ruang tamu untuk melaksanakan acara selanjutnya. Kue tart yang sangat indah sudah siap di meja bundar itu dengan beberapa perlengkapan yang lain. Fay memejamkan mata untuk memanjatkan doa terbaik sebelum meniup lilin yang ada di atas kue itu.


Beberapa menit kemudian, seorang pria datang dari dalam rumah tersebut sambil membawa nampan yang ditutup dengan tudung saji. Arvin memberikan isyarat agar pria tersebut mendekat.


"Buka kado mu, Fay!" ucap Arvin seraya memberikan kode kepada Fay agar membuka tudung saji berwarna merah itu.


Fay mengernyitkan keningnya setelah melihat map merah di atas nampan tersebut. Lantas ia segera membuka map tersebut untuk mengobati rasa penasarannya. Ternyata di dalam map ada sertifikat rumah dan yang membuat Fay tercengang adalah ada nama 'Kyomi Fayre' tertulis di sana sebagai pemiliknya.


"Ya, itu kado ulang tahunmu. Rumah ini adalah milikmu. Aku sengaja membeli rumah penuh kenangan ini sebagai kado yang mungkin berarti dalam hidupmu, Fay," ucap Arvin setelah melihat tatapan mata penuh arti dari sang istri.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2