Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Fay mendadak licik.


__ADS_3

Bali.


"Sudah siap?" tanya Arvin setelah melihat Fay beranjak dari tempatnya.


Kedua sudut bibir Arvin mengembang sempurna setelah melihat penampilan sang istri kali ini. Ia bahagia saja melihat Fay percaya dan mau mengikuti sarannya. Malam ini di matanya, Fay terlihat begitu menggoda dengan pakaian sedikit terbuka di bagian atasnya.


"Pakai mantel nya dulu," ucap Arvin setelah menyerahkan coat (jaket mantel) kepada istrinya itu. Meski ia sendiri suka melihat penampilan Fay saat ini, bukan berarti ia suka jika banyak pria yang menatap sang istri.


Sebelum berangkat, Fay meraih paperbag berisi kado untuk Fabi. Mereka berdua segera keluar dari kamar hotel untuk berangkat ke club malam yang sudah disiapkan Fabi untuk pesta. Club malam tersebut sangat dekat dengan hotel. Hanya berjalan selama lima menit saja, mereka berdua sampai di sana.


Arvin sengaja menginap di hotel tersebut. Selain nyaman dengan kamar yang disewakan, hotel itu pun cukup strategis, karena dekat dengan beberapa pariwisata dan tempat hiburan malam di Bali. Fay tak melepaskan lengan Arvin dari lilitan tangannya selama berjalan menuju club tersebut. Mereka berdua tersenyum bahagia di bawah langit gelap ini. Gemerlap bintang yang menjadi saksi betapa bahagianya pasangan tersebut.


"Aku gugup, Vin," gumam Fay setelah sampai di depan club tersebut.


"Tenanglah! Aku tidak akan lama," ucap Arvin sebelum mengeluarkan kartu untuk reservasi di club tersebut. Kedatangan mereka berdua disambut oleh petugas keamanan. Arvin dan Fay disuruh menunjukkan kartu akses yang terselip di kartu undangan kala itu.


Gemerlap lampu dan suara musik mulai merasuk ke dalam indera pendengaran. Kedatangan Arvin dan Fay disambut hangat oleh Fabi dan kekasihnya. Tidak lupa Fay memberikan paperbag berisi kado kepada Faby.


"Terima kasih, Bro, sudah hadir di pesta gue," ucap Faby sambil menepuk bahu Arvin.


"Gue pasti datang dong, ya, meskipun tidak bisa nemenin lu sampai pagi di sini," ucap Arvin seraya menatap Fay sekilas.


"Gak masalah, Bro, yang pasti kadonya udah gue terima nih," kelakar Faby dengan diiringi senyum lebar, "silahkan cari tempat, Bro. Toni dan Raka udah di dalam," ujar Faby seraya menunjuk di mana tempat kedua temannya berada.


Arvin pun mengajak Fay untuk mencari keberadaan temannya. Pada akhirnya mereka sampai di tempat Raka dan Toni berada. Ada dua wanita sexy yang menemani mereka di sana.


"Kamu boleh lepas coat nya di sini, Fay," ucap Arvin di dekat telinga sang istri.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Fay melepas mantel yang menutupi bagian atas tubuhnya. Ia mencoba bersikap biasa meski ada rasa tidak nyaman yang merasuk ke dalam tubuh. Suasana remang-remang setidaknya membuat samar bagaimana penampilan Fay saat ini.


"Gak pengen joget, Bro?" tanya Raka sambil menunjuk para tamu undangan yang sedang asyik meliuk-liukkan tubuh mengikuti musik DJ terkenal di negara ini.


"Nanti lah. Elu aja kali duluan," jawab Arvin seraya menatap Raka. Ia mencoba menerka apakah temannya itu akan melakukan sesuatu malam ini.


Suasana club malam itu semakin ramai karena para tamu undangan mulai berdatangan. Sepertinya acara inti akan dimulai karena DJ wanita itu memanggil Fabi agar naik ke atas panggung. Semua tamu undangan pun di harap ikut berkumpul di depan panggung.


"Vin, aku mau ke toilet. Di mana toiletnya?" tanya Fay seraya mengedarkan pandangannya.


"Coba kamu lihat ke arah kiri. Itu adalah pintu menuju toilet. Mau aku antar?" Arvin beranjak dari tempatnya.


"Gak usah. Aku sendiri saja. Lebih baik tunggu aku di sana saja." Fay menunjuk tempat tak jauh dari tempat orang-orang berdiri.


Tujuan Fay ke toilet bukanlah untuk kencing atau buang hajat. Ia hanya ingin mencari tempat sepi untuk bernapas dari keramaian club tersebut. Ia merasa pusing karena bingung berada di tempat seperti itu.


Setelah beberapa menit berada di sana. Akhirnya, Fay kembali ke tempat semula. Ia berjalan dengan santainya menuju meja, di mana tempatnya berkumpul bersama Arvin dan teman-temannya tadi. Namun, langkah tersebut harus terhenti ketika Fay melihat Raka sedang mengedarkan pandangan. Ia curiga dengan gerak-gerik yang ditunjukkan oleh Raka saat ini.


"Mau ngapain itu cowok?" Fay bergumam tanpa mengalihkan pandangan dari Raka.


Fay terus mengawasi Raka yang sedang mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Ia curiga dengan isi botol kecil yang ada dalam genggaman tangannya itu, akan dimasukkan ke dalam gelas minuman Arvin. Benar saja, apa yang diduga Fay akhirnya terjadi. Ia melihat langsung jika Raka menuang isi botol tersebut ke dalam gelas suaminya.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" ujar Fay setelah melihat Raka beranjak dari tempatnya. Ia segera melangkah ke sana untuk melakukan sesuatu.


Fay mengamati keberadaan Raka beserta yang lainnya. Setelah aman, Fay menukar gelas milik Arvin dengan gelas Raka, karena kebetulan minuman tersebut sama.


"Rasain! Dasar cowok nakal!" ujar Fay setelah melakukan tugasnya.

__ADS_1


Fay memutuskan untuk bergabung bersama sang suami untuk mengikuti acara inti. Rasa bingung yang sempat hadir, kini mendadak hilang. Fay sangat penasaran saja apa yang akan terjadi kepada Raka setelah ini.


"Mau joget seperti mereka?" tanya Arvin setelah Fay berada di sampingnya.


"Boleh! Ajari aku!" ucap Fay seraya tersenyum penuh arti.


Arvin bahagia karena Fay terlihat nyaman berada di tempat ini. Mereka berdua akhirnya menggerakkan tubuh sesuai dengan alunan musik yang terdengar. Sesekali Fay melirik ke arah meja untuk memastikan tidak ada yang menukar minuman Arvin dan Raka.


"Mau pulang sekarang?" tanya Arvin di dekat telinga istrinya itu.


Fay menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan dari Arvin, "nanti saja. Aku masih ingin di sini," jawab Fay seraya tersenyum penuh arti. Tentu saja, jawaban yang disampaikan oleh Fay berhasil membuat Arvin kembali tersenyum. Ia suka karena Fay mulai bisa mengimbangi dirinya.


"Yes!" ujar Fay dalam hati ketika melihat Raka mengambil minumannya. Ia melihat sendiri Raka menghabiskan minuman itu hingga gelas tersebut kosong.


Senyum manis mengembang dari bibir berwarna merah merona itu. Lantas, ia segera mengalihkan pandangan ke arah lain setelah melihat Raka duduk bersandar di sana.


"Kita duduk yuk, Vin! Aku haus," ucap Fay sambil menarik Arvin ke tempat semula. Fay harus melihat langsung apa yang terjadi kepada Raka setelah ini.


Setelah duduk di sana, Fay melihat Raka tersenyum penuh arti ketika Arvin meneguk minumannya. Ingin rasanya, Fay tertawa lepas di hadapan Raka atas kemenangannya. Fay sudah tidak sabar untuk melihat keadaan Raka setelah ini.


"Aku tahu, jika saat ini kamu pasti tertawa dalam hati ketika melihat Arvin menghabiskan isi gelasnya. Kita lihat saja setelah ini bagaimana kondisimu, Raka!" Fay tersenyum smirk saat bergumam dalam hati.


...๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka๐Ÿ˜๐ŸŒน...


...Syukurin lu, Ka Raka!๐Ÿ˜‚...


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...

__ADS_1


__ADS_2