
Suasana di dalam ruang VVIP itu mendadak menyesakkan dada setelah Raka mendengar pertanyaan wanita yang berdiri di sisi bednya itu. Ia bingung sebenarnya kemana arah pembicaraan istri sahabatnya itu.
"Kenapa tidak menjawab?" cecar Fay tanpa melepaskan pandangan dari sosok pria yang terlihat bingung itu.
"Aku tidak tahu maksud pertanyaanmu. Mana mungkin orang overdosis bisa merasakan enak," jawab Raka dengan suara yang terdengar lemah itu.
"Kalau kamu sudah tahu rasanya seperti itu, kenapa kamu menuang obat itu di gelas suamiku? Kamu sengaja ingin mencelakainya?" cecar Fay tanpa melepaskan pandangan dari wajah Raka.
Raka terbelalak setelah mendengar pertanyaan tersebut. Ia tidak menyangka jika wanita yang terlihat lemah itu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Kepalanya mulai berdenyut karena tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan wanita tersebut.
"Kenapa hanya diam? Terkejut ya karena aku tahu rencana busukmu!" sarkas Fay dengan diiringi senyum smirk.
"Kamu jangan asal menuduh! Mana buktinya?" kilah Raka dengan pandangan yang tak lepas dari Fay.
"Kamu mau bukti?" Fay tersenyum sinis setelah mendengar jawaban dari Raka, "bukti yang nyata adalah dirimu sendiri! Lihatlah bagaimana kondisimu saat ini! Bukankah ini dinamakan senjata makan tuan?" sarkas Fay sekali lagi.
"Asal kamu tahu, aku melihat sendiri bagaimana kamu menuang semua cairan itu ke dalam gelas suamiku. Kamu pun harus tahu, jika aku lah yang menukar gelas Arvin dengan gelasmu!" ujar Fay dengan suara yang terdengar tegas.
"Kenapa? Terkejut ya?" tanya Fay setelah melihat Raka terbelalak.
Pendiam bukan berarti harus diam saja melihat kejahatan fatal yang dilakukan oleh Raka. Kejahatan seperti yang dilakukan Raka sangatlah berbahaya. Fay tidak bisa membayangkan jika Arvin yang menghabiskan minuman itu.
"Kurang ajar! Berani sekali wanita ini!" ujar Raka dalam hatinya. Tangan kirinya terkepal karena emosi setelah mendengar pengakuan dari Fay.
"Aku tidak tahu apa yang membuatmu tega melakukan semua ini kepada suamiku. Yang pasti, aku tidak akan membiarkan kamu merusak rumah tanggaku," ujar Fay seraya menatap Raka dengan tatapan penuh amarah, "sekali lagi kamu melakukan kejahatan, jangan salahkan aku jika nanti mertuaku tahu semua yang sudah kamu lakukan!" ancam Fay dengan tegas.
Harga diri Raka rasanya runtuh dan hancur setelah mendengar seorang wanita mengancam hidupnya. Jika saja Arvin yang melontarkan semua itu, maka rasanya tidak sesakit ini. Ia bisa saja mengelak karena sahabatnya itu tidak tahu kejadian ini. Sementara wanita yang berdiri di sisi bednya itu telah mengetahui dengan detail apa saja yang sudah ia lakukan tadi malam.
__ADS_1
"Permisi," ucap Fay sebelum meninggalkan Raka seorang diri di ruangannya.
"Aah! Sialan! Berani sekali wanita itu!" Raka memukul bed tempatnya terbaring saat ini. Kondisi yang lemah membuatnya tidak bisa melawan argument Fay.
Sementara itu, di tempat lain Fabi dan Arvin sedang berbicara serius. Arvin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi seperti cerita yang disampaikan oleh Fay. Fabi menghela napasnya setelah mendengar kronologi yang dialami oleh Raka.
"Gue harap lu bisa menjaga rahasia ini, Bi," ucap Arvin seraya menatap Fabi.
"Lu tenang aja, Vin. Lagi pula gue juga gak suka dengan cara Raka seperti itu. Gue tidak tahu apa motif Raka yang sebenarnya sehingga dia nekat melakukan semua itu. Lebih baik kita pura-pura tidak mengerti saja," ucap Fabi sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
Obrolan serius terjadi di antara kedua pria tersebut. Fabi masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran Raka. Ia menyarankan kepada Arvin agar memantau setiap gerak-gerik Raka. Jika sekali lagi Raka berusaha mencelakainya, maka Fabi pun berjanji untuk membantunya. Ia tidak mau pertemanan yang sudah lama terjalin harus berantakan karena satu orang saja.
"Lu harus bersyukur, Men, punya bini macam Fay. Dia bisa melengkapi keteledoran dan ketidaktelitian lu!" ujar Fabi dengan diiringi senyum tipis.
"Eh, sialan lu ya!" Arvin menoyor lengan Fabi setelah mendengar kata-kata menohok dari Fabi, "ayo balik! Gue takut si Fay diapa-apain sama Raka," ucap Arvin seraya beranjak dari kursinya saat ini.
"Ayo pulang!"
Fay menengadahkan kepala untuk menatap pemilik suara yang sangat dikenali itu. Ia segera beranjak dari tempatnya dan tak lupa pamit kepada Fabi. Sepasang suami istri itu pun akhirnya pergi meninggalkan Fabi seorang diri di sana.
"Kita jadi ke pantai kan?" tanya Fay setelah masuk ke dalam mobil.
"Jadi dong!" jawab Arvin sebelum menyalakan mesin mobilnya.
Perjalanan menuju pantai yang tak jauh dari hotel akhirnya dimulai. Mereka berdua tidak lagi membahas masalah Raka. Menyusun rencana pulang ke Jakarta jauh lebih baik daripada harus membicarakan Raka yang overdosis.
"Nanti malam kita harus pulang ke Jakarta, karena besok ada rapat bersama para direksi," ucap Arvin saat teringat ada jadwal penting di hari esok.
__ADS_1
"Oh, oke. Kalau begitu di pantai tidak usah lama-lama," jawab Fay setelah mendengar penjelasan Arvin.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit lamanya, mereka pun pada akhirnya sampai di tempat tujuan. Suara deburan ombak mulai terdengar setelah sepasang suami istri itu keluar dari mobil. Mereka berjalan dengan bergandeng tangan selama menapaki jalan setapak menuju bibir pantai.
"Kita ke sana saja," ucap Fay sambil menunjuk tempat kosong yang ada di dekat pantai.
Beberapa jam ke depan, matahari akan tenggelam. Banyak orang menanti momen indah ini. Begitu pun dengan sepasang suami istri itu, mereka tengah menanti saat-saat bola raksasa berwarna jingga tenggelam saat berada dalam persimpangan waktu.
"Jalan-jalan yuk!" ajak Fay setelah melihat siluet jingga di cakrawala barat.
Arvin pun beranjak dari tempatnya. Ia menggenggam tangan sang istri saat berjalan menyusuri bibir pantai. Suara deburan ombak seakan menjadi musik pengiring dalam perjalanan mereka berdua. Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata keduanya.
"Akhirnya mimpiku terwujud. Aku bisa melihat matahari tenggelam bersama pria yang aku cintai. Mimpi yang dulu hanya menjadi angan, kini telah menjadi kenyataan." Fay bergumam dalam hati tanpa melepaskan pandangan dari wajah tampan sang suami.
Mereka berdua memutuskan duduk di atas pasir putih itu, sambil menatap cahaya jingga yang semakin terlihat. Bola jingga itu terlihat semakin besar di saat mendekati batas kuasanya.
"Fay, berjanjilah kepadaku untuk selalu setia. Jangan pernah membayangkan pria lain dalam hidupmu. Cukup aku saja yang menemanimu sampai napas ini berhembus untuk yang terakhir kalinya," ucap Arvin sebelum mendaratkan kecupan mesra di punggung tangan Fay.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga sukaπΉ...
ββββββββββββββββ
Hallo semua π Ada rekomendasi karya super keren untuk kalian nihπKuy jangan lupa buat baca karya author Rifah_Musli dengan judul Gugatan Satu Miliar. Nah, dari judulnya aja udah keren kan? Penasaran? Kuy langsung capcus bacaπ
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1