Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Sedingin Salju,


__ADS_3

Suara kicauan burung terdengar syahdu ketika Fay keluar dari kamarnya. Ia berdiri di pinggir pagar pembatas balkon kamar, sambil menatap siluet jingga yang terbentang luas di cakrawala timur. Sesekali ia memejamkan mata untuk menghirup udara pagi. Bahkan, sang mentari pun belum menampakkan wujud sempurnanya.


"Aku harus bersiap nih," gumam Fay dalam hati.


Ia kembali masuk ke dalam kamar untuk mempersiapkan diri sebelum berangkat ke gereja. Sebelum masuk ke dalam kamar mandi, Fay menatap sekilas sosok yang masih bersembunyi di balik selimut tebal. Sosok itu tak lain adalah Arvin. Tadi malam pria tampan tersebut pulang pukul satu dini hari dalam keadaan mabuk.


Tiga puluh menit, waktu yang dibutuhkan Fay untuk tampil rapi dengan setelan celana jeans yang dipadukan dengan blous berwana navy. Rambutnya sengaja digerai agar terlihat lebih anggun. Wanita cantik itupun siap berangkat ke gereja.


"Arvin!" Fay menepuk lengan Arvin beberapa kali, akan tetapi tidak ada respon apapun. Sekali lagi Fay mencoba membangunkan suaminya itu agar tidak terlambat mengikuti ibadah rutin di Gereja.


Fay terkesiap ketika tangannya dihempaskan oleh Arvin begitu saja. Ia mengamati pria yang sedang mengubah posisinya itu. Sungguh, Fay terkejut setelah melihat apa yang baru dilakukan oleh Arvin.


"Jangan ganggu aku! Jika mau pergi ke gereja, pergi saja! Minta antar sopir!" ujar Arvin tanpa membuka kelopak matanya. Suaranya terdengar lantang di indera pendengaran Fay.


Tanpa banyak bicara, Fay segera pergi dari kamar tersebut. Kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Arvin menorehkan luka di hatinya. Fay tidak habis pikir, kenapa suaminya itu berubah sikap. Padahal, sebelumnya meskipun dalam pengaruh alkohol, tak sedikitpun Arvin memperlakukannya dengan kasar.


"Nyonya muda, apa tidak sarapan terlebih dahulu?" tanya seorang ART yang berpapasan dengan Fay di ruang tamu.


"Maaf, Bi, saya buru-buru," tolak Fay dengan suara yang terdengar sangat lembut. Selera makannya mendadak hilang karena kejadian di kamar.

__ADS_1


Bulir air mata membasahi pipi ketika Fay dalam perjalanan menuju gereja. Meskipun kecewa kepada Arvin, ia tetap menjalankan perintah dari suaminya itu. Fay pergi dengan diantar sopir pribadi keluarga Bramasta.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa puluh menit lamanya, Fay sampai di salah satu Gereja katolik yang biasa ia kunjungi bersama bu Linda. Fay segera masuk ke dalam Gereja untuk mengikuti ibadah rutin.


Hampir dua jam lamanya, Fay mengikuti setiap kegiatan di Gereja tersebut. Kini, waktunya Fay kembali ke rumah mertuanya. Akan tetapi setelah masuk ke dalam mobil, Fay meminta sopir tersebut untuk pergi ke suatu tempat. Mobil pun melaju ke arah berlawanan kediaman bramasta.


"Nyonya Muda, apakah ini rumah yang Nyonya maksud?"


Pertanyaan yang dilontarkan sopir tersebut berhasil membuyarkan semua lamunan Fay. Ia mengedarkan pandangan ke kanan jalan untuk mengamati sebuah rumah berlantai dua itu. Cukup lama Fay menatap rumah kenangan bersama mendiang kedua orang tuanya, hingga air mata pun tak sanggup lagi untuk dibendung.


"Fay, kangen dengan kalian," gumam Fay dalam hati. Ia mengusap bulir air mata yang membasahi pipi sebelum meminta sopir untuk melanjutkan perjalanannya.


...💠💠💠💠💠...


Sang penguasa sinar perlahan bergerak menuju tempat peristirahatan. Warna biru yang cerah perlahan pudar berganti dengan warna gelap. Detik demi detik terus berlalu begitu saja hingga pada akhirnya tiba di waktu makan malam.


Keheningan begitu terasa di dalam ruang makan tersebut. Sepasang suami istri itu hanya diam saja saat menikmati hidangan yang tersaji di meja makan. Sebenarnya, Fay penasaran apa kiranya yang sudah terjadi dengan suaminya itu. Semenjak pulang dari Clubbing, sikap Arvin mendadak berubah. Ia menjadi dingin seperti sebongkah salju sampai detik ini.


"Apa kamu ingin sesuatu?" tanya Fay setelah melihat Arvin menyelesaikan makan malamnya.

__ADS_1


"Tidak!" jawab Arvin singkat. Tanpa pamit kepada sang istri, Arvin pun berlalu begitu saja.


Fay semakin heran setelah mendengar jawaban Arvin. Berkali-kali Fay mencoba menerka apa kiranya kesalahan dirinya hingga membuat sikap Arvin berubah drastis. Cukup lama wanita cantik itu duduk di ruang makan seorang diri, merenungi segala hal yang mungkin ia lakukan dengan tidak sengaja.


"Ah sudahlah! Mungkin dia ada masalah dengan temannya." Fay mencoba berpikir positif.


Setelah beranjak dari ruang makan, Fay langsung pergi ke kamarnya. Fay tertegun karena tidak menemukan Arvin di kamar. Ia berpikir mungkin suaminya itu berada di ruang kerja pak Bram yang kini ditempati oleh Arvin.


Rasa sepi kembali dirasakan Fay ketika berada di kamar. Nyatanya film Hollywood yang sedang menghiasi layar televisinya tidak bisa meredakan perasaan negatif yang bersarang di kepala. Pikiran Fay tidak bisa diajak kompromi untuk tidak berpikir negatif mengenai sikap sang suami.


Detik demi detik terus berlalu tanpa kenal lelah. Tepat pukul dua belas malam, Arvin masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Fay tertidur pulas di tempatnya. Wajah polos tanpa make-up itu terus ditatap Arvin setelah dirinya duduk di atas ranjang.


Entah mengapa, Arvin sepertinya sangat terluka saat berdekatan dengan Fay. Dalam pandangannya saat ini, Fay bagaikan pisau tajam yang menyayat hati. Arvin merasa dibohongi istrinya sendiri.


"Sebenarnya aku tidak mau percaya! Tapi ada bukti nyata yang menunjukkan siapa dirimu!" gumam Arvin dalam hati.


Helaian napas berat terdengar di sana. Arvin merebahkan tubuhnya di samping Fay. Akan tetapi kali ini, pria tampan tersebut tidur membelakangi Fay. Jarak pun ada di antara keduanya meski tidur dalam selimut yang sama.


Terkadang hasutan menjadikan kita gelap mata, apalagi hasutan tersebut dibumbui dengan garam dan penyedap Rasa. Maka, siapapun itu, pasti merasa jika hasutan tersebut nyata.

__ADS_1


...🌹Selamat Membaca🌹...


__ADS_2