Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Tentang lukisan,


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


"Den Arvin, Ibu dan Bapak sudah menunggu Aden di ruang kerja," ucap ART yang ditugaskan bu Linda untuk memanggil Arvin di kamarnya.


"Iya, Bi, terima kasih," jawab Arvin seraya menatap ART tersebut untuk sesaat.


Arvin segera menutup laptopnya. Sudah tiga hari ini ia menghindari kedua orang tuanya agar tidak mendengar lagi desakan tentang pernikahan itu. Arvin memijat pangkal hidungnya, ia sedang memikirkan keputusan yang tepat untuk masa depannya. Haruskah ia menikahi gadis yang tidak pernah ia kenal sebelumnya? Entahlah, Arvin sendiri tidak tahu. Setelah menghela napasnya yang berat, Arvin pun beranjak dari tempat duduknya. Ia harus menghadapi kedua orang tuanya agar masalah ini cepat selesai.


"Malam, Mi, Pi," sapa Arvin setelah masuk ke dalam ruang kerja ayahnya. Ia melihat kedua orang tuanya duduk bersanding di sofa panjang tersebut.


"Duduk!" titah pak Bram seraya menatap Arvin dengan sorot mata menakutkan.


Arvin pun mengikuti perintah orang tuanya. Ia bersikap biasa saja setelah melihat wajah tak bersahabat ayahnya. Tatapan keduanya saling bersirobok, hingga membuat jantung bu Linda berdegup kencang. Beliau hanya takut, kedua pria tersebut bersitegang.


"Papi hanya ingin mendengar keputusanmu saat ini juga!" ujar pak Bram tanpa basa-basi.


"Bisakah Arvin menolak rencana pernikahan ini?" tanya Arvin seraya menatap mata pak Bram.


"Berikan alasan yang jelas, jika kamu ingin menolak pernikahan ini!" ujar pak Bram setelah menegakkan tubuhnya.


"Papi tidak menerima alasan, karena kamu tidak mencintai gadis itu. Asal kamu tahu, cinta itu bisa datang seiring dengan berjalannya waktu. Kamu saja tidak mau mencoba mencintai wanita lain, mana bisa kamu move on dari mantanmu itu!" Pak Bram beranjak dari tempatnya. Lantas beliau berkacak pinggang menghadap Arvin.


Arvin tertegun setelah mendengar ucapan ayahnya. Ia tidak menyangka saja, jika ayahnya akan mengungkit masalah itu. Sungguh, ucapan pak Bram seperti tamparan keras untuknya.


"Hmmm, atau jangan-jangan kamu perlu dibawa ke dokter? Papi takut jika kamu sudah tidak tertarik lagi dengan wanita," ucap pak Bram hingga membuat Arvin beranjak dari tempatnya.


Mata minimalis itu melebar sempurna setelah mendengar ucapan pak Bram. Arvin menggeleng pelan ketika harga dirinya dipertaruhkan seperti itu. Tentu saja, Arvin masih normal. Ia masih memiliki rasa tertarik kepada wanita, tapi bukan untuk mencintai.


"Di mana Arvin harus menemui gadis itu?" tanya Arvin setelah berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


Bu Linda tersenyum lebar setelah mendengar pertanyaan putranya. Rupanya, ide meragukan ketertarikan Arvin, menjadi jurus ampuh memenangkan masalah ini. Begitu pun dengan pak Bram, senyum tipis terukir di bibirnya.


"Dia ada di apartment Papi," ucap pak Bram seraya tersenyum manis.


Setelah mendengar informasi di mana keberadaan gadis yang akan menjadi calon istrinya, Arvin segera pergi dari ruangan tersebut. Ia bertekad untuk menemui gadis itu daripada harus kehilangan semua fasilitas yang ia rasakan selama ini. Tentu saja, ia pun ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya, jika masih menjadi pria yang normal.


...♦️♦️♦️♦️♦️...


Kabar tentang perjodohan telah terdengar di telinga Fay. Kemarin sore bu Linda sendiri yang datang menemui Fay untuk menyampaikan maksud baik beliau. Bu Linda menyampaikan pesan pak Hardi kala itu dan memutuskan untuk menikahkan Fay dengan putranya.


Fay sempat menolak rencana itu. Akan tetapi karena desakan dan bujuk rayu bu Linda, pada akhirnya Fay bersedia menjadi menantu wanita cantik tersebut. Entahlah, keputusan itu benar atau tidak, yang pasti Fay hanya mengikuti hati nuraninya. Fay pun mengatakan kepada bu Linda agar tidak menyampaikan apapun tentangnya kepada calon suaminya nanti. Fay ingin menyampaikan sendiri semua masa lalu yang sempat dialaminya.


"Huuuh! Aku tidak tahu, apakah pernikahan ini akan menjadi sumber kebahagiaanku atau malah menjadi masalah," gumam Fay ketika menghentikan kegiatannya.


Gadis itu menatap nanar lukisan yang belum selesai itu. Sebuah lukisan kapal pesiar di laut lepas memenuhi canvas tersebut. Entahlah, kenapa Fay membuat lukisan itu. Selama tinggal di apartemen ini, Fay menghabiskan waktunya dengan melukis dan melukis. Hingga di dalam kamarnya ada beberapa lukisan tersimpan di sana.


"Kenapa mood ku mendadak hancur ya," gumam Fay sambil menggerakkan kuasnya ke segala arah.


"Apakah menikah akan membuat hidup lebih bahagia." Fay bergumam sambil menatap gedung-gedung yang menjulang tinggi.


"Entahlah!"


Fay membalikkan tubuhnya setelah mendengar suara seorang pria di belakang tubuhnya. Ia terkesiap ketika melihat sosok pria berkulit putih berdiri di tengah pintu penghubung balkon. Pria tersebut sedang menyandarkan tubuh di bingkai pintu dengan tangan bersedekap.


"Siapa kamu?" tanya Fay setelah tatapan mata keduanya saling bersirobok.


Bukannya menjawab, pria tersebut malah membalikkan tubuh dan berjalan menuju ruang keluarga. Sementara Fay berjalan di belakang pria tak dikenalinya itu. Ia melihat pria tersebut duduk di sofa tunggal yang ada di sana.


"Aku Arvin. Putra pemilik apartment ini," ucap Arvin seraya menatap Fay yang sedang berdiri tak jauh darinya, "duduklah! Tidak usah sungkan," ucap Arvin sambil menunjuk sofa yang berhadapan langsung dengannya.

__ADS_1


Arvin mengamati gadis yang duduk berhadapan dengannya. Sempurna. Begitulah penilaian Arvin tentang kondisi fisik gadis yang sedang menundukkan kepalanya itu. Arvin bisa menyimpulkan jika gadis itu bukanlah gadis bar-bar.


"Siapa namamu?" tanya Arvin setelah beberapa saat membisu.


"Fayre," jawab Fay seraya menatap Arvin sekilas.


Tidak ada pembahasan lagi di antara keduanya. Arvin kehabisan bahan pembicaraan karena Fay lebih cenderung diam. Arvin harus memutar otak untuk mencari cara agar bisa mengorek informasi tentang gadis yang ada di hadapannya itu.


"Itu lukisan siapa?" tanya Arvin ketika menemukan objek untuk mengawali pembahasan.


"Aku," jawab Fayre singkat.


"Kenapa kamu membuat lukisan seperti itu?" tanya Arvin lagi. Arvin benar-benar gemas melihat gadis irit kata di hadapannya itu.


"Tidak ada alasan untuk seseorang berkarya," ucap Fay seraya menatap Arvin, "aku menganggap jika seni adalah wadah untuk mengekspresikan perasaanku." Fay mengalihkan pandangan ke arah tempat lukisannya berada.


Arvin tersenyum tipis mendengar jawaban itu. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke tempat lukisan Fay berada. Ia mengamati setiap warna yang dituangkan Fay dalam lukisan tersebut.


"Seharusnya kamu tidak memberikan warna hitam di sini," ucap Arvin seraya menunjuk bagian dasar kapal yang tergambar di canvas tersebut.


Fay beranjak dari tempatnya karena tertarik dengan koreksi dari Arvin. Sepertinya pria yang sedang menggenggam kuasnya itu, mengetahui seluk beluk dunia seni lukis. Fay hanya bisa tersenyum tipis ketika Arvin membenarkan warna lain di sana.


"Indah. Ya, kamu membuatnya jauh terlihat lebih indah." Hanya itu komentar yang keluar dari bibir Fayre.


...🌹Selamat Membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Rekomendasi karya keren untuk kalian nih 😍 Kuy baca karya dari author Liliani dengan judul My Two Annoying Brothers. Serius dah, gak bakal nyesel baca karya ini😎

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2