
Suasana di ruang makan terasa hangat. Bunga-bunga cinta sepertinya mulai bermekar kembali setelah sempat layu. Pagi ini suasana benar-benar berbeda dari hari-hari sebelumnya karena kedua sudut bibir tak henti mengukir senyuman. Binar bahagia terlihat jelas dari sorot mata sepasang suami istri yang sudah kembali meneguk manisnya sebuah pernikahan.
"Mereka pasti sudah baikan," batin bu Linda setelah mengamati anak dan menantu yang duduk berdampingan di hadapannya.
Bu Linda merasa tergelitik melihat wajah malu-malu yang ditunjukkan oleh Fayre. Sementara Arvin terlihat sumringah seperti seseorang yang baru saja menang undian. Bu Linda harus menahan tawanya ketika mengamati sikap anak dan menantunya itu.
"Mami kenapa sih?" tanya pak Bram dengan suara yang lirih ketika tahu sang istri mengulum senyum.
Bu Linda menggerakkan bola matanya sebagai kode kepada pak Bram agar melihat ke arah pandangannya. Akan tetapi pria paruh baya itu hanya mengedikkan bahunya tanda jika beliau tidak mengerti kode dari sang istri. Hal itu berhasil membuat bu Linda mengerucutkan bibirnya.
"Mami kenapa?" tanya Arvin setelah melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh ibunya.
Bu Linda terkesiap ketika mendengar pertanyaan dari Arvin. Beliau menjadi salah tingkah karena sikapnya diketahui oleh Arvin, "gak papa, Vin. Itu Papi yang bikin gara-gara sama Mami," jawab bu Linda seraya menatap pak Bram.
"Kenapa jadi Papi?" kilah pak Bram karena beliau sendiri tidak tahu menahu tentang semua ini, "lebih baik kita tuntaskan dulu sarapannya, setelah itu kita bisa ngobrol di ruang keluarga," ucap pak Bram seraya menatap satu persatu anggota keluarganya.
Sarapan bersama berlangsung hingga mereka semua menghabiskan makanan yang ada di piring masing-masing. Setelah selesai, semua beranjak dan berpindah tempat menuju ruang keluarga. Hari ini Arvin tidak pergi ke kantor karena tidak ada pekerjaan yang membutuhkan kehadiran dirinya. Berada di rumah bersama sang istri sambil menikmati manisnya madu sepertinya jauh lebih baik mengingat perdamaian baru saja dilakukan.
"Mami ingin bicara dengan kalian berdua," ucap bu Linda setelah sampai di ruang keluarga. Beliau memilih duduk di sisi pak Bram sambil menyilangkan kakinya.
"Silahkan, Mi," ucap Arvin setelah duduk di tempatnya.
"Berhubung semua masalah sudah selesai dan para serangga itu mendapatkan hukuman masing-masing, Mami ingin, kalian segera pergi ke luar negeri untuk liburan sekalian berobat," ucap bu Linda tanpa basa-basi lagi.
__ADS_1
"Ke luar negeri, Mi?" Fayre meyakinkan saran dari ibu mertuanya itu.
"Iya, ke luar negeri. Kalian bisa melakukan pengobatan di Singapura, Jepang ataupun Amerika. Mami sudah tidak percaya dengan pengobatan di sini dan Mami pun masih takut ada oknum yang mengulang kesalahan si Winda," tutur bu Linda seraya menatap Fayre dan Arvin, "mungkin kalian mau ke Eropa? Banyak tempat liburan dan juga rumah sakit yang bisa kalian coba untuk berobat," lanjut bu Linda saat memberikan saran kepada Arvin dan Fayre.
Sepasang suami istri itu hanya diam saja setelah mendengar saran yang disampaikan oleh wanita paruh baya yang terlihat masih cantik itu. Sepertinya tidak ada salahnya pergi ke luar negeri untuk menata kembali perasaan yang sempat tak karuan. Mungkin dengan begitu mereka akan segera hamil dan memiliki generasi penerus keluarga ini.
"Kalau aku pergi ke luar negeri, lalu bagaimana dengan perusahaan?" tanya Arvin setelah teringat ada tanggung jawab yang harus diemban.
"Gak usah khawatir soal perusahaan. Ada Papi dan Rofan yang akan mengurusnya. Ya ... anggap saja kalian bulan madu lagi," ucap pak Bram.
"Baiklah, jika memang ini yang terbaik untuk kami, maka aku akan mempersiapkan semuanya," jawab pria tampan itu tanpa berpikir panjang, "bagaimana, Fay? Kamu setuju kah?" Arvin bertanya kepada Fayre sebelum mengurus semuanya.
"Ya, tentu saja aku setuju," jawab Fayre dengan diiringi senyum yang manis.
"Terima kasih, Pi, Mi. Semoga setelah ini ada kabar baik," ucap Arvin seraya tersenyum tipis kepada kedua orang tuanya, "oh iya, Arvin mau pergi dulu sama Fayre, kami mau jalan-jalan hari ini," pamit Arvin setelah teringat jika tadi malam akan mengantar sang istri pergi ke salon.
"Ya, kalian hati-hati. Have fun, Baby," ucap bu Linda penuh arti.
...----------------...
Mobil hitam kesayangan Arvin telah sampai di halaman luas salon kecantikan ternama di kota tersebut. Sepasang suami istri itu segera keluar dari mobil dan berjalan menuju surganya para wanita—salon—Sepertinya, salon tersebut tidak banyak pengunjung karena baru saja masuk jam buka.
"Kamu yakin ingin melihat aku dengan warna rambut lain?" Fayre meyakinkan Arvin sebelum memasuki salon tersebut. Pasalnya selama ini Fayre sendiri lebih suka rambut berwarna hitam.
__ADS_1
"Tentu. Sesekali aku ingin melihat rambutmu berwarna cokelat atau mungkin kuning," jawab Arvin tanpa berpikir panjang.
"Aih, aku tidak yakin warna itu bagus untukku," gumam Fayre setelah membayangkan bagaimana penampilannya nanti.
Kedatangan suami istri itu disambut ramah oleh pegawai salon. Fayre dan Arvin duduk di meja reservasi untuk konsultasi warna rambut yang cocok untuknya. Arvin memilihkan warna cokelat muda untuk merubah warna rambut itu. Sementara Fayre hanya menurut saja dengan pilihan sang suami.
"Aku tunggu di sana," ucap Arvin sambil menunjuk sofa panjang yang ada di ruang tunggu. Sebelum pergi, Arvin mendaratkan kecupan mesra di puncak rambut sang istri.
"Aduh romantis sekali," puji pegawai salon yang ada di depan Fayre setelah melihat adegan mesra tersebut.
Fayre hanya tersenyum saat menanggapi pujian pegawai salon yang sedang melayaninya itu. Wanita cantik itu beranjak dari tempatnya setelah pegawai salon tersebut mengarahkan ke salah satu tempat treatment.
Sesekali Arvin tersenyum tipis ketika beradu pandang dengan Fayre dari pantulan cermin. Entah mengapa hanya melihat senyum manis dari bibir sang istri saja mampu membuat hati pria tampan itu berbunga-bunga. Semua isi hatinya telah dipenuhi sosok wanita tangguh yang sedang berbicara dengan pegawai salon tersebut.
Masa-masa pahit yang sudah dilalui semakin membuat Arvin sadar jika dia tidak bisa jauh dari wanita berdarah jepang itu. Semakin ke sini Arvin begitu takut kehilangan wanita yang sudah menemaninya selama kurang lebih dua tahun ini. Sungguh, dia tidak rela jika ada pria lain yang berusaha merebut sosok Kyomi Fayre dari sisinya.
"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebutmu dari sisiku Fayre. Cukup sekali aku bertindak bodoh, tapi tidak setelah ini. Apapun yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan!" batin Arvin tanpa mengalihkan pandangannya dari pantulan cermin.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍 Up satu episode lagi ntr malam ya😀Mau dibikin episode nananininunu atau konflik di malam jumat? komen yuk!😎🌹...
...🌷🌷🌷🌷🌷...
... ...
__ADS_1