
Malam telah berganti pagi. Langit yang gelap gulita berubah menjadi cerah setelah sang mentari menampakkan diri. Berbagai kegiatan mulai dilakukan hingga membuat jalanan kota menjadi padat. Semua ingin sampai di tempat tujuan masing-masing dengan cepat agar tidak terlambat.
Aktifitas di gedung perusahaan yang menjulang tinggi itu telah dimulai. Semua karyawan berada di tempat masing-masing dan mulai melaksanakan pekerjaan yang sudah menanti. Sama halnya dengan pemilik perusahaan ini, dia pun sudah berkutat di ruang kerjanya. Memeriksa beberapa proposal proyek untuk disetujuinya.
Tatapan mata yang berawal fokus pada beberapa lembar kertas, kini teralihkan setelah mendengar suara pintu yang diketuk. Rofan masuk ke dalam ruangan tersebut sambil membawa maket yang sudah disusun oleh staf yang bertugas.
"Tuan muda, ini adalah maket dari pembangunan hotel bintang lima di Bandung," ucap Rofan setelah meletakkan maket tersebut di meja lain.
Arvin segera beranjak dari tempatnya untuk memeriksa maket tersebut, tidak lupa ia mengambil proposal rancangan pembangunan proyek tersebut di meja kerjanya. Pria tampan itu mulai memeriksa desain bangunan yang sudah diajukan oleh kliennya.
"Kenapa pak Andi mendesain bangunannya berbeda dengan proposal pengajuannya?" tanya Arvin setelah mengamati ada struktur bangunan yang berbeda.
Rofan menerima proposal yang diberikan oleh Arvin. Pria yang lebih tua dari Arvin itu meneliti kembali lembaran kertas yang ada di tangannya. Memang benar, ada satu struktur yang berbeda dari proposal.
"Saya akan memanggil pak Andi ke ruangan ini," ucap Rofan sebelum berlalu dari hadapan Arvin.
"Pakai telfon saya saja," ucap Arvin seraya mengalihkan pandangan ke meja kerjanya, di mana ada telepon di sudut meja.
Arvin kembali mengamati maket tersebut. Banyak hal yang harus dirubah karena tidak sesuai dengan rancangan. Setelah menunggu selama dua menit, pada akhirnya pak Andi masuk ke dalam ruangan. Beliau menghadap Arvin yang sedang fokus dengan maket yang ada di hadapannya.
"Pak, ini kenapa ada yang berbeda?" tanya Arvin seraya menunjuk bagian maket yang dimaksud.
Pak Andi menjelaskan dengan rinci alasan dibalik perbedaan antara maket dan proposal. Beliau menyampaikan alasan dibalik perbedaan itu hingga membuat Arvin mengangguk beberapa kali. Sesekali Arvin bertanya tentang struktur yang dimaksud oleh pak Andi.
__ADS_1
"Klien kita sebenarnya ingin Pak Arvin sendiri yang membuat desain bangunannya. Katanya mereka suka dengan hasilnya," keluh pak Andi setelah pembahasan maket bangunan selesai.
Ya, klien tersebut selalu datang ke perusahaan ini jika sedang membangun hunian ataupun proyek yang lain. Dulu sebelum Arvin ditetapkan sebagai pemilik dan pemimpin tertinggi di perusahaan ini, dialah yang mendesain semua proyek yang masuk.
"Next time kalau ada waktu senggang, kita bisa membicarakan hal itu, Pak," ucap Arvin sambil menepuk pundak pak Andi.
Setelah pembahasan selesai, pak Andi pamit kembali ke ruangannya. Sementara Rofan masih membantu Arvin di dalam ruangan tersebut. Ia sedang menyusun berkas untuk rapat nanti siang bersama semua jajaran staf. Akan ada pembaruan peraturan dalam perusahaan ini.
"Bagaimana pak Rofan, apa semuanya sudah siap?" tanya Arvin setelah duduk di kursinya. Ia menatap Rofan yang sedang sibuk menyiapkan berkas.
"Sudah. Suratnya akan dikirim pengacara kita nanti sore. Transaksi sudah dilakukan oleh orang-orang kita agar keluarga bu Lisa tidak mengetahui jika Tuan muda yang membeli rumah tersebut," ucap Rofan seraya menatap Arvin.
"Lalu bagaimana kabar pria bernama Reno itu? Apa anak buah kita pernah melapor jika Reno masih berusaha mengganggu Fay?" tanya Arvin tanpa melepaskan pandangan dari wajah Rofan.
"Kalau begitu, tolong cari tahu, apakah dia bekerja di perusahaan tersebut atau sekedar mengunjungi adiknya," ujar Arvin tanpa melepaskan pandangan dari wajah asisten pribadinya itu.
Arvin sedang mempersiapkan kejutan ulang tahun untuk Fay. Setelah Rofan keluar dari ruangannya, Arvin kembali termenung. Ia sedang merancang bagaimana caranya untuk membuat Fay bahagia di hari ulang tahunnya. Ia mencoba mencari referensi di internet tentang kejutan untuk sang istri.
Beberapa referensi kejutan sudah ia dapatkan dari internet. Arvin segera menghubungi Rofan untuk mencari EO yang bisa mengatur tempat yang sudah disediakan olehnya sesuai dengan referensi yang ada di internet. Arvin berinisiatif mengundang ketiga temannya beserta kekasih masing-masing untuk hadir di sana. Dia tidak mengundang teman Fay karena tidak tahu siapa teman istrinya itu.
"Oke, kali ini gak masalah jika Raka nanti hadir di sana," ucap Arvin sebelum membuka ponselnya untuk menghubungi ketiga sahabatnya itu, "semoga Fabi tidak sibuk," gumamnya saat mengetik pesan kepada Fabi.
Beberapa menit kemudian, ponsel Arvin berdering. Ternyata, Panggilan video dari groupnya. Wajah Toni dan Fabi terlihat jelas di sana, sementara Raka belum bergabung dengan mereka. Dua sahabat Arvin itu terkejut setelah mendapat undangan ulang tahun Fayre.
__ADS_1
"Lu serius, Bro? Bini lu yang ulang tahun kok kita yang diundang?" tanya Toni dengan tatapan tak percaya.
"Serius lah! Bini gue gak punya teman, masa iya gue ngerayain berdua doang. Bokap sama nyokap kan lagi di Swiss," jawab Arvin seraya menatap wajah Toni di layar ponselnya, "ajak pacar kalian lah biar rame," lanjut Arvin.
"Gue usahain deh," ucap Fabi tanpa melihat layar, sepertinya pria tersebut sedang berkutat dengan pekerjaannya.
"Nanti gue hubungi lagi deh. Nunggu jawaban si Marsha dulu," ucap Toni setelah terdiam.
Panggilan video berlangsung selama lima belas menit tanpa kehadiran Raka. Entah kemana pria itu hingga tidak bisa mengangkat panggilan dari group. Setelah panggilan selesai, Arvin meletakkan ponselnya dan kembali bekerja.
Detik demi detik terus berlalu begitu saja hingga sampai di waktu makan siang. Kali ini Arvin ingin makan siang di cafetaria perusahaan karena Fay absen mengantar makan siang untuknya. Tadi pagi sebelum dia berangkat ke kantor, Fay sudah berpesan jika tidak bisa datang ke kantor karena sedang belajar teknik lukis yang baru. Kalau sudah begitu, pasti wanita itu tidak bisa diganggu. Teras belakang pun menjadi tempat menuangkan semua ide yang ada di kepalanya.
"Pak Rofan, mari makan siang dengan saya," ucap Arvin setelah membuka pintu ruangan asistennya
Rofan segera beranjak dari tempatnya, kebetulan dia sendiri belum makan siang, "mari, Tuan muda," ucap Rofan setelah berdiri di dekat Arvin.
Kedua pria tersebut mengayun langkah menuju lift untuk turun ke lantai dasar, di mana cafetaria tersebut berada. Obrolan ringan terjadi di antara. keduanya selama dalam perjalanan menuju cafe.
"Kalau ada informasi tentang aset pak Hardi yang dijual, segera hubungi saya, Pak," ucap Arvin setelah sampai di cafe.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·π·...
__ADS_1