Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Kisah miris,


__ADS_3

Adelia Winata, seorang wanita muslim yang berhasil meluluhlantakkan perasaan pria tampan bernama Arvin Axelle. Adel, begitu nama panggilannya. Dia adalah cinta sekaligus penyebab tertutupnya hati Arvin untuk wanita lain. Perbedaan agama menjadi penghalang besar hubungan mereka berdua. Orang tua Adel menolak keras kehadiran Arvin di tengah-tengah keluarganya. Pihak keluarga bersedia menerima Arvin jika dirinya bersedia untuk menjadi seorang muslim. Tentu, Arvin pun tidak bisa meninggalkan agama yang selama dipilihnya. Dulu Arvin pun seorang pria yang taat dengan agama. Setiap hari minggu dia berangkat ke Gereja bersama bu Linda.


Namun, semenjak berpisah dengan Adel, dia berubah, baik secara agama dan perilakunya. Kisah cinta yang begitu indah harus kandas begitu saja saat Adel dijodohkan orangtuanya dengan seorang pria asal Bandung. Semenjak saat itu, Adel pun mengikuti suaminya pindah ke Bandung. Mungkin, kedua orangtuanya sengaja melakukan semua itu demi memisahkan Adel dan Arvin.


Sebelum menikah dengan Fayre, Arvin memang sempat berharap Adel akan kembali kepadanya. Namun, Arvin harus menelan pil pahit saat mencoba untuk menghubungi Adel. Penolakan keras dilakukan oleh wanita berhijab itu dan Adel pun berdalih jika dirinya tidak lagi mencintai Arvin. Semua jiwa dan raganya hanya untuk sang suami. Inilah puncak kehancuran Arvin kala itu, jauh sebelum orang tuanya menemukan Fay.


"Miris sekali," ucap Fay setelah Arvin menceritakan semua tentang Adel kepada Fay. Sesuatu yang tertutup rapat dan belum pernah dibahas selama ini.


Arvin berdecak setelah mendengar tanggapan wanita yang duduk di hadapannya. Hanya meja bundar yang menjadi penyekatan kedekatan mereka berdua. Setelah bertemu Adel di tempat parkir, mereka berdua memutuskan masuk ke cafe untuk membahas siapa wanita yang sempat menyapa di tempat parkir motor. Fay mendesak Arvin agar bersedia menceritakan siapa wanita yang membuatnya menjadi kikuk dan terpaku saat melihatnya.


"Bolehkah aku cemburu?" tanya Fay seraya menatap Arvin dengan intens.


"Kenapa harus cemburu? Sementara kamu yang sudah memilikiku, Sayang." Arvin meraih tangan Fay dan diusapnya dengan lembut punggung tangan itu.


"Ya, aku cemburu saja. Sikapmu terlihat aneh saat berhadapan dengan dia, seakan kamu masih mencintainya. Ya, meski itu tidak terucap secara langsung, akan tetapi gerak-gerikmu mewakili perasaan itu sendiri." Fay membuang napasnya kasar setelah mengeluarkan isi hatinya.


Arvin tersenyum simpul setelah mendengar keluh kesah sang istri. Ada rasa bahagia ketika Fay menyatakan jika dirinya cemburu. Tentu hal itu sangat berarti bagi Arvin. Setidaknya, dia tahu jika sang istri sangat mencintainya.


"Dengarkan aku!" Arvin mengangkat tangan Fay dan setelah itu dikecupnya dengan lembut punggung tangan itu, "jangan terlalu berpikir negatif karena apa yang ada dalam pikiranmu belum tentu terjadi," ucap Arvin dengan diiringi senyum yang manis.

__ADS_1


Fayre mencoba tersenyum manis setelah mendengar ucapan menenangkan dari Arvin. Meski sempat khawatir, tetapi wanita bermata sipit itu mencoba untuk meyakinkan diri jika Arvin tidak mungkin berpaling darinya. Semua janji-janji yang sudah diucapkan oleh Arvin terlintas begitu saja dalam pikirannya. Hal itu yang membuat Fay semakin yakin jika Arvin akan menjaga cinta dan kasih hanya untuknya seorang.


"Aku mempercayai semua ucapanmu! Aku sangat berharap jika tidak ada nama Adelia Winata dalam hati ataupun hanya sebatas di pikiranmu," ucap Fay tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah tampan yang ada di hadapannya itu.


...πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ πŸ’ ...


Tepat pukul sepuluh malam, sepasang suami istri itu keluar dari gedung raksasa di tengah kota. Fay bergelayut manja di lengan Arvin saat berjalan melewati tempat parkir motor menuju mobilnya. Sementara beberapa paper bag yang berisi barang-barang belanjaan Fay ada dalam genggaman Arvin.


"Kamu mau kan menemani aku ke Club sebentar?" Sekali lagi Arvin meyakinkan jawaban sang istri yang sempat tercetus saat mereka masih di dalam gedung.


"Iya, Vin! Gak ada pertanyaan lain apa?" Fay terlihat kesal karena sudah tiga kali ini Arvin menanyakan hal yang sama.


"Tidak ada Raka 'kan di sana?" tanya Fay setelah sampai di sisi mobilnya.


"Sepertinya tidak ada," ucap Arvin saat membukakan pintu mobil untuk Fay.


Selang beberapa menit, mobil hitam itu keluar dari area pusat perbelanjaan. Arvin menambah kecepatan mobilnya setelah melewati jalan alternatif agar tidak terjebak macet di pusat kota. Beberapa kali Fay menguap karena merasa lelah setelah berkeliling mencari pakaian kekurangan bahan untuk menyenangkan Arvin.


"Vin, kalau nanti ketemu si Nella itu bagaimana? Aku males banget mendengar suaranya!" keluh Fay setelah mobil yang dikendarai Arvin berhenti di halaman luas club tersebut.

__ADS_1


"Tenang saja, dia tidak akan mungkin melakukannya! Percayalah kepadaku," ucap Arvin seraya tersenyum penuh arti.


Setelah yakin dengan jawaban Arvin, Fay segera keluar dari mobil. Dia membenarkan tatanan rambutnya sebelum menghampiri Arvin yang sedang berdiri di depan mobil. Mereka berdua akhirnya berjalan memasuki Club terbesar di kota tersebut.


Tatapan sinis, itulah yang Fay dapatkan setelah masuk ke dalam Club. Wanita bernama Nella ada di sana saat Fay dan Arvin baru saja sampai di Lobby. Seperti yang dikatakan oleh Arvin, ternyata wanita berambut pirang itu tidak berani mengucapkan apapun kepadanya.


"Bagaimana? Benar 'kan? Dia tidak berani berbuat macam-macam kepadamu," bisik Arvin setelah melewati tempat tante Nella berada.


Suara dentuman musik mulai terdengar nyaring di indera pendengaran Fay. Dia terus berjalan di sisi Arvin sampai masuk ke dalam salah satu ruangan VIP. Benar saja, seperti yang dikatakan oleh Arvin, di dalam ruangan tersebut hanya ada Fabi dan Toni.


"Dia tidak ikut lagi?" tanya Arvin setelah duduk tak jauh dari tempat Fabi berada.


"Dia pindah tempat setelah tahu kamu akan datang. Biasa, dia membawa seorang wanita," jawab Fabi sambil mengamati gelas berisi minum segar yang memabukkan itu di tangannya.


Tidak ada yang mereka lakukan di sana, hanya sekadar bercanda untuk melepas penat selama satu minggu bekerja di tempat masing-masing. Fay ikut tersenyum ketika mendengar pembahasan lucu ketiga pria yang tak jauh darinya. Sesekali Fay menunjukkan sikap manjanya kepada Arvin hingga membuat Toni mengalihkan pandangan ke arah lain.


Biar bagaimana pun, pria yang memiliki tubuh tegap dan tinggi itu mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia tahu jika senyum yang mengembang di bibir Arvin adalah kepalsuan. Semenjak tahu jika dirinya kesulitan memiliki seorang anak, Arvin merasa sedih dan hal itu hanya bisa disampaikannya kepada Toni.


"Gue harap kalian tetap bersama dan hidup bahagia, Maaf gue tidak bisa membantu apapun lagi," gumam Toni dalam hatinya setelah cukup lama mengamati interaksi Arvin dan Fay.

__ADS_1


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


__ADS_2