Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Pergi dari sini!


__ADS_3

Gemerlap lampu room VVIP yang ditempat pak Bram memberikan warna dalam pertemuan santai dengan pengusaha asal Kalimantan. Mereka menghabiskan malam dengan bersantai tanpa membahas masalah pekerjaan.


"Permisi," Suara Angel berhasil mengalihkan pandangan keempat pria yang ada di dalam ruangan tersebut, "maaf sudah mengganggu waktunya, saya hanya mengantar seseorang," ucap Angel sebelum membuka lebar pintu kaca ruangan itu.


Fay segera masuk ke dalam ruangan tersebut saat melihat kode mata dari Angel. Ia harus melakukan pekerjaan ini demi uang yang akan dipakai kembali ke Amerika. Harga diri gadis tersebut rasanya runtuh malam ini.


Pak Fedrick tersenyum simpul ketika melihat Fay hanya menundukkan kepalanya. Pria setengah abad itu rasanya gemas melihat gadis pemalu seperti yang ada di hadapannya saat ini. Berbeda dengan pak Bram, ayah dari Arvin ini justru prihatin melihat sikap yang ditunjukkan Fay saat ini. Beliau tahu jika gadis yang ada di hadapannya itu bukanlah gadis malam yang biasa bekerja di sini.


"Hai Cantik, kemarilah! Tuangkan minum untuk kami," ucap tuan Fedrick dengan diiringi senyum jenaka.


Fay hanya diam sambil mendekatkan diri ke meja persegi panjang itu. Ia meraih botol wine yang ada di atas meja dan segera menuang wine tersebut ke dalam gelas yang ada di sana. Tangannya gemetar hingga membuat botol tersebut bergetar. Mungkin, rasa trauma gadis itu datang lagi setelah melihat tatapan nakal tuan Fedrick dan asistennya.


"Hentikan!" Pak Bram menghentikan kegiatan Fay, karena beliau tidak tega setelah mengamati gestur tubuh Fayre, "kamu boleh pergi dari tempat ini, aku akan mencari wanita yang lain," ujar pak Bram seraya menyerahkan beberapa lembar rupiah untuk Fay.


Apa yang dilakukan pak Bram saat ini berhasil membuat Fay tertegun. Ia tidak menyangka masih ada orang baik yang mengerti kondisinya saat ini. Fay harus menerima uang tersebut, meskipun tidak cukup untuk membeli tiket ke Amerika.


"Terima kasih, Tuan," ucap Fay sambil menatap pak Bram penuh keharuan. Ia segera pergi dari ruangan tersebut dan mengambil koper yang ada di depan.


Ketiga pria yang ada di dalam room hanya diam sambil menatap kepergian Fay. Mereka masih menunggu tindakan apa yang akan dilakukan pak Bram setelah ini. Rofan pun segera beranjak dari tempatnya setelah melihat kode dari pak Bram.


"Pastikan gadis itu keluar dari tempat ini dengan aman! Pesankan wanita istimewa di sini untuk tamu kita," ucap pak Bram seraya menatap Rofan penuh arti.


Rofan segera keluar dari ruangan VVIP itu untuk melakukan tugasnya. Ia mengayun langkah untuk mengikuti Fay seperti yang diperintahkan bosnya. Benar saja, ia melihat Fay ditahan di lobby club tersebut. Rofan harus mengamati terlebih dahulu apa yang akan dilakukan pemilik club ini.

__ADS_1


"Gagal lagi! Kamu mengecewakan tamuku lagi!" teriak tante Nella seraya berkacak pinggang.


"Tidak, Tante. Saya sudah melakukan perintah mereka. Tapi ada yang menyuruh saya keluar dari ruangan," kilah Fay seraya menggeleng beberapa kali.


"Itu sama saja! Mereka tidak menginginkanmu!" Tante Nella terlihat Geram melihat gadis seperti Fay, "berikan uang yang ada dalam genggaman tanganmu itu!" ujar tante Nella seraya menatap tangan Fay.


"Jangan, Tante! Ini uang saya!" Fay menjauhkan tangannya.


Tanpa belas kasih, tante Nella merebut uang tersebut. Wanita berambut pirang itu tersenyum smirk melihat sepuluh lembar rupiah yang baru saja beliau rebut, "anggap saja ini sebagai kerugian atas semua yang sudah kamu lakukan!" ujar tante Nella.


"Permisi!" Rofan datang menghampiri Fay dan tante Nella, "tolong kirim wanita teristimewa ke room VVIP 02! Biarkan saya membawa gadis ini ke tempat lain," ujar Rofan seraya mengerlingkan mata.


Tante Nella tersenyum simpul setelah mendengar ucapan Rofan. Tentu wanita berambut pirang itu mengerti apa yang dimaksud oleh Rofan. Bahkan, tante Nella begitu bersemangat setelah Rofan memberinya beberapa lembar rupiah.


"Ayo." Rofan menarik tangan dan koper milik Fayre keluar dari club ini. Ia membawa Fayre sampai di bahu jalan, "pergilah ke tempat yang aman," ucap Rofan setelah menghentikan langkahnya.


Fay menatap kepergian Rofan dari sisinya. Ia menatap punggung pria tersebut hingga hilang di balik pintu club malam tersebut. Kini, Fay harus mencari cara agar mendapatkan tiket ke Amerika. Ia mulai berjalan menyusuri jalanan malam kota Jakarta sambil menyeret kopernya.


"Kenapa nasibku seperti ini," gumam Fay seraya menatap jalan yang ada di hadapannya.


"Kemana lagi aku harus mencari uang." Fay mengusap air mata yang membasahi pipi.


Fay terus melangkah tanpa arah dan tujuan. Bahkan, ia mengabaikan setiap taksi ataupun ojek yang menawarinya. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa, yang pasti ia tidak mungkin kembali ke neraka yang ditempati nenek sihir tersebut.

__ADS_1


"Lebih baik aku istirahat dulu di sana," gumam Fay saat melihat booth ice cream yang ada di depan mini market.


Setelah sampai di sana, Fay pun memesan ice cream cokelat favoritnya. Mungkin, dengan menghabiskan waktu di tempat ini, pikirannya lebih jernih dari saat ini. Ia menikmati ice cream yang baru saja disajikan oleh pramusaji di atas meja.


Semilir angin malam menyapa sosok gadis yang sedang termenung itu. Desiran angin malam seakan mengerti bagaimana perasaan Fay saat ini. Gadis tersebut merasa hidup sebatang kara di tengah kota besar ini.


"Apa aku jual ponsel ini saja, ya," gumam Fay setelah mengamati ponselnya, "tapi disitu banyak data dan kenangan bersama ayah," lanjutnya sambil mengaduk ice cream cokelat itu.


Cukup lama Fay merenung di tempat tersebut. Ia segera membayar ice cream setelah melihat pramusaji itu mulai berkemas. Fay pun melanjutkan perjalanan tanpa arah itu hingga sampai di depan tempat pengambilan uang. Ia masuk ke dalam ruangan ber AC itu untuk menarik uang yang masih tersimpan dalam tabungannya.


"Hah terblokir?" Fay terkejut setelah melihat kalimat yang muncul di layar mesin ATM tersebut, "Sial! Ternyata nenek sihir itu memblokir rekeningku!" umpat Fay sebelum keluar dari ruangan ber AC itu.


Menangis rasanya percuma saja, karena air mata pun tidak bisa menyelesaikan semua permasalahan ini. Fay kembali berjalan, menyusuri setiap jalan yang tidak ada ujungnya ini. Ia tidak tahu kemana kakinya melangkah dan berhenti.


Ketakutan kembali dialami Fay, ketika ia melewati jalan sepi. Malam semakin larut, kendaraan pun mulai berkurang. Fay semakin mempercepat langkahnya agar segera berlalu dari jalan sepi dan gelap ini. Ia tidak perduli meski kepalanya mulai berdenyut. Rasa sakit mulai melanda kepalanya hingga Fay harus terkejut ketika mendengar suara klakson mobil beberapa kali. Keadaan pun tiba-tiba saja menjadi gelap.


Tin ... Tin ... Tin ....


...🌹Selamat Membaca🌹...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo epribadeh😘Happy satnight yak❤️ Ada rekomendasi untuk nememenin malam minggu kalian nih😍 Kuy kepoin karya dari author Komalasari dengan judul Jerat Asmara Sang Mafia. Gak bakal nyesel deh setelah baca novel keren dari sahabat othor ini😍

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2