Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Rencana konsultasi,


__ADS_3

Indonesia.


Liburan panjang telah usai. Setelah menghabiskan waktu selama dua minggu di Swiss, sepasang suami istri itu harus kembali ke Indonesia. Banyak pekerjaan yang sudah menanti persetujuan Arvin sebagai pemimpin perusahaan. Sementara Fay, dia sempat tidak mau kembali ke Indonesia karena betah tinggal di Grindelwald. Mereka tiba di Indonesia sekitar tiga hari yang lalu. Arvin pun belum aktif ke perusahaan karena masih lelah. Ia bekerja dari rumah dan Rofan lah yang mengantar semua berkas yang membutuhkan persetujuan darinya.


"Setelah pulang, lebih baik kalian konsultasi ke dokter. Kalian periksa kondisi kesuburan masing-masing. Jangan sampai terlambat jika memang di antara kalian ada yang harus berobat."


Begitulah pesan bu Linda kepada Arvin dan Fay sebelum bertolak dari Swiss. Berbekal nasihat tersebut, keduanya mulai mencari informasi dokter kandungan yang ada di di sekitar Jakarta Selatan. Seperti malam ini, mereka menghabiskan waktu di ruang keluarga dengan berselancar dengan gadget masing-masing untuk mencari dokter kandungan recomended.


"Kenapa aku gak mencoba saran dari Toni saja ya," gumam Arvin dalam hati setelah teringat pesan yang disampaikan Toni kemarin malam ketika bertemu di cafe.


Ya, kemarin malam Arvin dan Toni bertemu di salah satu cafe yang biasa mereka tempati saat nongkrong bersama. Tidak ada hal penting yang mereka bahas saat bertemu karena masalah yang sempat dialami oleh Toni telah selesai. Arvin mengajak Toni bertemu hanya karena ingin membantu sahabatnya jika memang memiliki masalah, mengingat saat itu Toni menghubunginya ketika baru sampai di Swiss.


"Mending lu periksa deh, Vin! Siapa tahu bibit unggul lu ada masalah. Soalnya gue pernah dengar tuh saat nyokap bicara sama kakak, jika seseorang yang biasa mengkonsumsi alkohol tuh kesuburannya terganggu,"


"Mending lu periksa ke rumah sakit nyokap. Lu gak bakal malu lah misal memang ada kendala sama bibit lu."


Begitulah pesan yang disampaikan Toni ketika bertemu dengan Arvin kemarin malam. Arvin pun mulai memikirkan saran dari sahabatnya itu. Lagi pula tidak ada salahnya jika melakukan pemeriksaan di rumah sakit milik ibunya Toni, karena dengan begitu dirinya bisa konsultasi dengan bebas karena sudah mengenal ibu sahabatnya.


"Bagaimana jika kita konsultasi ke ibunya Toni saja?" tanya Arvin setelah meyakinkan diri jika tidak ada salahnya mengikuti saran dari Toni.


"Kamu yakin?" Agaknya Fay sedikit ragu dengan keputusan suaminya.


"Yakinlah. Kita bisa konsultasi tanpa rasa sungkan. Aku lumayan akrab dengan tante Winda," ucap Arvin setelah meletakkan ponselnya di atas meja.

__ADS_1


"Oke, aku mengikuti keputusanmu saja." Pada akhirnya Fay lebih memilih untuk mengikuti Arvin, meski masih ada keraguan dalam dirinya.


Mereka mulai membahas kapan waktu yang tepat untuk membuat janji bertemu dengan ibunya Toni. Akhirnya mereka sepakat untuk periksa di akhir pekan nanti. Arvin kembali meraih ponselnya untuk menghubungi Toni terlebih dahulu agar menyampaikan rencananya kepada bu Winda.


"Aku kok tiba-tiba parno gini ya, Vin. Aku takut banget hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita." Fay terlihat cemas saat mengatakan hal ini.


"Jangan overtingking! Kita belum melakukan pemeriksaan. Apapun yang terjadi, aku tetap mencintaimu," ucap Arvin sambil membelai rambut hitam sang istri.


Ya, Fay tiba-tiba saja takut jika hasil pemeriksaan nanti menyatakan dirinya tidak bisa hamil karena ada gangguan. Entah mengapa, pikiran buruk itu seakan memenuhi isi kepalanya. Sungguh, praduga tidak pasti ini berhasil menjadi beban pikirannya.


"Sini kakinya, biar aku pijit," ucap Arvin ketika melihat perubahan ekspresi wajah Fay. Mungkin dengan memanjakannya, Fay akan melupakan pikiran buruk itu.


"Pelan-pelan aja!" ujar Fay dengan sikap yang manja.


"Ih, Arvin! Kamu pengen aku tendang ya!" teriak Fay karena Arvin terus menggodanya, "kamu kangen ya sama tendanganku karena sudah lama tidak merasakannya!" lanjut Fay sambil menurunkan kakinya.


"Iya nih! Aku kok kangen banget ya sana tendanganmu! Setahun ini gak ngerasain lagi bangun tidur di lantai!" Arvin terkekeh setelah mengingat masa pengantin baru yang pernah dialaminya itu.


Kini, Arvin merebahkan kepalanya di atas paha mulus itu untuk dijadikan sebagai bantal. Mereka melanjutkan obrolan hangat di tengah suasana rumah yang sepi. Sesekali Arvin tersenyum ketika mengingat momen lucu yang pernah terjadi di antara keduanya.


"Vin, aku tuh sebenarnya pengen banget pergi Dubai," ucap Fay saat menundukkan kepalanya agar bisa menatap wajah tampan tersebut.


"Gampang itu! Kita bisa berangkat dua bulan lagi setelah proyek besar di Kalimantan selesai," jawab Arvin tanpa berpikir panjang.

__ADS_1


"Serius nih?" Mata indah itu memancarkan binar bahagia.


"Serius lah! Bahkan, jika kamu mau kita bisa keliling dunia." Arvin menaik turunkan alisnya saat beradu pandang dengan Fay.


"Sombong kali kau!" umpat Fay karena kesal melihat sikap jumawa pria yang sedang bermanja-manja di atas pangkuannya itu.


Bukannya marah, Arvin malah tertawa lepas setelah melihat sikap yang ditunjukkan sang istri. Malam itu mereka benar-benar menikmati waktu santai tanpa bermain gadget. Sesekali mereka melihat ke arah televisi saat mendengar berita tentang kejadian yang terjadi di negara ini.


"Eh, kabar perusahaan ayah bagaimana ya? Apa kamu gak pernah mendengar kabar apapun?" Tiba-tiba saja Fay teringat nasib keluarga sambungnya.


"Aku tidak tahu. Setelah kamu memutuskan untuk tidak berurusan dengan mereka, aku pun berhenti bertanya kepada orang-orang yang mengawasi mereka," jawab Arvin sambil mengubah posisinya menjadi miring, "pijit kepalaku, Sayang," ucap Arvin dengan sikap yang sangat manja.


Tanpa protes sedikitpun, Fay memijat kepala yang ada di sampingnya. Pijatan lembut pun mulai dirasakan oleh Arvin. Inilah salah satu alasan yang membuatnya betah berada di rumah. Fay tidak pernah mengabaikannya meski terkadang istrinya itu berubah menjadi menyebalkan dengan mogok bicara. Kumpul bersama ketiga temannya pun jarang dilakukan karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Sementara Raka, sepertinya memang menghindari bertemu Arvin.


"Lebih keras, Sayang. Kurang ke depan lagi, sini!" Arvin mengarahkan tangan sang istri untuk diletakkan di bagian lain kepalanya.


Pijatan lembut yang terasa di kepalanya, berhasil membuat Arvin menjadi nyaman dan damai. Rasanya, pria tampan itu tidak ingin waktu cepat berlalu. Rumah yang dipenuhi banyak cinta dari sang istri berhasil membuatnya terkurung di sana.


"Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirim seorang bidadari cantik sepertimu. Tetaplah bersamaku, Fay. Apapun yang terjadi di masa depan," gumam Arvin dalam hatinya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...


...Oke, kita mulai berjalan menuju konflik puncak nih😂siap-siap yuk!😎...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2