Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Perjuangan besar dimulai.


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Semua anggota keluarga Bramasta terlihat panik karena Fayre akan melahirkan. Sejak pagi buta menantu kesayangan keluarga tersebut sudah mengeluh sakit dan merasakan kontraksi, tentu keadaan ini membuat mereka panik dan segera membawa Fayre ke rumah sakit. Arvin terlihat kacau saat melihat sang istri terus merintih kesakitan. Dia panik karena takut terjadi sesuatu kepada Fayre.


"Hei, Bodoh! Jangan berisik! Jelas aku kenapa-napa! Aku mau melahirkan! Daripada kamu berisik mending kamu diam dan usap-usap itu perutku!"


Ya, kata-kata pedas ini lah yang diucapkan Fayre di saat merasakan nyeri yang begitu hebat di perutnya. Pasalnya, Arvin sangat berisik dan meminta Fayre agar melahirkan dengan cara Caesar. Dia hanya ingin yang terbaik untuk sang istri saat ini.


Hingga menjelang sore Fayre tak kunjung melahirkan. Proses pembukaan pun belum sempurna. Padahal wanita cantik itu sudah berjuang melawan rasa sakit saat mendapat arahan dari dokter Areta agar dia duduk bersila.


"Sayang, kamu pasti bisa melewati semua ini." Hanya ini yang bisa diucapkan Arvin untuk menyemangati Fayre.


Fayre berada di rumah sakit sejak pertama kali merasakan nyeri di perutnya. Semua anggota Bramasta ingin Fayre tetap di rumah sakit meski dokter memperbolehkan untuk istirahat di rumah. Keadaan wanita cantik itu pun tak karuan dengan rambut yang dikuncir asal dan tanpa polesan make-up seperti biasanya.


"Vin, sakit, Vin! Bisikin anak kita dong biar dia cepat keluar. Gak panas apa di dalam perut," keluh Fayre sambil mendesis pelan. Kali ini di dalam ruangan hanya ada Arvin dan Fayre karena bu Linda dan pak Bram pergi keluar untuk mencari makan. Kedua orang tua tersebut pun terlalu panik sampai lupa jika perut belum terisi asupan makanan.


"Kamu harus kuat! Perjuangan ini kurang sebentar lagi akan selesai, Sayang," gumam Arvin sambil membelai rambut Fayre dengan lembut. Saat ini, Fayre sudah dipindahkan ke ruang bersalin karena mendekati pembukaan sempurna.


"Vin! Panggil dokter! Sepertinya air ketubannya sudah pecah! Buruan!" titah Fayre setelah merasakan ada sesuatu yang keluar dari jalan lahir.


Arvin segera menekan nurse call agar perawat dan bidan datang memeriksa sang istri dan tak lama setelah itu, dua petugas medis yang tak lain adalah Perawat dan Bidan masuk ke dalam ruangan. Mereka segera melakukan pemeriksaan setelah mendengar keluhan Fayre.

__ADS_1


"Pembukaan hampir sempurna, setelah ini Anda akan berjuang untuk menyambut kehadirannya, Nyonya," ucap Bidan tersebut setelah melakukan pemeriksaan, "dokter Areta akan segera datang," ucapnya lagi sebelum mempersiapkan beberapa peralatan yang akan digunakan saat proses persalinan nanti.


Suara rintihan Fayre semakin menggema dan Arvin pun semakin panik karena tidak ada orang tuanya di sana. Dia bahkan lupa jika ada ponsel untuk memberi kabar kepada orang tuanya jika Fayre akan melahirkan sebentar lagi.


"Dok, apa kondisi istri saya baik-baik saja?" tanya Arvin saat dokter Areta masuk ke dalam ruang bersalin.


"Tentu, keadaan Nyonya Fayre sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Setelah ini Anda akan melihat bagaimana perjuangan wanita saat melahirkan anaknya." Dokter Areta tersenyum simpul setelah menyampaikan hal itu. Beliau sibuk memasang selontong tangan medis sebelum melakukan tindakan.


Beberapa puluh menit kemudian, perjuangan besar yang dimaksud dokter Areta akhirnya tiba. Arvin meringis kesakitan karena rambutnya menjadi sasaran Fayre saat mendapat instruksi dari dokter Areta untuk mengejan. Ruang bersalin itu mendadak ramai karena suara asisten dokter Areta yang memberikan semangat kepada Fayre. Sementara Arvin tidak tahu harus bagaimana saat ini, karena keringat dingin pun mengalir dari tubuhnya. Segenap rasa bercampur aduk menjadi satu ketik melihat bagaimana perjuangan seorang ibu saat melahirkan anaknya ke dunia ini. Meski merasakan sakit karena Fayre terus menarik rambutnya dengan kuat, Arvin tidak berani untuk mengeluh, karena asa sakit yang dia rasakan saat ini tidak sebanding dengan yang dirasakan oleh istrinya.


"Jambak terus, Sayang! Setelah kamu melahirkan, habislah ini rambutku." Arvin hanya berani bergumam dalam hatinya.


Suara tangisan bayi diiringi suara jeritan Fayre akhirnya menggema dalam ruang bersalin itu. Arvin menggenggam tangan Fayre dengan erat dan air mata pun tak mampu lagi untuk ditahannya. Bulir bening itu mengalir dengan derasnya karena rasa haru yang membuncah di dada. Apalagi, setelah melihat bayi yang ada di tangan dokter Areta. Sungguh, Arvin tidak tahu lagi harus bagaimana lagi mengekspresikan perasaannya saat ini.


Sama halnya dengan sang suami, Fayre pun tidak bisa menahan air matanya. Rasa sakit yang baru saja dia rasakan mendadak hilang begitu saja ketika dokter Areta meletakkan bayi dengan kulit yang memerah di atas dadanya. Suara tangisan bayi menggemaskan itu semakin membuat Fayre tak karuan.


"Silahkan Tuan keluar dari ruangan ini. Kami akan merawat Nyonya Fayre terlebih dahulu," ucap dokter Areta setelah selesai memberikan stimulasi kepada bayi yang sudah dibawa pergi ke ruangan bayi untuk dibersihkan.


"Istri saya memangnya mau diapakan lagi, dok?" tanya Arvin dengan gurat kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.


"Dibersihkan dan dijahit, Tuan," ucap dokter Areta sambil tersenyum manis.

__ADS_1


"Hah? Dijahit? Itunya?" Arvin terperangah setelah mendengar penuturan dokter Areta.


Beberapa perawat yang ada di sana mengulum senyum ketika melihat ekspresi wajah Arvin. Mereka tidak pernah menduga jika Arvin sepolos itu saat mendengar ucapan dokter Areta.


"Iya, Tuan. Saya mohon izin ya karena harus melakukan tindakan ini." Dokter Areta meminta izin kepada Arvin terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan pasca melahirkan.


"Kalau dijahit nanti buntu dong, Dok! Gak ah, jangan dijahit!" tolak Arvin dengan tatapan tidak suka. Membayangkan jalan tol itu harus ditutup sementara saja rasanya tidak sanggup, apalagi sampai dijahit hingga tertutup semuanya.


"Tidak, Tuan. Kami tidak akan menutup semua akses jalannya kok. Tuan tenang saja, tidak usah mengkhawatirkan hal itu." Sekuat tenaga dokter Areta harus menahan tawanya setelah mendengar jawaban Arvin.


Sementara Fayre hanya bisa menepuk keningnya setelah mendengar protes dari Arvin. Dia merasa malu karena suaminya itu tidak paham dengan apa yang dimaksud dokter Areta. Andai saja masih tersisa tenaga untuk berteriak mengusir Arvin, pasti sudah dia lakukan saat ini.


"Arvin!" panggil Fayre dengan suara yang terdengar lirih.


"Udah! Mending kamu keluar deh! Jangan banyak protes dan berisik. Biarkan dokter Areta melakukan tugasnya." Fayre menatap Arvin penuh arti, "kalau kamu masih di sini dan protes terus. Aku akan menyuruh dokter Areta menutup semua jalan tolnya. Biar kamu gak bisa lewat!" ancam Fayre dengan tegas.


Tidak. Itu tidak akan mungkin terjadi. Tanpa protes lagi, Arvin segera pergi dari ruang bersalin karena tidak mau jika Fayre nekat melakukan ancaman itu. Lebih baik keluar dari ruangan ini daripada harus menjalani masa depan suram tanpa akses jalan tol.


"Maaf, Dok. Suami saya memang seperti itu. Silahkan dilanjutkan tindakannya," ucap Fayre setelah melihat kepergian Arvin.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2