
Grindelwald, Swiss.
"Guten Morgen, Madam, könnten Sie mir eine Tasse schwarzen Kaffee machen?"
("Selamat pagi, Nyonya, bisakah Anda membuatkan saya secangkir kopi hitam?")
Suara seorang pria yang baru saja memesan kopi terdengar familiar di indera pendengaran bu Linda. Beliau sampai berhenti mengaduk kopi dan segera membalikkan tubuh. Seketika, wanita paruh baya itu terkesiap setelah melihat kehadiran pria yang sedang mengembangkan senyum itu.
"Arvin!" pekik bu Linda sambil mempercepat langkahnya untuk menghampiri putra semata wayangnya.
Dekapan hangat penuh kasih dirasakan oleh Arvin setelah sekian lama dekapan itu menjauh. Meski cukup malu dengan beberapa pengunjung kedai kopi yang ada di sana, ia tetap tersenyum ketika bu Linda beberapa kali mengecup pipinya seperti seorang balita.
"Mami gak mimpi 'kan?" tanya bu Linda seraya menangkup kedua pipi tersebut.
"Seperti yang Mami lihat." Arvin tak henti mengembangkan senyumnya.
Bu Linda menggeser tubuh putranya untuk mencari seseorang. Beliau sampai melihat ke luar kedai kopinya karena tidak menemukan kehadiran sosok wanita yang beliau rindukan beberapa bulan ini.
"Istrimu tidak ikut?" tanya bu Linda setelah kembali di hadapan Arvin.
"Ikut, Mi! Dia di lu—" Arvin menghentikan ucapannya setelah membalikkan tubuh dan tidak menemukan kehadiran Fay di luar kedai.
"Kemana dia? Perasaan tadi menunggu di depan," gumam Arvin.
"Ah pasti dia pergi ke tepi danau. Coba cari dia dulu. Nanti Mami akan menyusulmu ke sana. Papi sedang menghabiskan waktu di tepi danau," ucap bu Linda setelah membukakan pintu untuk Arvin.
Ya, waktu liburan yang sudah ditentukan Arvin akhirnya tiba. Sejak dua hari yang lalu sepasang suami istri itu mulai bertolak dari Indonesia menuju Bandara Internasional Swiss. Setelah menghabiskan waktu selama kurang lebih tujuh belas jam, akhirnya mereka tiba di Bandara internasional Swiss. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Grindelwald yang ada di kaki Gunung Eiger, mereka sempat menginap di salah satu hotel yang ada di pusat kota untuk beristirahat.
__ADS_1
Arvin mengayun langkah menuju tepi danau untuk mencari keberadaan Fay. Dari jauh dia sudah melihat sosok yang sempat membuatnya merasa cemas. Tentu Arvin takut jika Fay hilang di sini dan tersesat.
"Apa yang sedang kamu lihat saat ini?" tanya Arvin setelah berdiri di sisi Fay yang sedang menatap gunung Eiger dengan binar bahagia yang terpancar dari sorot matanya.
"Aku hanya melihat ciptaan Tuhan yang indah, Vin. Aku kagum dengan semua ini!" ucap Fay tanpa menatap Arvin. Ia menatap setiap keindahan yang tersuguh di tempat ini.
Fay melangkahkan kakinya menjauh dari Arvin. Dia seakan terhipnotis dengan keadaan alam yang indah di desa ini. Langkah kaki itu membawa Fay menuju salah satu baru besar yang ada di tepi danau. Dia pun naik ke atas batu besar itu dan duduk di sana.
"Hati-hati! Awas jatuh!" ujar Arvin saat melihat Fay duduk di atas batu tersebut. Dia pun mengikuti jejak Fay dengan naik ke atas batu dan duduk di sebelah Fay.
Fay menyandarkan kepalanya di pundak Arvin tanpa mengalihkan pandangan dari objek indah yang membentang luas itu. Keduanya hanya diam hingga beberapa menit lamanya sampai terdengar suara bu Linda di sana.
"Mami!" teriak Fay setelah melihat bu Linda tersenyum manis ke arahnya. Hal ini membuat Fay segera turun dari tempatnya.
Kedua wanita berbeda generasi itu saling memeluk satu sama lain. Mereka melepas rindu yang selama ini membelenggu. Bu Linda sangat bahagia melihat kehadiran anak dan menantunya di sana. Sungguh, beliau tidak menyangka jika mereka akan menyusul liburan ke tempat indah ini.
Sepasang suami istri itu pun mengikuti langkah bu Linda sampai di salah satu tempat indah lainnya. Dari jauh mereka bisa menangkap sosok pria paruh baya yang sedang berolahraga di sana. Suara teriakan bu Linda pun berhasil mengalihkan pandangan pak Bram.
"Arvin, Fay!" ujarnya dengan mata terbelalak setelah melihat kehadiran generasi penerusnya ada di sana.
Pada akhirnya mereka berempat melepas rindu di tepi danau tersebut. Kebahagiaan mereka berempat tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Bahkan, bu Linda tak henti mengembangkan senyumnya karena bahagia.
"Ayo kita kembali ke rumah, Mami ingin masak untuk kalian berdua," ajak bu Linda setelah merasakan cuaca panas karena sang mentari mulai bergerak naik.
Mereka berempat akhirnya sampai di rumah yang dimaksud oleh bu Linda setelah berjalan selama dua menit. Rumah yang berada di samping kedai kopi milik bu Linda itu pun terlihat sangat asri dan nyaman. Sepertinya, pak Bram mendapatkan rumah ini dengan harga fantastis, karena cukup strategis dan nyaman.
"Mami kenapa harus membuka kedai kopi di sini? Arvin kan bisa membiayai hidup Mami dan Papi selama tinggal di sini," protes Arvin setelah masuk ke dalam ruang tamu.
__ADS_1
Sementara bu Linda hanya tersenyum simpul mendengar protes dari putrinya. Beliau membuka jendela yang ada di ruang tamu agar udara sejuk khas Grindelwald masuk ke dalam ruangan itu.
"Mami hanya ingin membuang rasa bosan, Vin. Lagi pula di sini tidak ada kedai kopi, jadi, tidak ada salahnya jika Mami membuka kedai kopi 'kan? Lumayan lah untuk kegiatan Mami di sini," ucap bu Linda.
Arvin membuka koper untuk mengambil sesuatu yang menjadi favorit ibunya saat berada di Indonesia—jengkol—Meski semua keluarganya tidak ada yang suka dengan jengkol, beliau tetap meminta ART untuk masak menu tersebut.
"Yah! Bisa habis pasta gigi di rumah ini jika Mami mu masak itu, Vin!" ujar pak Bram setelah Arvin mengeluarkan kotak putih berisi jengkol dari koper.
"Waw! Mami seperti menemukan harta karun, nih!" Bu Linda merebut kotak putih itu dari tangan Arvin.
Fay hanya tersenyum tipis melihat kebahagiaan yang terpancar dari sorot mata ibu mertuanya itu. Dia beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju jendela yang baru dibuka oleh bu Linda. Sekali lagi, Fay mengamati pemandangan yang ada di sana dengan tatapan kagum.
"Arvin, aku mau di sini saja bersama mami dan papi. Kamu lebih baik pulang sendiri deh! Aku mau menetap di sini saja," gumam Fay tanpa mengubah posisinya.
Bu Linda dan pak Bram terkekeh setelah melihat ekspresi wajah putranya yang berubah. Siapa coba yang rela meninggalkan tempat seindah ini. Apalagi, jiwa-jiwa introvert seperti Fay, pasti betah dan suka jika tinggal di tempat nyaman seperti ini.
"Terus aku harus di Indonesia sendiri gitu? Memang kamu gak takut aku punya selimut lain?" sindir Arvin dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
Apa yang diucapkan Arvin seketika berhasil membuat Fay berubah ekspresi. Dia menghampiri Arvin dan mendaratkan pukulan keras di lengannya hingga membuat pak Bram dan bu Linda tertawa lepas.
"Stop! Stop! Stop! Tunggu!" Arvin menjauhkan diri dari sang istri setelah mendengar ponselnya berdering, "aku mau menjawab telfon dari Toni dulu, nanti kita lanjut lagi," pamit Arvin seraya beranjak dari tempatnya. Ia lebih memilih keluar dari ruang tamu agar bisa bicara bebas dengan Toni.
...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka❤️🌹...
Mohon maaf jika bahasa Jermannya masih salah🙏Karena itu hasil translate dari google😊 Oh ya btw aku spill nih bagaimana keadaan desa Grindelwald di Swiss.
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...