Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Obat dalam closet?


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian,


Langit nampak redup karena bola raksasa di ujung barat mulai menghilang. Seiring berjalannya waktu langit pun akan menjadi gelap gulita. Sementara mobil yang dikendarai Fayre masih terjebak macet di pusat kota. Wanita cantik itu menyandarkan tubuhnya di kursi mobil, sementara tangannya masih berada di atas setir bundar tersebut. Inilah situasi yang tidak disukai Fayre jika berkendara sendiri di sore hari.


"Nyesel aku pulang di jam-jam seperti saat ini," gerutu Fayre seraya menatap jalanan padat di hadapannya.


Wanita cantik itu baru saja pulang dari rumah lama yang menjadi kado spesial di saat ulang tahunnya dari Arvin. Rumah tersebut dipakai Fay untuk menyimpan semua hasil lukisannya. Lebih tepatnya rumah bergaya klasik itu, saat ini dijadikan Fayre sebagai galeri pribadi. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di sana saat Arvin berangkat ke kantor. Tentu semua dia lakukan hanya untuk mengusir rasa sepi yang menghampiri.


Setelah hampir satu jam terjebak di titik kemacetan, akhirnya mobil yang dikendarai Fayre bisa melaju dengan kecepatan normal. Mungkin, tidak lama setelah ini dia akan sampai di rumah megah tempatnya menjalani rumah tangga bersama Arvin. Detik demi detik pun terus berlalu, kini mobil yang dikendarai Fayre akhirnya sampai di halaman luas rumahnya. Wanita cantik itu tidak segera keluar setelah melihat mobil sang suami tidak ada di sana.


"Jadi, Arvin belum pulang?" Fayre bergumam sambil merogoh ponsel yang ada di dalam tas.


Fayre menggerakkan jempolnya untuk membuka pesan masuk dari Arvin. Dia membuang napasnya kasar setelah tahu jika Arvin tidak pulang lagi malam ini dengan alasan ada pekerjaan penting dan harus cepat diselesaikan di kantor.


"Kenapa tidak pulang lagi sih! Biasanya dikerjakan di rumah kan bisa," gerutu Fay setelah menyimpan ponselnya di dalam tas.


Sudah beberapa kali dalam satu minggu ini, Arvin memilih tidur di kantornya demi pekerjaan yang katanya penting. Fayre sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang membuat suaminya rela tidur tanpa guling di kantor. Selama ini Fayre percaya jika Arvin tidak akan berbuat macam-macam, ya ... misalnya saja berpaling darinya dan mencari wanita lain.

__ADS_1


Langkah demi langkah telah dilalui Fayre hingga sampai di kamarnya. Dia duduk di tepi ranjang sambil melepas sepatu mahal yang menutupi kakinya. Pandangan Fayre tidak sengaja menatap hasil tes kehamilan yang dia lakukan tadi pagi—negatif—itulah hasil yang membuat Fayre kecewa. Tadi pagi dia begitu bersemangat saat melakukan tes tersebut di kamar mandi, karena sudah lebih dari dua minggu Fayre telat datang bulan. Dia menyangka jika program hamil yang dia lakukan berhasil.


"Arvin tuh kenapa sih, diajak pindah rumah sakit saja tidak mau! Ini sudah lebih dari enam bulan loh program di sana dan tidak membuahkan hasil!" gerutu Fayre setelah membuang tespek tersebut di tong sampah yang ada di dekat nakas.


Dua bulan yang lalu sepasang suami istri itu sudah mencoba cara In Vitro Fertilization (IVF) atau biasa dikenal dengan istilah bayi tabung. Ternyata cara ini pun gagal hingga membuat Fayre merasa down. Padahal, selama proses IVF berjalan lancar, tetapi setelah menunggu selama dua minggu seperti waktu yang ditentukan dokter Winda, embrio tidak bisa tumbuh di dalam rahimnya. Keadaan ini pun membuat Fayre sempat terpuruk, akan tetapi tidak lama setelah itu dia kembali bersemangat untuk menjalani program hamil dengan metode lain.


Beberapa kali Fayre meminta untuk pindah dokter saja, akan tetapi pembahasan itu tidak menemukan jawaban yang memuaskan, karena Arvin keukeh hanya ingin program di dokter Winda. Perdebatan selalu menjadi akhir dari pembahasan tersebut.


Setelah termenung cukup lama di tepi ranjang, Fayre memutuskan untuk pergi ke kamar mandi. Dia harus membersihkan diri sebelum duduk santai sambil menghabiskan waktu bersama film-film Hollywood yang menjadi favoritnya.


"Apa itu?" gumam Fayre setelah membuka tutup closet. Dia melihat ada beberapa obat di sana. Setelah diamati dengan jelas, dari warna dan bentuk, sepertinya itu adalah obat yang harusnya diminum oleh Arvin.


Kenapa obatmu ada di closet, Vin? Kamu sengaja membuangnya?


Begitulah isi pesan yang dikirim Fay kepada sang suami. Fayre meletakkan ponselnya di tempat yang aman sebelum menekan tombol yang ada di belakang closet untuk menyiram obat tersebut. Lantas, Fayre pun segera melakukan tujuannya berada di tempat ini. Buang hajat sekaligus mandi.


****

__ADS_1


Sementara itu, di tempat lain atau lebih tepatnya di ruangan utama perusahaan, seorang pria yang tidak lain adalah Arvin sedang memijat pangkal hidungnya. Pria tampan itu tiba-tiba saja merasa pusing setelah membaca pesan yang dikirim oleh istrinya. Dia merutuki kebodohannya sendiri, bagaimana bisa sampai lupa menyiram obat yang dibuangnya tadi pagi.


Ya, selama beberapa bulan ini Arvin membuang obat yang diberikan dokter Winda di hadapan Fay. Setiap hari Arvin mengkonsumsi obat yang diberikan dokter Winda secara pribadi dan obat itu pun tersimpan di dalam dashboard mobil. Sekarang Arvin bingung harus mencari alasan yang tepat agar sang istri tidak curiga.


"Aku tadi tidak sengaja menjatuhkan di closet setelah buang air besar, tapi aku sudah mengambil obat lagi sebagai penggantinya," ucap Arvin saat mengirim vioce note kepada sang istri.


Ya, tiba-tiba saja jawaban itu muncul di kepala Arvin. Dia tidak tahu lagi jika Fayre masih curiga dan menunggu penjelasan darinya. Semakin ke sini, Arvin merasa pusing karena Fayre tak kunjung hamil. Seringkali dia menangis di malam hari saat melihat wajah tenang Fayre yang terlelap. Arvin sedih karena belum bisa jujur sampai saat ini tentang kondisinya. Dia takut jika Fayre kecewa dan akan meninggalkannya.


"Aku tidak tahu lagi Fay, harus bersikap bagaimana? Aku tidak mungkin menghancurkan harapan dan mimpi yang kamu inginkan selama ini." Arvin bergumam setelah menyandarkan tubuhnya di kursi kerja. Kepalanya menengah dengan pikiran yang melanglang jauh entah kemana.


Sebenanrnya, tidak pulang dan lembur di kantor hanyalah satu keadaan yang menjadi alasan bagi pria tampan itu. Dia sengaja memberikan jarak kepada Fayre, agar terbiasa tidur tanpa dirinya jika suatu saat nanti keputusannya sudah bulat. Arvin sering merenung untuk mencari solusi yang tepat agar Fay tetap bahagia dan keinginannya terpenuhi tanpa dia tahu bagaimana kondisi Arvin yang sebenarnya.


"Lebih baik aku pergi berkumpul dengan para cecunguk saja," gumam Arvin setelah teringat jika malam ini ketiga temannya berkumpul di salah satu cafe terkenal di kota ini. Raka pun sudah kembali berkumpul bersama Arvin dan lainnya, meski hubungannya dengan Arvin masih terlihat kaku dan terkesan menjaga jarak.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka 😍🌹...


...Siap-siap esmosi yuk beberapa bab lagi🤭...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2