
Tatapan mata semua orang tertuju pada sumber suara seorang wanita. Arvin dan Fayre tercengang setelah melihat kehadiran sosok yang tidak pernah disangka sebelumnya. Bibir berwarna merah itu ternganga karena kehadiran saksi yang tak pernah diundang sebelumnya.
"Mam ... Mami!" ujar Fayre setelah bu Linda berjalan mendekat ke tempatnya. Wanita paruh baya itu berdiri di balik sekat tempat terdakwa dan pendukung yang ikut menyaksikan jalannya sidang itu.
Sementara Arvin hanya bisa menelan ludah setelah melihat kedua orang tuanya hadir di sana. Pagi ini dia dikejutkan dua hal yang tidak pernah disangka sebelumnya. Apalagi, setelah tatapan matanya bersirobok dengan pak Bram, pria tampan itu semakin gugup dan takut.
"Papi, Papi." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh Arvin.
Bu Linda dan pak Bram memberikan kesaksian atas pernikahan bahagia yang sudah diarungi oleh anak dan menantunya. Suasana persidangan pun semakin memanas. Beberapa kali pengacara Arvin berusaha menyangkal setiap bukti yang ditunjukkan oleh bu Linda selaku orang tua penggugat.
Hakim pun sedang berunding untuk menetapkan hasil sidang tersebut. Arvin tidak tahu lagi harus bagaimana, kali ini dia pun hanya bisa pasrah dengan keputusan hakim. Pria tampan itu sedang membayangkan bagaimana kemarahan kedua orang tuanya setelah persidangan ini.
"Setelah menimbang dan melihat keakuratan bukti dan saksi, kami memutuskan hasil persidangan gugatan cerai dengan nomor regristrasi 133.234/Jaksel/567/CR ditolak. Gugatan cerai yang diajukan penggugat bernama Arvin Axelle untuk tergugat Kyomi Fayre tidak diterima dengan alasan keduanya masih bisa mempertahankan rumah tangga karena masih saling mencintai. Untuk selanjutnya perdamaian akan kami limpahkan kepada pihak keluarga. Keputusan ini tidak bisa diganggu gugat."
Dok ... dok ... dok.
Suara ketukan palu hakim terdengar di sana sebagai tanda jika sidang perceraian telah usai. Fayre menatap Arvin dengan senyum yang sangat manis. Dia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Arvin, kemudian wanita cantik itu membungkukkan tubuh dengan kedua tangan menggenggam erat pinggiran kursi yang ditempati Arvin.
"Bagaimana, Sayang? Kamu tidak pernah menyangka bukan jika aku melakukan semua ini?" tanya Fayre dengan suara yang lirih. Dia bersikap setenang mungkin di hadapan Arvin, padahal yang sebenarnya dia sedang menahan gemuruh di dalam hati.
"Fay!" Hanya itu yang terucap dari bibir Arvin. Dia sudah tidak mampu lagi untuk mengucapkan apapun lagi.
Fayre segera menegakkan tubuhnya. Setelah menatap Arvin beberapa detik lamanya, dia pergi begitu saja. Fayre menghampiri kedua mertuanya yang sudah menunggu. Dia segera menghambur ke dalam pelukan hangat bu Linda. Air mata yang sudah lama ditahan, kini mengalir deras di pundak bu Linda.
__ADS_1
"Mami bangga padamu, Nak! Kamu sudah berjuang sampai di titik ini dengan baik!" ujar bu Linda sambil mengusap punggung yang sedang bergetar itu.
"Maafkan saya, Mi, karena tidak memberitahu semua ini kepada Mami," ucap Fayre setelah mengurai tubuhnya. Dia mengusap air mata yang membasahi pipi mulusnya.
"Lebih baik kita pulang dulu. Setelah dari rumah mari kita bicarakan masalah ini," ucap pak Bram dengan sikap yang sangat tenang, "Fan, bawa Arvin pulang ke rumah utama!" titah pak Bram seraya menatap Rofan penuh arti.
"Baik, Tuan." Rofan membungkukkan tubuhnya untuk sesaat dan setelah itu dia segera pergi ke tempat Arvin berada saat ini bersama pengacaranya.
Mereka semua segera keluar dari ruang sidang tersebut. Bu Linda berjalan beriringan dengan menantu kesayangannya. Beliau tak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Fayre. Sungguh, bu Linda tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi.
Dua mobil beriringan keluar dari halaman luas pengadilan negeri Jakarta Selatan. Mobil Arvin berada di depan mobil pak Bram. Dia bersama sopir dan juga Rofan. Sementara Fayre memilih pulang bersama bu Linda dan pak Bram.
Setelah menempuh perjalanan beberapa puluh menit, pada akhirnya kedua mobil tersebut sampai di halaman luas rumah megah pak Bram. Mereka segera masuk tanpa ada yang mengucapkan sepatah katapun. Hanya derap langkah kaki yang menggema di dalam rumah megah tersebut. Mereka semua duduk di ruang keluarga.
"Jelaskan kepada Papi!" titah pak Bram dengan suara yang menggelegar di ruang keluarga.
Arvin tidak sanggup membahas apapun saat ini. Dia sendiri bingung harus bagaimana. Terlebih setelah melihat Fayre terus menangis dalam pelukan bu Linda. Wanita cantik itu sedang menunjukkan sisi lemahnya setelah berjuang keras menahan perahu yang terombang-ambing di atas samudera.
"Jangan diam saja!" Pak Bram terlihat geram karena Arvin hanya diam saja.
Pria paruh baya itu beranjak dari tempat duduknya saat ini, "berdiri!" titah pak Bram kepada Arvin saat beliau berjalan menuju tempat Arvin.
Tanpa melawan ataupun bertanya, Arvin bangkit dari tempatnya. Dia berdiri tanpa berani menatap wajah ayahnya yang terlihat memerah. Sepertinya, pria matang itu sudah tidak sanggup lagi menahan amarah yang tersimpan dalam dirinya.
__ADS_1
Plak! Plak!
Pipi putih pria tampan itu berubah menjadi merah setelah mendapat hadiah panas dari tangan ayahnya sendiri. Pak Bram tidak bisa menahan amarahnya lagi sehingga beliau tega menggampar putranya sendiri.
Mungkin, karena merasa bersalah, Arvin hanya diam saja setelah mendapatkan hadiah dari ayahnya. Bahkan, dia tidak sanggup lagi melihat kilat amarah yang terpancar dari sorot mata pria yang selama ini memberinya banyak cinta itu.
"Papi sangat kecewa! Papi tidak pernah menyangka jika kamu tumbuh menjadi seorang pengecut!" sarkas pak Bram dengan berkacak pinggang di hadapan Arvin.
"Otakmu itu perlu dibersihkan agar kebodohanmu bisa dihilangkan!" Pak Bram tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Bahkan, bu Linda hanya diam saja melihat suaminya seperti itu.
"Papi tidak pernah mendidikmu menjadi pria lemah dan bodoh seperti ini, Vin!" ujar pak Bram tanpa mengalihkan pandangan dari wajah yang sedang tertunduk itu, "inikah hasil clubbingmu selama ini? Bergaul bersama botol alkohol ternyata semakin membuat otakmu tumpul!" Sarkasme kembali dilayangkan pak Bram kepada putranya.
Mungkin, karena kesal pak Bram kembali mengangkat tangannya. Beliau sepertinya tidak bisa mengontrol diri untuk melampiaskan segala rasa yang ada di hatinya. Melihat hal itu, Fayre segera beranjak dari tempatnya. Meskipun dia kesal kepada suaminya, tetapi dia pun kasihan jika Arvin menerima rasa sakit dari pak Bram.
"Papi," ucap Fayre dengan suara yang lirih.
Fayre beranjak dari tempatnya saat ini untuk menghentikan mertuanya. Dia berdiri di sisi Arvin sambil menatap iba ke arah pak Bram. Rasa kasihan membuat Fayre bersikap tidak sopan kepada mertua yang sedang memberikan pelajaran kepada suaminya.
"Biarkan kami menyelesaikan semua ini, Pi." Fayre berucap dengan suara yang sangat lirih. Tatapan penuh harap akan pengertian dari mertuanya terlihat jelas di sana.
...๐นTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐๐น...
...๐ท๐ท๐ท๐ท...
__ADS_1