Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Nasib Sanca,


__ADS_3

"Awas ya! Kalau malam ini kamu nendang aku lagi!"


Arvin berkacak pinggang di sisi ranjang sambil memberi wejangan kepada Fay. Ia kesal saja setiap hari tidur nyenyaknya harus berakhir karena terjun bebas dari ranjang. Arvin berdecak kesal saat melihat respon yang ditunjukkan Fay—biasa saja dengan ekspresi tanpa rasa bersalah.


"Kan udah minta maaf!" Fay menatap Arvin sekilas dan setelah itu ia kembali menatap ponselnya.


Fay sedang asyik berselancar di internet untuk mencari inspirasi lukisannya nanti. Beberapa blog terpercaya sudah ia buka untuk menambah wawasan. Sebenarnya, Fay ingin sekali memiliki galeri pribadi untuk menyimpan semua hasil lukisannya nanti.


"Vin, setelah ini apa boleh aku bekerja?" tanya Fay setelah meletakkan ponsel di atas nakas.


"Tidak!" jawab Arvin dengan tegas. Ia duduk bersandar di headboard ranjang seraya menatap Fay.


"Why?" Fay menaikkan satu alisnya setelah mendengar jawaban singkat dari Arvin.


"Aku tidak mengizinkanmu bekerja. Kamu sudah menjadi seorang istri dan aku mampu membiayai semua kebutuhan hidupmu, Fay. Aku lebih suka jika kamu merasa membutuhkanku. Aku tidak suka melihat wanita terlalu mandiri!" Arvin menatap Fay penuh arti.


"Lalu aku harus ngapain di rumah ini, Vin? Apa kamu pikir gak bosan berada di rumah sendiri!" sergah Fay dengan tatapan yang tak lepas dari wajah Arvin.


"Kamu bisa melakukan apa saja. Misalnya, shoping, pergi ke salon atau apalah yang bisa menghilangkan rasa bosan," ujar Arvin dengan tegas.


"Oke, baiklah! Aku akan mengikuti perintahmu! Asal jangan melarang aku untuk berhenti melukis!" Tatapan mata Fay terlihat tajam.


"Silahkan saja, jika memang itu bisa membuatmu bahagia. Jika perlu aku akan mendatangkan canvas beserta peralatan lainnya langsung satu container," ucap Arvin seraya bersedekap.


"Gila!" umpat Fay setelah mendengar jawaban Arvin, "tidak usah berlebihan deh!" cibir Fay karena kesal setelah mendengar kesombongan suaminya itu.

__ADS_1


Ya, itulah Arvin yang sebenarnya. Pria tersebut lebih suka melihat wanita yang bersikap manja kepadanya. Semenjak pernah ditinggalkan seorang gadis karena lebih mengejar karir daripada merajut kasih bersamanya, sejak itu pula selera Arvin berubah. Ibarat kata, Arvin lebih suka pasangannya bergantung kepadanya. Entahlah, bagaimana jalan pikiran pria tampan tersebut.


"Dengarkan aku, Fay!" ujar Arvin seraya mengubah posisinya, "lakukan apa yang bisa membuatmu bahagia. Mintalah apapun yang kamu butuhkan! Jangan membohongi ataupun ingin berkhianat dari ku. Cukup menjadi istri yang baik, nikmati semua fasilitas yang ada," ucap Arvin seraya menatap Fay dengan intens.


Kalimat panjang yang terucap dari bibir tersebut berhasil membuat Fay menelan ludah. Kalimat tersebut mewakilkan bagaimana karakter Arvin yang sesungguhnya. Jujur saja, Fay takut jika menghadapi pria berkarakter seperti Arvin. Ia tidak menyangka di balik sikap tengilnya, ternyata Arvin memiliki sifat seperti itu. Semua harus berjalan sesuai keinginannya.


"Jika kamu bosan berada di rumah, kamu bisa ikut aku ke kantor. Temani aku di sana atau kamu bisa melukis sampai tanganmu keriting, asal jangan dijual hasil lukisannya!" ujar Arvin hingga membuat Fay kembali menelan ludah.


Obrolan tersebut terus berlangsung hingga larut malam. Arvin meminta agar Fay bersikap terbuka kepadanya, karena dengan begitu Fay bisa menghilangkan rasa trauma yang membelenggu jiwanya. Lagi pula, Arvin sendiri bukan tipe pria yang peka, ia tidak paham dengan kode-kode seorang wanita. Maka dari itu, ia meminta Fay agar menyampaikan apa saja yang diinginkannya.


"Oh, ya, kamu harus hadir saat aku dilantik Papi menjadi pemimpin perusahaan. Awas kalau kamu gak mau hadir!" Arvin menatap Fay penuh arti.


"Kamu yakin bisa memimpin perusahaan?" Fay meragukan kemampuan suaminya itu, "kamu saja gak bisa selamat dari tendanganku, malah mau jadi pemimpin! Bisa-bisa anak buahmu mleyot semua, Vin!" ledek Fay dengan ekspresi wajah menyebalkan di mata Arvin.


Arvin merasa tertantang setelah Fay meremehkannya. Ia bertekad untuk bertahan dari tendangan jarum jam yang biasa dilakukan oleh Fay di pagi hari. Bukan Arvin namanya jika tidak bisa memutar otak untuk mencari cara agar bisa bertahan.


****


Langit perlahan berubah warna karena sang mentari mulai menampakkan diri. Siluet jingga terlukis indah di cakrawala timur, pertanda sang penguasa sinar sedang bersiap menunjukkan kuasanya.


Alarm ponsel telah berdering sejak beberapa puluh menit yang lalu, akan tetapi kedua insan yang masih berkelana di alam mimpi itu tidak mendengarnya. Fay semakin menelusupkan wajahnya di guling yang ada di pelukannya. Kehangatan begitu terasa di sekujur tubuhnya. Akan tetapi tidak lama setelah itu, tidur nyenyak itupun mulai terganggu setelah indera penciumannya menangkap aroma lain. Fay segera membuka kelopak matanya setelah sadar, jika aroma wangi yang ia rasakan saat ini adalah aroma parfum Arvin.


"Astaga! Arvin!" teriak Fay sambil menjauhkan wajahnya dari tubuh Arvin.


"Udahlah! Diam saja, gak usah memberontak!" gumam Arvin tanpa membuka kelopak matanya. Ia semakin mempererat dekapannya, "anggap saja ini adalah terapi untuk penyembuhan trauma mu," ucap Arvin seraya membuka kelopak matanya.

__ADS_1


Wajah natural bersemu merah, hidung kembang kempis dan napas tersengal, itulah yang dilihat Arvin saat membuka matanya. Ia melihat Fay membeku dalam dekapan hangatnya. Sialnya, hanya berdekatan dengan Fay seperti ini, naluri kejantanannya mulai terasa.


"Lepaskan aku, Vin," ucap Fay dengan suara yang lirih, "tubuhku rasanya lemas sekali, Vin. Lihatlah kulitku! Pasti kamu bisa melihat jika aku benar-benar merinding saat bersentuhan seperti ini," gumam Fay seraya menatap Arvin.


Tak berselang lama, Arvin melepaskan dekapannya. Sekilas ia melirik lengan Fay yang terbuka dan benar saja, ia melihat langsung bagaimana kondisi Fay saat ini.


"Apa aku harus membawamu ke psikolog?" tanya Arvin setelah duduk bersandar di ranjang.


"Tidak perlu! Aku dulu sudah melakukan pemeriksaan di Amerika, tapi hasilnya tetap sama. Aku tidak bisa melupakan rasa trauma itu. Aku disarankan untuk melakukan hipnoterapi, tapi aku menolaknya," ucap Fay dengan pandangan lurus ke depan.


"Lalu bagaimana? Apa kamu ingin seperti ini terus? Aku pria normal Fay, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menahan gejolak yang ada dalam diriku," sangkal Arvin tanpa melepaskan pandangan dari wajah sang istri


Fay termenung setelah mendengar ucapan Arvin. Ia merasa bersalah atas hal ini. Akan tetapi ia sendiri begitu takut untuk melakukan hal yang lebih intim dari sekedar berpelukan, "aku minta maaf, Vin. Memang aku salah dalam hal ini. Berikan aku waktu untuk terbiasa dekat denganmu," ucap Fay seraya mengubah posisinya menjadi duduk bersanding dengan Arvin.


Arvin hanya menghela napas mendengar hal itu. Mungkin di sinilah kesabarannya akan teruji. Menahan segala sesak di dalam celana saat berada dekat dengan seorang wanita, yang tak lain adalah istrinya sendiri.


"Teruntuk kamu—ular sancaku—bersabarlah, karena gua tempatmu bersarang sedang ada gangguan sinyal." Arvin bergumam dalam hati seraya menatap bagian tengah tubuhnya.


...🌹Selamat Membaca🌹...


...Aduh malang nian nasib ular sanca🤭...


➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖


Hallo epribadeh🤭 Kuy baca novel gratis untuk mengawali hari senin yang panas ini😎 Coba baca karya author Ria Aisyah dengan judul Second Chance. Penasaran kan? Kuy merapat langsung ke karya keren ini😍

__ADS_1



...🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2