
"Pergi dari sini!" teriak Fay seraya menunjuk arah pintu.
Sosok yang sempat hadir sebagai seorang teman dalam segala hal, kini, sepertinya berubah menjadi seorang musuh. Meski Arvin menampilkan ekspresi wajah penuh sesal, akan tetapi dalam pandangan Fay tetaplah sama. Arvin adalah pria jahat.
"Kenapa kamu datang ke sini?" tanya Fay dengan suara yang lantang.
"Aku hanya ingin menjemputmu pulang, Fay." Arvin menatap Fay dengan sorot mata penuh sesal.
"Gak! Aku gak mau pulang! Aku mau tinggal di sini!" sangkal Fay dengan tegas.
Napasnya tiba-tiba saja terengah disertai dengan tubuh yang bergetar. Fay sepertinya sangat ketakutan ketika melihat Arvin semakin mendekat. Ia terus meminta Arvin agar pergi dari hadapannya. Akan tetapi pria itu tetap melanjutkan langkah untuk mendekat ke arah Fay.
"Fay, Sayang!"
Kali ini bu Linda ikut masuk ke dalam ruang inap tersebut bersama pak Bram. Beliau menatap Fay dengan tatapan penuh kasih. Tentu saja, kehadiran bu Linda dan pak Bram di sana berhasil membuat Fay semakin shock. Ia tidak tahu jika mertuanya itu ada di Indonesia.
"Mami!" teriak Fay.
Bruk!
"Fay!" Terdengar suara teriakan semua orang yang ada di ruangan itu.
Fay tiba-tiba saja tak sadarkan diri setelah memanggil mertuanya. Tubuhnya ambruk ke lantai, akan tetapi Arvin dengan sigap menangkap tubuh sang istri, alhasil kepala Fay tidak terbentur lantai.
Meski berat, Arvin segera mengangkat tubuh sang istri keluar dari ruangan tersebut. Ia mencari bantuan kepada perawat yang berjaga di sana. Apa yang terjadi saat ini berhasil membuat beberapa orang keluar dari ruangan karena ada keributan.
Tidak bisa dipungkiri jika saat ini semua anggota Bramasta sedang khawatir. Mereka semua takut terjadi sesuatu hal yang serius kepada Fay. Seorang perawat mendorong brankar menuju IGD diikuti keempat orang tersebut. Sementara, di dalam ruang melati 003, bi Atin dan Mia masih shock atas semua kejadian kilat itu.
__ADS_1
"Mia, telfon Mbakmu sekarang! Biar dia menunggu kamu di sini! Ibu harus menemui mereka," titah bi Atin tanpa menatap wajah putrinya.
"Tolong ambilkan ponselnya, Bu," ucap Mia seraya menatap nakas, di mana ponselnya berada saat ini.
Mia segera menghubungi Putri agar menggantikan bi Atin, ia mengatakan bagaimana kondisi Fay saat ini. Ponsel pun kembali diletakkan di atas nakas. Hanya helaian napas berat yang terdengar di ruangan itu.
"Bu, kira-kira kak Fay kenapa, ya?" tanya Mia seraya menatap ibunya.
Bi Atin hanya menggeleng pelan setelah mendengar pertanyaan itu. Saat ini beliau hanya memikirkan bagaimana nanti sikap bu Linda kepada beliau. Jujur saja bi Atin sangat takut jika mantan majikannya marah besar.
****
Sementara itu, di ruang tunggu IGD, Arvin terlihat tidak tenang. Ia mondar-mandir sambil menunggu dokter yang sedang memeriksa Fay di dalam bilik. Ia takut terjadi hal serius yang membahayakan kesehatan sang istri. Jika semua itu terjadi, maka rasa bersalah Arvin semakin besar.
"Vin! Duduk!" titah bu Linda, "jangan mondar-mandir di depan Mami! Bikin tambah pusing aja!" Bu Linda menatap putranya dengan tatapan tidak suka.
"Bagaimana, dok?" tanya Arvin seraya menatap dokter tersebut.
"Untuk sementara, tidak ada diagnosa serius yang menyebabkan pasien pingsan. Kemungkinan, pasien shock karena suatu hal, hingga kondisinya menjadi lemah," ucap dokter tersebut.
"Apakah dia harus dirawat di sini?" tanya Arvin lagi.
"Tidak perlu. Pasien bisa istirahat di rumah, Pak. Akan tetapi Pasien harus menghabiskan satu kantong infus sebelum pulang. Kondisi tubuhnya terlalu lemah. Mungkin saja, akhir-akhir ini Pasien terlalu lelah dan setres," jawab dokter tersebut sebelum berlalu pergi dari hadapan Arvin.
Bu Linda beranjak dari tempatnya setelah melihat Arvin melangkahkan kaki. Beliau menghentikan langkah putranya itu agar tidak menemui Fay terlebih dahulu. Kali ini bu Linda yang harus meyakinkan Fay jika keadaan akan baik-baik saja.
"Biar Mami saja yang menemani dia," ucap bu Linda saat menghentikan langkah Arvin.
__ADS_1
Apa yang dikatakan bu Linda memang benar. Jika Arvin memaksa diri menemui Fay, maka wanita cantik itu akan histeris. Tentu hal ini menjadi pertimbangan bagi Arvin. Ia hanya bisa menatap punggung ibunya yang menghilang dari pandangan.
"Permisi, Tuan. Bagaimana kondisi nak Fay?"
Arvin membalikkan tubuh ketika mendengar suara bi Atin di balik tubuhnya. Wanita yang dulu bekerja di rumahnya itu sedang menyapa pak Bram dan Rofan. Ia pun segera bergabung dengan kedua pria tersebut untuk menanyakan beberapa hal kepada bi Atin.
"Bi, apakah selama ini istri saya tinggal di rumah Bibi?" tanya Arvin setelah berdiri di samping bi Atin.
"Iya, Den. Maaf karena Bibi tidak berani memberi tahu Aden dan semuanya. Nak Fay sudah mengikat bibi dengan janji, Den." Bi Atin merasa bersalah kepada keluarga Bramasta.
"Selama di kota ini, dia baik-baik saja, kan, Bi?" Kali ini ganti pak Bram yang bertanya.
"Iya, Tuan. Nak Fay sehat dan tidak terjadi apa-apa. Dia sering menghabiskan waktu bersama dengan putri saya, Mia ..."
Lantas, bi Atin menceritakan semua hal yang dilakukan Fay selama di sini. Mulai dari awal wanita itu sampai di rumahnya hingga kejadian kemarin. Bi Atin meminta maaf kepada pak Bram karena Fay sudah mengeluarkan banyak biaya untuk putrinya.
"Jujur saja, Tuan. Jika mengganti semua uang yang dikeluarkan nak Fay untuk biaya rumah sakit Mia, saya belum sanggup dalam waktu dekat ini. Saya butuh waktu yang lama untuk menabung terlebih dahulu," ucap bi Atin dengan suara yang bergetar setelah menceritakan semua kisah Fay selama tinggal di kota Mojokerto.
"Bi Atin tidak usah memikirkan hal itu. Tidak perlu diganti dan merasa bersalah. Justru saya sangat berterima kasih karena bi Atin sekeluarga sudah menjaga dan menyayangi menantu saya selama di sini." Pak Bram terharu setelah mendengar apa saja yang sudah dilakukan Fay selama disini.
Sementara Arvin hanya bisa menyimak setiap cerita yang disampaikan bi Atin. Ia bernapas lega karena selama berada di sini Fay bisa tersenyum. Padahal, dalam bayangannya, Fay terus menangis dan mengurung diri di suatu tempat. Akan tetapi ada satu hal yang membuat Arvin terganggu. Mau bertanya tapi gengsi, tidak bertanya malah semakin penasaran. Pada akhirnya, kali ini Arvin harus membuang gengsinya itu, untuk menanyakan satu hal kepada bi Atin. Ia tidak perduli meski nanti akan dicibir pak Bram.
"Bi, apakah selama Fay di sini, dia memiliki teman pria? Misal akrab dengan tetangga Ibu atau siapapun?" tanya Arvin tanpa melepaskan pandangan dari wajah bi Atin.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Dih, si Arvin ngapain coba nanya gitu😝cemburu kali dia 😊🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...