
"Hallo, Bro," sapa Fabi ketika Arvin sampai di tempat mereka berkumpul.
Arvin menjabat tangan ketiga temannya sebelum menarik kursi dan duduk di sana. Arvin masih mengenakan pakaian kerja saat menemui teman-temannya. Wajahnya terlihat lelah dan seperti menahan beban yang berat.
"Lemes amat, Men?" Toni heran saja saat melihat wajah kusut temannya, "gak pulang lagi lu?" tanya Toni.
"Gue capek." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Arvin.
Raka hanya diam saja saat mendengar Arvin dan dua temannya yang lain berbicara. Tidak ada pembahasan penting yang membuatnya harus nimbrung bersama mereka. Cukup menjadi pendengar yang baik dan perekam setiap ucapan yang keluar dari bibir Arvin.
"Lu jangan ngobrol aja, Vin! Pesan minum dulu," ucap Raka setelah tersadar jika Arvin belum memasan minum.
"Iya, juga. Gue sampai lupa," ucap Arvin sebelum melambaikan tangan ke arah waiter. Secangkir espresso spesial telah dipesan Arvin saat waiter tersebut menghampirinya.
Obrolan akhirnya berlanjut. Mereka berempat terlihat serius saat membahas bisnis baru yang sedang trending saat ini. Arvin mendengarkan dengan seksama setiap informasi yang didengar dari ketiga temannya itu. Beberapa kali putra semata wayang pak Bram itu memberikan tanggapan tentang bisnis yang sedang digandrungi beberapa orang ternama di Indonesia. Sesekali suara gelak tawa mereka pun terdengar di sana saat ada hal lucu yang terselip dalam pembahasan mereka.
"Udahlah, kita ngopi aja dulu. Gak usah terlalu serius membahas kerjaan. Kita bertemu untuk melepas penat, bukan untuk mencari beban pikiran," ucap Toni sembari mengangkat cangkir keramik berisi cappucino late. Dia meniup beberapa kali sebelum mencicipi minuman nikmat itu.
"Sampai hampir dingin minuman gue," ucap Fabi setelah menyentuh cangkir keramik yang berisi minuman favoritnya, Flat White.
__ADS_1
Sama halnya dengan ketiga temannya, Arvin pun mulai menikmati secangkir espresso yang masih terasa panas itu. Sesekali dia meniup minuman tersebut agar tidak terlalu panas dan bisa membuat lidahnya sakit.
"Oh ya, Bi." Arvin menjeda ucapannya saat meletakkan cangkir keramik tersebut di atas meja, "Gue dengar lu batal tunangan ya sama Grace?" tanya Arvin setelah teringat kabar burung yang disampaikan oleh seseorang.
"Ya. Gue melepaskan Grace sebelum semuanya terlanjur terjadi." Ekspresi wajah Fabi terlihat berubah saat menyebut nama wanita yang membuatnya takluk.
"Why, Men? Bukannya kalian saling mencintai?" Raka penasaran dibuatnya. Meski Fabi memiliki banyak wanita, akan tetapi hanya Grace lah yang berhasil mencuri perasaannya. Dia takluk dengan pesona gadis yang belum lulus sarjana itu.
"Dia tidak bahagia bersama gue." Fabi membuang napasnya setelah teringat alasan sederhana yang disampaikan oleh pujaan hatinya sebelum hubungan mereka berakhir.
"Tidak bahagia? Kenapa bisa begitu?" Arvin semakin penasaran dengan jawaban Fabi, "bukannya lu sudah memberinya segala fasilitas, cinta dan semua yang dibutuhkan seorang wanita? Lalu apa yang dibutuhkan dia agar bisa hidup bahagia?" tanya Arvin seraya menatap Fabi.
"Seharusnya lu berubah dong kalau memang ingin bersama dia. Tunjukkan kalau lu memang mencintai dia, Bro! Perjuangkan kebahagiaan yang diinginkan Grace." Toni pun ikut menanggapi cerita yang disampaikan oleh Fabi.
"Maka dari itu gue menerima saat dia ingin berpisah dan mengakhiri hubungan ini!" Fabi terlihat santai saat mengucapkan hal itu.
"Kenapa bisa begitu?" Arvin mengernyitkan keningnya setelah mendengar jawaban Fabi.
"Karena menurut gue, definis mencintai adalah membuat pasangan kita bahagia. Jika memang dia tidak bahagia saat bersama gue, meskipun gue sangat mencintainya, ya ... gue lepaskan dia walau berat. Gue biarkan dia mencari kebahagiaannya sendiri. Untuk apa bersama jika gue hanya menjadi duri yang membuatnya terluka." Malam ini Fabi terlihat sangat bijak. Ini adalah hal langkah bagi cassanova itu.
__ADS_1
Jawaban Fabi membuat ketiga temannya termenung. Mungkin, ketiga pria tampan itu sedang merenungi setiap kata-kata bijak yang lolos dari bibir Fabi. Mereka seperti tersihir dengan semua penuturan yang disampaikan oleh pria blasteran itu. Raka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap satu persatu wajah temannya. Entah mengapa, dia pun seperti tersindir saat mendengar penjelasan Fabi. Hubungannya dengan Dira sampai saat ini pun masih berjalan lancar meski wanita itu jarang sekali bersedia untuk bertemu. Mungkin, itulah salah satu yang menarik perhatian Raka. Dira susah untuk dijangkau.
"Ada benarnya juga penjelasan lu, Men. Kalau gue jadi elu, mungkin gue juga akan melakukan hal yang sama. Untuk apa bersama jika memang kita tidak bisa membuat pasangan kita bahagia." Raka membenarkan apa yang sudah diucapkan oleh Fabi dan setelah itu dia memandang ke arah Toni, "lu dari tadi diem bae, Men! Sehat kan lu?" tanya Raka tanpa melepaskan pandangan dari Toni.
"Gue sedang berpikir. Bagaimana jika gue berada dalam situasi yang dialami Fabi. Rasanya gue pun bimbang antara lanjut dan melepaskan." Toni menggaruk kepalanya dengan ekspresi wajah yang terkihat kikuk.
Sementara Arvin lebih memilih diam sambil mencerna ucapan ketiga temannya. Ya, memang yang diucapkan mereka tidak salah. Setiap orang memiliki defini bahagia versi masing-masing. Semua pembahasan ini, membuatnya teringat dengan semua diagnosa dokter Winda. Ada rasa sakit yang menjalar dalam hati setelah teringat senyum manis sang istri. Dia merasa bersalah atas semua hal yang terjadi. Arvin mendadak bodoh dalam situasi yang terjadi dalam rumah tangganya.
"Di antara kita berempat yang enak cuma lu doang, Vin." Celetuk Toni sambil menatap Arvin, "lu memiliki pasangan yang sempurna. Cantik, kalem dan pengertian. Si Fay juga bisa tuh menerima otak lu yang kadang oleng. Kalian sama-sama beruntung bisa saling melengkapi."
Bukannya bahagia, justru kalimat yang diucapakan Toni berhasil menusuk hatinya. Arvin seperti tertampar akan kebenaran yang disampaikan oleh sahabatnya itu. Ya, memang dirinya sangat beruntung karena memiliki istri yang tulus seperti Fayre.
"Ya, terkadang gue iri sama lu, Vin. Kenapa bisa Lu dapat jodoh seperti Fay. Hidup lu beruntung banget sih! Terlahir jadi dari keluarga kaya raya dan menikah pun dengan bidadari surga. Gue merasa Tuhan tidak adil," keluh Raka hingga membuat Arvin menaikkan satu alisnya.
Kalimat panjang yang diucapkan oleh Raka berhasil membuat Arvin berpikir. Semua yang terjadi di masa lalu pun mulai menari-nari dalam ingatannya. Semua peristiwa yang ditimbulkalkan Raka, kini kembali muncul dalam pikiran Arvin.
"Mungkinkah hanya rasa iri yang membuat Raka ingin merusak rumah tangga gue dengan Fay? Hmmm berarti secara tidak langsung dia mengakui semua kesalahannya." Arvin hanya bisa bergumam dalam hati saat menanggapi keluhan Raka, "lantas bagaimana setelah ini? Apa yang harus gue lakukan?" Bayang-bayang senyum manis sang istri kembali terlintas dalam pandangan.
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
__ADS_1
...π·π·π·π·π·...