Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Saatnya telah tiba,


__ADS_3

Kepulan asap rokok mengudara di taman depan hotel. Malam semakin larut, angin malam mulai menerpa sosok yang sedang duduk di sana dengan ditemani sebatang rokok. Ya, pria itu tak lain adalah Arvin. Ia duduk di sana untuk membuang semua keraguan dalam hati. Ini bukanlah yang pertama bagi Arvin, akan tetapi ia sangat gugup dan tidak tahu harus bersikap bagaimana.


"Mungkin dia sudah selesai bersiap, aku harus segera masuk." Arvin beranjak dari tempanya dan tidak lupa ia membuang putung rokok ke dalam tong sampah.


Langkah demi langkah telah dilalui Arvin hingga masuk ke dalam lift hotel. Ia menekan angka lima pada tombol yang berjajar rapi di sisi Lift. Tidak sampai dua menit, lift tersebut berhenti dan tak lama kemudian, pintu tersebut terbuka lebar.


Tak membutuhkan waktu yang lama, pada akhirnya, Arvin sampai di depan kamarnya. Ia mengatur napas sebelum membuka pintu tersebut. Ia sudah menduga jika pintunya tidak dikunci.


Setelah masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Arvin melihat Fay berdiri di dekat kaca besar dengan tirai yang terbuka. Arvin segera masuk kamar mandi tanpa menoleh ke arah sang istri. Ia harus membersihkan diri sebelum menyentuh tubuh yang selama ini ada dalam bayang-bayang ingatan.


"Huuh!" Fay membuang napasnya kasar setelah melihat pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Degup jantungnya semakin tak beraturan setelah melihat pria yang ditunggu sejak tadi hadir di sana. Fay bingung harus berbuat apa saat ini, karena ia sendiri belum pernah berhubungan sebelumnya.


Setelah mendengar gemericik air dari kamar mandi berhenti, Fay segera menutup tirai tersebut, menyisakan kaca seukuran tubuhnya. Ia masih berada di sana untuk mengamati pemandangan di kota tersebut.


Fay terkesiap ketika merasakan ada tangan di pinggangnya. Ia semakin gugup karena beberapa kali Arvin mengecup pundaknya. Seketika, hal itu membuat darah wanita itu berdesir.


"Sedang apa di sini?" tanya Arvin ketika memeluk Fay dari belakang. Ia mengeratkan tautan tangannya di perut rata sang istri.


"Tidak ada! Aku hanya mengamati pemandangan di kota ini," ucap Fay dengan pandangan lurus ke depan.


Tangan yang awalnya bertautan di perut tersebut, perlahan beralih menarik tali peignoir yang ada di pinggang. Arvin tersenyum simpul ketika melihat tubuh Fay yang samar dari kaca di hadapannya. Kini, kedua tangan itu berusaha membuka peignoir itu agar terlepas dari tubuh Fay.

__ADS_1


"Malam ini kamu terlihat sangat cantik, Fay," ucap Arvin setelah berhasil membuat peignoir itu jatuh di atas lantai. Ia kembali mengecup pundak kanan Fay beberapa kali sebelum berhenti di leher mulus itu.


Hanya mendapat perlakuan seperti itu, rasanya Fay ingin terbang jauh ke nirwana. Ia berusaha untuk tetap bertahan meski ada rasa aneh yang menjalar dalam tubuh. Apalagi setelah Arvin membalikkan tubuhnya, kini, ia sedang berhadapan dengan Arvin.


"Jangan menundukkan wajahmu. Tataplah aku," ucap Arvin seraya menegakkan dagu Fay dengan jari telunjuknya.


Kedua mata itu saling bersirobok. Arvin menatap dalam manik hitam itu untuk meyakinkan diri jika malam ini adalah waktu yang tepat untuk melakukan tugasnya sebagai seorang suami. Tangan itu pun mulai bergerak tanpa menunggu komando. Menyusuri rahang yang membingkai wajah cantik itu.


"Aku milikmu, Arvin." Fay bergumam lirih setelah merasakan kecupan mesra di keningnya. Ya, ia sudah yakin jika semua akan baik-baik saja.


"Terima kasih," ucap Arvin dengan suara seraknya sebelum mendaratkan bibirnya di bibir Fay yang sedikit terbuka.


Setelah cukup lama melakukan senam lidah di sana, pada akhirnya Arvin mengangkat tubuh Fay. Ia menurunkan tubuh tersebut di atas ranjang. Pemandangan yang memanjakan mata terpampang jelas di atas ranjang berseprei putih itu.


Arvin membungkukkan tubuh dan kembali melancarkan aksinya. Saat kedua bibir itu saling menyatu dan lidah saling bertautan, tangan pun tidak mau hanya diam saja. Tangan kanan Arvin mulai menjelajah setiap jengkal tubuh mulus tersebut. Satu persatu kain yang menutupi tubuh mulus itu pun akhirnya terjatuh di lantai.


"Jangan ditahan. Keluarkan saja suara manjamu, Sayang," ucap Arvin sebelum melanjutkan aksinya.


Suara lenguhan manja itu pun akhirnya terdengar di sana. Padahal Arvin masih bermain-main di atas bukit Teletubbies. Bermain bersama dua benda yang ada di kedua puncak bukit menantang itu.


"Setelah ini, kamu akan merasakan lebih dari ini. Bersiaplah, Fay. Keluarkan semuanya!" bisik Arvin sebelum menggigit daun telinga tersebut.

__ADS_1


Ya, hanya kurun beberapa detik saja, suara manja Fay kembali menggema di kamar tersebut. Lenguhan itu semakin terdengar kencang saat Arvin berada di antara kedua kakinya. Mungkin saat ini, Arvin sedang berkelana untuk mencari kacang almond yang tersembunyi di dalam gua.


Pada akhirnya, setelah puas bermain-main, waktu telah membawa sepasang suami istri itu sampai pada puncaknya. Arvin melepas handuk yang melilit di pinggangnya. Ia mengatur posisi agar pemilik tubuh molek di hadapannya itu merasa nyaman.


Mata indah itu tertutup rapat. Kedua tangannya pun mencengkram erat sprei putih itu, hingga kusut setelah Arvin berusaha menerobos masuk ke dalam lorong panjang penuh kenikmatan. Rasa sakit masih dirasakan oleh Fay, akan tetapi ia berusaha semaksimal mungkin untuk menahan air mata yang sudah berkumpul di pelupuk mata.


Usaha keras yang dilakukan oleh Arvin akhirnya membuahkan hasil. Malam ini pria tampan itu siap menunjukkan betapa kuatnya kekuasaan di atas medan perang sang istri. Arvin tersenyum tipis setelah melihat ekspresi wajah Fay yang berubah. Arvin tahu jika saat ini istrinya mulai menikmati setiap rasa yang didapatkan saat ini.


Dinginnya ruangan itu nyatanya tak bisa mengikis keringat yang mengalir deras dari kedua tubuh itu. Suara-suara manja terdengar di sana sebagai musik pengiring permainan yang tak kunjung usai itu. Entah, sudah berapa kali Fay mencapai puncaknya, yang pasti saat ini, ia mulai lelah karena kehilangan begitu banyak tenaga.


"Bersiaplah! Mari kita akhiri permainan ini, Sayang. Aku ingin mendengar suaramu yang manja di akhir permainan," ucap Arvin setelah memposisikan tubuh sang istri.


Napasnya mulai tersengal karena tidak tahan lagi dengan semua rasa yang sudah berkumpul dalam satu titik. Ia kembali masuk ke dalam lorong itu dan segera melakukan tugas akhirnya. Benar saja, Arvin berhasil membuat Fay kembali bangkit dan menembus nirwana untuk yang kesekian kalinya.


"Arvin!" Fay terpekik ketika merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah ia rasakan. Tangannya sampai mencengkram kedua lengan Arvin dengan kuat. Tidak perduli meski lengan itu terluka karena kuku panjang Fay.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka🌹...


...Aduh, othor ngos-ngosan nulis ini😆serasa dikejar penagih kreditan panci😆...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...

__ADS_1


__ADS_2