Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Rumah tangga bahagia,


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ....


Suara gelak tawa menggema di ruang keluarga. Beberapa kali Fay berteriak karena Arvin tak henti menggoda dirinya. Ya, seperti inilah hari-hari yang sudah dilewati sepasang suami istri itu. Mereka sering menghabiskan waktu di ruang keluarga untuk mengusir rasa sepi di rumah ini.


Satu bulan yang lalu, bu Linda dan pak Bram kembali ke Swiss untuk menuntaskan liburan yang sempat tertunda. Setelah melihat rumah tangga putranya berjalan lancar dan baik-baik saja, mereka akhirnya bisa menikmati liburan dengan tenang di kaki gunung Eiger. Sementara pasangan muda itu belum merencanakan liburan ke luar negeri. Kesibukan Arvin sebagai pemimpin baru perusahaan menjadi kendala mereka saat ini. Akan tetapi Fay tidak keberatan dengan semua itu. Ia memahami semua kesibukan suaminya meski terkadang harus merelakan waktu bersama.


"Rumah ini sepi ya, Vin," gumam Fay setelah Fay duduk di depan tubuh Arvin. Dekapan hangat menjalar di tubuhnya.


"Hmmm ... rumah sebesar ini rasanya sangat sepi jika papi dan mami pergi," ucap Arvin sebelum mengecup puncak rambut sang istri.


"Aku pengen punya anak yang banyak deh, Vin, biar kita gak kesepian. Coba bayangkan, kita duduk berdua di sini sambil melihat anak-anak kita bermain di sana," ucap Fay sambil menunjuk tempat luas yang ada di dekat rak televisi.


"Pasti seru ya, Fay." Arvin ikut tenggelam dalam bayang-bayang indah yang sudah dirancang oleh Fay, "memangnya kamu mau punya anak berapa? Lima cukup gak?" tanya Arvin dengan diiringi gelak tawa renyah.


"Ih! Ya gak begitu juga kali! Tiga sepertinya cukup deh, Vin. Kalau Lima yang ada nanti kamu dikalahkan mereka. Gak bisa mesra seperti ini!" ujar Fay saat menengadahkan kepala.


"Sembarangan! Gak ... gak bisa! Kamu itu hanya milikku, Fay! Aku gak mau berbagi dengan siapapun!" seloroh Arvin sambil menggigit telinga sang istri.


Fay tergelak setelah mendengar ucapan Arvin. Ia tidak bisa membayangkan jika sampai hal itu terjadi. Namun, gelak tawa itu segera berhenti ketika Fay teringat satu hal, "tapi, Vin. Kenapa sampai sekarang aku belum hamil ya? Padahal kita kan gak pernah menunda kehamilan ataupun parkir di luar?" Fay mengurai tubuhnya dan merubah posisi duduknya.


Ya, kurang beberapa bulan lagi pernikahan mereka memasuki usia satu tahun. Akan tetapi tanda-tanda kehamilan belum muncul dalam diri Fay. Padahal, hampir setiap malam mereka melakukan penanaman bibit unggul. Hari-hari bahagia yang sudah mereka lalui seakan menyihir keduanya hingga lupa jika buah cinta belum hadir di tengah-tengah rumah tangga.

__ADS_1


"Kamu tidak usah khawatir, Sayang. Mungkin, Tuhan menyuruh kita untuk bersenang-senang dulu. Kamu sendiri kan yang meminta agar kita pacaran dulu," ucap Arvin seraya menarik tubuh ramping itu kembali dalam dekapan hangatnya.


"Hmmm ... bisa aja deh kalau mau minta sesuatu!" ujar Fay setelah tahu maksud terselubung sang suami.


"Semakin hari sepertinya kamu semakin pintar, Fay," ucap Arvin seraya mengeratkan pelukannya.


Ya, kehidupan rumah tangga mereka berdua selama ini berjalan lancar tanpa ada gangguan dari Reno, Raka ataupun bu Lisa. Mereka menjalani hari-hari bahagia dengan cinta yang semakin hari semakin bertambah besar. Banyak perubahan yang terjadi dari hidup masing-masing.


Arvin hampir tidak pernah berkumpul di Club malam lagi, karena Fabi sedang keluar negeri untuk mengurus perusahaan ayahnya yang sedang mengalami masalah, sementara Toni sibuk membantu ibunya yang sedang mendirikan rumah sakit baru di Jakarta Pusat. Kalau untuk Raka sendiri, Arvin tidak mengetahui kabarnya. Ia jarang sekali menyapa pria tersebut meski hanya lewat chat.


Sementara untuk Fay sendiri, wanita bermata sipit itu mulai merubah sikapnya setelah cocok dengan kepribadian suaminya itu. Ia menjadi wanita yang ramah bagi mereka, penghuni rumah megah ini. Akan tetapi jika membaur bersama orang-orang yang tidak dikenalnya dengan baik, Fay tetaplah sama. Ia lebih banyak diam dan menyimak pembicaraan orang-orang di sekitarnya. Bisa dikatakan jika perubahan sikap itu hanya untuk orang-orang tertentu. Setidaknya, semua ini jauh lebih baik untuk kelangsungan rumah tangganya.


Bersikap terbuka kepada pasangan adalah pondasi untuk memperkuat rumah tangga. Ya, pernyataan ini sudah dibuktikan oleh Fay sendiri. Ia menyampaikan ketidaknyamanannya kepada Arvin agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Mereka berdua sama-sama belajar dari kesalahan di masa lalu.


"Mau di sini atau pindah ke kamar?" bisik Arvin dengan napas berat yang berhembus di telinga sang istri.


"Kalau di sini bisa ketahuan ART, Vin! CCTV juga," gumam Fay dengan suara yang lirih. Ia sedang menahan gejolak rasa yang mulai menerpa.


Arvin tak menghiraukan jawaban sang istri. Ia tetap melancarkan aksinya, bermain-main dengan dua 'squizi' yang menggemaskan. Leher mulus itu pun tak lepas dari serangannya hingga membuat tubuh Fay menggeliat.


"Pindah ke kamar aja ya," ucap Fay dengan suara yang lirih.

__ADS_1


Fay berusaha melepaskan diri dari dekapan sang suami. Ia segera pergi dari sana diikuti dengan Arvin di belakangnya. Setelah menapaki satu persatu anak tangga pada akhirnya mereka sampai di lantai dua. Arvin mendorong tubuh Fay hingga bersandar di dinding. Ia menghimpit tubuh tersebut dan mulai meraup bibir berwarna merah itu.


"Cukup!" ujar Fay setelah merasakan getaran-getaran dalam dirinya.


Mata teduh itu mulai terlihat sayu karena menahan hasrat yang berkobar dalam diri. Arvin mengangkat tubuh Fay dan menggendongnya menuju kamar tanpa melepaskan tautan bibir.


"Aaw!" pekik Fay setelah tubuhnya dihempaskan di atas ranjang. Ia tersenyum manis saat mengamati Arvin melepaskan pakaian di tubuhnya.


Meski hampir setiap hari melihat pemandangan itu, Fay tetap gugup ketika melihat Arvin tanpa sehelai benangpun. Apalagi setelah melihat tatapan mata nakal itu, Fay semakin salah tingkah dibuatnya.


"Sanca minta dimainin dulu, nih," bisik Arvin setelah mengukung tubuh Fay di atas ranjang.


"Seperti yang kemarin?" Fay mengernyitkan keningnya setelah mendengar permintaan itu.


Kamar bernuansa abu-abu itu kembali menjadi saksi betapa berkuasanya Arvin atas tubuh yang bergetar karena merasakan permainan yang sedang berlangsung. Usaha penanaman bibit unggul sedang berlangsung hingga larut malam. Peluh bercucuran karena ternyata dinginnya AC tidak bisa mengalahkan hawa panas yang terpancar dari tubuh keduanya. Suara-suara merdu wanita cantik itu terus menggema hingga di akhir permainan.


"Sekarang beristirahatlah. Akan ada season dua. Spesial untukmu," ucap Arvin setelah mencurahkan pupuk pada lahannya.


...🌹Terima kasih sudah membaca karya ini, Semoga suka♥️🌹...


...Kalau kurang panas, baca aja novel othor yang lain😂Jerat Cinta Jessica, bisa bikin kalian bergetar😀...

__ADS_1


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


__ADS_2