Tanpa Perpisahan

Tanpa Perpisahan
Bingung!?


__ADS_3

"Kemana istrimu?" tanya Fabi setelah sadar jika tidak menumukan keberadaan Fay di sisi sahabatnya.


"Ah, iya. Tadi dia pamit ke toilet, tapi sampai sekarang kok dia gak balik-balik," ucap Arvin seraya mengedarkan pandangan, "aku mau nyusul dia dulu," pamit Arvin kepada Fabi.


Rasa khawatir mulai menyapa hati dan pikiran Arvin, karena takut terjadi sesuatu dengan istrinya. Dia mempercepat langkah agar segera sampai di teras belakang. Dari jauh Arvin melihat sang istri bersembunyi di balik pilar megah yang ada di sana. Hal itu membuat Arvin sangat penasaran, apa kiranya yang menarik perhatian sang istri.


"Fay!" ucap Arvin saat menepuk bahu sang istri.


Fayre terkesiap setelah merasakan ada telapak tangan seseorang di bahunya. Jantungnya seakan berhenti berdetak karena hal itu. Segera dia membalikkan tubuh, "Arvin!" ujarnya ketika melihat wajah tampan sang suami ada di balik tubuhnya.


"Kenapa di sini?" tanya Arvin seraya menatap lekat manik hitam sang istri.


Bungkam, itulah yang terjadi saat ini. Fayre tidak bisa menjelaskan apa tujuannya bersembunyi di balik pilar tersebut, karena dia sendiri belum sempat mendengar pembicaraan tante Winda dan Raka. Fayre hanya bisa melihat ekspresi wajah keduanya yang terlihat serius.


"Ayo kita ke depan!" ucap Arvin setelah mengedarkan pandangan di sekitar kolam renang dan tidak menemukan siapapun.


"Tunggu! Aku melihat Raโ€”" Fay menghentikan ucapannya saat membalikkan tubuh. Dia tidak menemukan siapapun di sana. Hal itu semakin membuatnya semakin bingung.


"Tidak ada siapapun, Fay," ucap Arvin seraya tersenyum simpul, "ayo! Lebih baik kita menemui Fabi di depan," ucap Arvin seraya meraih tangan Fayre untuk digenggamnya.


Fayre seperti seseorang yang sedang kebingungan setelah tidak menemukan siapapun di sana. Apalagi, setelah melihat tante Winda di ruang keluarga menemui para tamu yang sudah duduk di sana. Sungguh, kepala Fayre terasa berdenyut menghadapi situasi ini.


"Gak ... gak mungkin! Tadi aku melihat tante Winda di belakang bersama Raka, tapi kenapa sekarang dia ada di sini! Ini pasti ada yang tidak beres!" Fay hanya bisa membatin ketika melihat tante Winda tersenyum manis saat bergabung bersama tamu yang lain.


Arvin mengernyitkan keningnya ketika melihat sikap sang istri yang berubah menjadi aneh. Ada yang janggal setelah Arvin mengamati ekspresi wajah Fayre yang nampak bingung. Arvin mendekat ke tempat Fayre berada saat ini.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Arvin setelah berdiri di hadapan Fayre.


"Hah?" Fay tertegun setelah mendengar pertanyaan dari Arvin, "tidak ada apa-apa." Fay menggeleng pelan seraya menatap Arvin.


"Kamu yakin tidak menyembunyikan apapun dariku?" Arvin meyakinkan jawaban Fayre.


"Ya." Hanya itu saja yang menjadi jawaban Fayre saat ini.


Kehadiran Raka yang baru saja muncul dari arah teras belakang membuat Fayre kembali berpikir. Dia hanya bisa mengamati apa saja yang dilakukan pria tersebut. Dia tidak mau jika Raka melakukan sesuatu kepada Arvin ataupun dirinya. Fayre hanya bisa menatap sinis saat Raka bersalaman dengannya dan juga Arvin. Ini adalah pertama kalinya, Raka berani muncul di hadapan Arvin setelah insiden di Bali kala itu.


"Kenapa dia sok akrab gitu? Berani sekali dia tersenyum di hadapanku dan Arvin!" gerutu Fayre dalam hati saat mengamati gerak-gerik Raka.


Tidak lama setelah itu, acara makan malam pun akhirnya dimulai. Fayre mencari tempat duduk yang tepat agar bisa mengamati gerak gerik Raka dan tante Winda. Dia belum bisa percaya dengan kenyataan yang ada, jika apa yang dilihatnya tadi adalah salah.


"Sebenarnya mereka berdua ini ada hubungan apa?" batin Fayre saat dirinya menangkap basah Raka sedang mengerlingkan mata saat beradu pandang dengan tante Winda, "apakah mereka main gila di belakang ayahnya Toni? Masa iya sih, sekelas tante Winda doyan berondong?" gumam Fayre dalam hatinya.


"Fay! Kamu baik-baik saja?" bisik Arvin hingga membuat Fay terkesiap.


"Hmmm ... aku baik-baik saja, Vin," ucap Fay tanpa menatap ke samping.


"Kalau begitu jangan melamun, cepat habiskan makananmu," bisik Arvin lagi.


Ya, Fayre baru sadar jika makanan yang ada di piringnya masih utuh. Pada akhirnya, Fayre pun fokus pada piring yang masih penuh itu. Masa bodoh dengan masalah Raka dan tante Winda. Namun, bukan berarti Fayre acuh dengan kejanggalan yang terjadi saat ini.


Detik demi detik telah berlalu begitu saja. Setelah makan malam bersama, mereka semua berpindah tempat untuk menikmati jamuan yang sudah disiapkan oleh tuan rumah. Arvin dan ketiga temannya pun berkumpul di teras depan dan Fayre pun ada di sana untuk menemani Arvin. Seperti biasa, dia lebih banyak diam dan hanya sesekali tersenyum saat mendengar celotehan teman-teman suaminya.

__ADS_1


Tepat pukul sepuluh malam, Arvin dan Fayre pamit undur diri. Sebelum pergi mereka berpamitan kepada tante Winda dan suaminya. Obrolan ringan terjadi di antara mereka sebelum benar-benar pergi.


"Sekali lagi Tante ucapkan terima kasih karena kalian sudah berkenan hadir. Jangan lupa minggu depan kontrol lagi, oke!" ucap tante Winda sambil mengusap rahang Fay dengan lembut.


"Baik, Tan," ucap Arvin setelah mendengar penuturan tante Winda, "kami permisi dulu." Sekali lagi pamit kepada tante Winda.


Singkat cerita, kini mobil yang dikendarai Arvin telah meninggalkan kediaman tante Winda. Pria tampan itu pun mulai mengarahkan setir mobilnya ke arah rumahnya. Selama dalam perjalanan Fayre hanya diam saja. Raut wajahnya terlihat tegang dan serius. Kalau sudah begini, yang Arvin tahu, istrinya itu sedang memikirkan sesuatu.


"Fay," ucap Arvin seraya menoleh ke samping untuk sesaat.


"Hmmm ... kenapa?" Fay bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Pertanyaaan Arvin berhasil membuat Fay mengalihkan pandangan ke samping. Bahkan, dia sampai mengubah posisi duduknya.


"Apa sebaiknya kita pindah rumah sakit saja. Kita program hamil ke rumah sakit lain gitu." Ide yang tercetus dari bibir berwarna merah itu berhasil membuat Arvin mengarahkan setir mobil hingga mobil tersebut menepi di depan salah satu ruko kosong.


"Kenapa? Apa yang membuatmu ragu?" Arvin semakin bingung menghadapi perubahan sikap sang istri.


"Ya. Aku tidak yakin saja jika program dari dokter Winda berhasil," ucap Fay tanpa alasan yang jelas.


Tidak. Mungkin itulah jawaban yang akan dikatakan Arvin setelah ini. Dia tidak akan mungkin pindah dokter setelah mengetahui kebenaran jika dirinya yang bermasalah. Rahasia akan kesuburannya tidak akan mungkin diungkap oleh orang lain, karena dia belum siap. Ya, Arvin belum siap melihat ekspresi wajah yang ada di hadapannya itu, saat mengetahui jika dirinya sulit untuk memiliki keturunan.


"Kita tidak akan pindah dokter, Fay. Aku tidak enak hati dengan Toni dan tante Winda. Aku harap kamu lebih bersabar lagi," ucap Arvin dengan tegas, "kamu pasti hamil, Sayang, meski aku sendiri tidak tahu kapan semua itu akan terjadi." Kali ini suara Arvin terdengar bergetar, seakan dia sedang menahan gejolak yang begitu besar di dalam dada.


...๐ŸŒนTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ๐Ÿ˜๐ŸŒน...

__ADS_1


...๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท๐ŸŒท...


__ADS_2