
"Fay!"
"Istriku sayang!"
"Aku menginginkanmu!"
Arvin sampai di rumah tepat pukul dua belas malam. Ia diantar oleh Fabi karena tidak sanggup mengendarai mobilnya sendiri. Pria tampan itu menghabiskan banyak alkohol untuk melampiaskan rasa kecewa dalam diri. Arvin sempoyongan saat berjalan menuju kamarnya.
"Fay!" teriak Arvin sebelum masuk ke dalam kamarnya.
Senyum smirk mengembang dari kedua sudut bibirnya setelah melihat wanita yang sedang tertidur pulas itu. Setelah menutup pintu kamar, Arvin berjalan menuju ranjang. Ia berhenti di sisi ranjang tersebut tanpa melepaskan pandangan dari wajah cantik sang istri.
"Fay! Malam ini kamu menjadi milikku!" ujar Arvin seraya melepas jaket denimnya. Kaos polo itu pun telah lolos dari tubuhnya.
Arvin membungkukkan tubuh agar bisa menikmati bibir kenyal sang istri. Entah mengapa, di mata Arvin saat ini, Fay terlihat begitu menggoda. Tangannya terulur untuk membelai wajah mulus itu beberapa kali. Apa yang dilakukan Arvin saat ini berhasil membuat Fay membuka kelopak matanya. Ia terkejut bukan main setelah melihat kondisi Arvin saat ini.
"Arvin! Apa-apaan ini! Jangan mengingkari janjimu sendiri!" teriak Fay seraya berusaha bangun dari tempatnya saat ini.
Akan tetapi usaha Fay telah digagalkan oleh Arvin. Ia kembali terhempas di atas ranjang karena dorongan kuat suaminya itu. Tubuh yang terbalut piyama itu pun semakin bergetar, karena Arvin mulai membuka ikat pinggangnya.
"Malam ini aku akan memberikan kewajibanku! Nafkah batin untukmu, Sayang!" ujar Arvin sambil menurunkan celana jeansnya.
"Arvin kamu sedang mabok! Sadar, Vin!" Fay berusaha bangkit dari tempatnya agar bisa menghindar dari Arvin.
Namun, tenaganya kalah dengan suaminya itu. Sekuat apapun Fay melawan, pada akhirnya ia kembali terhempas di atas ranjang. Sepertinya Arvin benar-benar kehilangan kesadaran.
__ADS_1
"Aku tidak mau menunggu lagi! Aku juga ingin merasakannya, Fay! Jangan harap kamu lolos malam ini! Jika pria lain bisa menyentuhmu, kenapa aku tidak!" rancau Arvin seraya tersenyum smirk.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Arvin. Tamparan atas semua tuduhan tidak benar yang sudah dilayangkan Arvin untuk Fay. Kilat amarah terlihat jelas dari sorot mata wanita cantik itu setelah mendengar semua ucapan Arvin.
"Jaga ucapanmu, Arvin!" ujar Fay dengan suara yang lantang.
"Kamu berani menamparku, Fay!" Arvin semakin geram karena hal itu, ia menarik tangan Fay ke atas agar tangan tersebut terkunci dan tidak bisa memberontak, "aku tidak akan mengampunimu, Fay!" teriak Arvin dengan mata yang terbelalak sempurna.
Pengaruh alkohol dan kobaran amarah yang ada dalam diri, membuat pikiran Arvin menjadi kacau. Ia tidak bisa berpikir jernih lagi. Semua janji dam kesepakan bersama Fay telah dilanggar malam ini. Arvin melepas dengan kasar piyama yang dipakai oleh Fay. Ia tak perduli lagi meski Fay sudah memohon dengan tangis yang terdengar pilu.
Malam ini, Arvin benar-benar tidak terkendali. Ia melaksanakan hubungan itu dengan kasar dan tanpa ada rasa yang menjadi selimutnya. Ia terus berusaha mendapatkan sinyal dari sarang yang akan ditempati sanca miliknya. Tangisan pilu terdengar menyayat hati. Fay terluka atas semua yang terjadi saat ini.
Rasa sakit lahir dan batin telah dirasakan oleh Fay saat ini. Harga dirinya rasanya runtuh seketika karena mendapat pelecehan dari suaminya sendiri. Sepanjang permainan itu, Fay terus menangis dengan tubuh yang bergetar hebat. Ia hampir pingsan karena merasakan semua rasa yang membaur menjadi satu. Sungguh, Fay semakin hancur atas semua yang terjadi saat ini.
Tubuh mulus tanpa sehelai benangpun itu bergetar hebat setelah semuanya berakhir. Fay meringkuk dengan posisi membelakangi Arvin. Air mata semakin menganak sungai karena peristiwa menyakitkan yang baru saja dialaminya itu.
Setelah lelah menangis dan tenaganya kembali pulih, Fay turun dari ranjang. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tidak perduli meski rasa sakit begitu terasa di sekujur tubuhnya. Fay kembali menangis di bawah guyuran shower yang mengalir deras. Meratapi semua yang baru saja terjadi padanya.
"Aku tidak terima dengan semua ini, Arvin! Kamu sudah melanggar semua janjimu! Aku bukan wanita malam! Aku tidak pernah melakukan apapun dengan pria lain! Dasar suami gila! Tidak bisa dipercaya!" Fay terus mengumpat di dalam kamar mandi dan tentunya dengan diiringi air mata.
Cukup lama Fay berada di dalam kamar mandi, ia bergegas keluar setelah sebuah ide muncul di kepalanya. Buru-buru ia masuk ke dalam walk in closet dan mengambil koper kecil yang ada di dalam almari. Beberapa pakaian dan keperluannya telah masuk di dalam koper tersebut. Fay segera memakai pakaian dan bersiap pergi.
Rasa sakit akibat luka yang begitu dalam membuat Fay bertekad pergi dari rumah ini. Ia butuh sendiri untuk merenungi jalan pernikahan yang sedang terhalang duri. Fay keluar dari kamarnya tanpa diketahui Arvin, karena suaminya itu sudah terlelap dalam tidurnya.
__ADS_1
Fay mempercepat langkahnya agar tidak ketahuan oleh siapapun. Ia lewat pintu samping yang menjadi penghubung ke garasi. Ia membawa salah satu mobil yang biasa dipakai bu Linda saat pergi bersamanya.
"Nyonya muda mau kemana?" Petugas keamanan memberhentikan mobil Fay saat berada di depan pos penjagaan.
"Saya mau mencari apotek, Pak! Saya butuh obat! Suami saya sakit!" Fay beralasan agar pria tersebut tidak curiga jika dirinya kabur dari rumah megah ini.
"Biar saya saja yang membelikan, Nyonya. Ini sudah menjelang pagi, sangat berbahaya untuk Nyonya jika keluar sendiri," sergah pria tersebut.
"Tolong bukakan pintunya! Ini keadaan darurat, Pak!" ujar Fay sebelum menutup kaca mobil di sisinya.
Fay menghela napasnya karena merasa lega. Petugas keamanan itu pun membukakan gerbang untuknya. Fay segera menginjak pedal gas dan mengarahkan setir mobil keluar dari halaman luas rumah megah tersebut.
"Aku harus kemana?" gumam Fay setelah mobilnya melaju di jalanan yang sepi itu.
Dalam kesunyian yang terasa di dalam mobil itu pun, Fay dipaksa untuk berpikir keras. Bersembunyi di sekitar Jakarta sepertinya bukan pilihan yang tepat. Mobil itu pun terus melaju, memasuki jalan tol menuju arah bandara.
"Sepertinya aku harus pergi ke Jawa Timur!" gumam Fay setelah menemukan tempat yang cocok untuknya menyembunyikan diri.
Setelah yakin dengan idenya itu, Fay mempercepat laju kendaraannya. Beberapa puluh menit berada di jalan yang sepi, akhirnya Fay sampai di bandara. Ia memarkirkan mobil tersebut di tempat semestinya. Akan tetapi, Fay tak segera keluar, ia kembali termenung seraya menatap mobil berjajar rapi di deretan depan.
"Tidak! Aku tidak boleh naik pesawat," gumam Fay seraya menggeleng pelan. Ia segera keluar dari mobil dan tak lupa mengeluarkan kopernya sebelum pergi ke halte taksi berada.
...🌹Selamat Membaca🌹...
...Btw, othor baru aja bikin GC nih 😀 Kuy masuk biar kenal sama othor🤭...
__ADS_1
...🌷🌷🌷🌷🌷...