
Getaran-getaran di dalam tubuh mulai memberontak kala tubuh yang terbalut handuk mini itu melewatinya begitu saja. Arvin hanya bisa menelan ludah ketika membayangkan betapa indahnya pemandangan itu apabila handuk putih itu terlepas.
"Semua masalah sudah selesai. Malam ini aku harus bisa mendapatkan Fayre!" gumam Arvin dalam hati.
Gejolak yang ada dalam diri semakin besar tatkala tubuh itu sedikit membungkuk. Dua gundukan yang ada di bagaian belakang seperti menantang untuk disentuh. Arvin benar-benar tidak tahan lagi dengan semua ini. Dia berjalan menghampiri Fayre dan segera meletakkan kedua tangannya di pinggang itu. Aroma vanila musk yang tercium dari aroma tubuh itu pun semakin membuat Arvin tidak tahan untuk segera mencicipinya.
"Yess! Berhasil!" seru Fayre dalam hati ketika merasakan kedua tangan Arvin berada di pinggangnya.
Senyum penuh kemenangan terbit dari bibir wanita cantik itu. Tanpa meminta dia akan mendapatkan kenikmatan, dengan begitu gengsinya pun akan tetap terjaga.
"Lepaskan tanganmu, Vin!" Fayre pura-pura memberontak hingga handuk putih itu terlepas dari tubuhnya. Fayre sengaja melakukan semua ini agar Arvin semakin terperangkap ke dalam umpannya.
Arvin semakin mendekap tubuh polos yang menggoda itu dari belakang. Rengkuhan tangannya semakin erat saat Fayre terus menggerakkan tubuhnya hingga dia merasakan ada sesuatu yang ingin memberontak keluar dari sarang.
"Sayang. Please!" Arvin memohon kepada Fayre agar bersedia menuntaskan hasratnya saat ini juga.
"Aku ingin kita menjadi suami istri yang sesungguhnya seperti dulu. Semua masalah sudah selesai dan sekarang sudah saatnya hukuman darimu berakhir," bujuk Arvin dengan suara yang terdengar sangat berat.
Fayre hanya bisa tersenyum tipis setelah mendengar permohonan itu. Bisa dipastikan jika sebentar lagi apa yang diinginkannya terwujud. Fayre pun mulai terhanyut dalam permainan sang suami. Dia terbuai ketika Arvin melayangkan rayuan dengan tangan yang tak henti menjelajah setiap lekuk tubuhnya.
Tatapan mata wanita bermata sipit itu semakin sayu saat merasakan gelombang besar yang sudah siap menghantam tubuhnya. Apalagi jari tangan sang suami sudah bersarang di lahan kacang almond dan bergerak lincah di sana. Suara lenguhan pun tak dapat dihindari lagi. Setelah sekian lama, akhirnya suara lenguhan manja itu terdengar di indera pendengaran Arvin.
"Membungkuklah, Sayang," bisik Arvin sebelum mengurai tubuh sang istri.
__ADS_1
Pria tampan itu begitu cekatan saat melepas dua helai pakaian santai yang menutupi tubuhnya. Tanpa banyak pemanasan dan berpindah tempat, Arvin pun melakukannya di sana. Rambut berantakan dan basah sang istri dibiarkan begitu saja saat permainan itu berlangsung.
Sesekali Fayre menoleh ke belakang dengan menampilkan ekspresi wajah tak karuan kepada Arvin. Kedua tangannya mencengkram erat rak almari untuk menjaga pertahannya. Sementara satu kakinya harus terangkat saat Arvin melakukan tugasnya saat ini. Pertahanan pria tampan itu tidak membutuhkan waktu yang lama. Semua rasa sudah berkumpul menjadi satu dan siap untuk dituntaskan. Sementara Fayre semakin merancau tak jelas karena memiliki rasa yang sama dengan sang suami.
"Arvin!" Fayre terpekik di akhir permainan panas itu. Kakinya gemetar karena menahan keseimbangan tubuh yang dihantam rasa nikmat itu.
"Terima kasih, Sayang," ucap Arvin setelah menyelesaikan tugasnya. Wajahnya terlihat sumringah setelah menuntaskan hasrat yang sempat terpendam beberapa hari lamanya.
Arvin berjalan menuju meja rias untuk mengambil tissu di sana, lantas dia segera kembali ke tempat Fayre berada saat ini, "hadap sini!" titah Arvin setelah berjongkok di balik tubuh Fayre.
Dengan segera wanita yang sudah kehilangan beberapa energi tubuhnya melakukan perintah sang suami. Dia berdiri di hadapan Arvin sambil menyandarkan tubuhnya di pintu almari. Senyum tipis terbit dari bibir tanpa polesan lipstik itu ketika melihat apa yang dilakukan Arvin saat ini.
"Renggangkan kakimu, Sayang," ucap Arvin setelah mengambil beberapa lembar tissu.
Pria tampan itu segera melakukan tugasnya. Dia membersihkan sisa-sisa 'bisa' sanca di sana. Tangannya bergerak lincah hingga kulit mulus itu bersih dari sisa 'bisa' sanca.
Perhatian kecil inilah yang membuat Fayre tidak bisa berpaling dari Arvin. Meski pria itu terkadang ceroboh, bodoh dan melukai hatinya, akan tetapi masih banyak kebaikan yang dilakukan oleh Arvin hingga mampu mengikis semua rasa sakit itu. Fayre tersenyum tipis ketika melihat Arvin sibuk menyiapkan hair dryer di meja rias.
"Ayo, Sayang! Kamu bisa masuk angin nanti," ucap Arvin sambil menatap Fayre yang masih termangu di tempatnya.
Dengan segera wanita yang terlihat berantakan itu datang menghampiri sang suami. Fayre duduk di kursi yang ada di hadapan Arvin sambil tersenyum tipis. Dia tak mengalihkan pandangan dari cermin yang ada di hadapannya itu. Wajah serius yang terlihat dari pantulan cermin di hadapannya berhasil membuatnya terpana.
"Apa kamu tidak bosan dengan warna rambut ini, Fay?" tanya Arvin tanpa mengalihkan pandangannya dari rambut hitam Fayre.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" Fayre malah bertanya balik.
"Sesekali cobalah gaya rambut dan warna yang berbeda," ucap Arvin dengan suara yang lirih.
"Ya, aku akan pergi ke salon besok," ucap Fayre tanpa berpikir panjang.
"Biar aku yang mengantarmu." Arvin tersenyum tipis sambil menatap wajah cantik dari pantulan cermin.
Hanya sebuah senyuman yang menjadi jawaban Fayre saat ini. Sekali lagi dia merasa bahagia karena hal sekecil ini. Sikap manis pria tampan yang sibuk dengan hair dryer itu semakin membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
"Tunggu di sini! Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu," ucap Arvin setelah rambut Fayre kering.
Arvin segera berlalu menuju almari milik Fayre. Dia mencari pakaian yang menjadi favoritnya di setiap malam. Sudah lama dia tidak melihat Fayre memakai pakaian terbuka di saat malam dan sekarang Arvin ingin melihat keindahan itu.
"Pakai ini saja," ucap Arvin sambil menyerahkan pakaian sexy berwarna hitam. Tentu pakaian itu akan terlihat kontras di tubuh putih itu.
Tentu saja dengan senang hati Fayre menerima pakaian pilihan sang suami. Sesekali dia menatap Arvin dengan sorot mata yang terlihat genit. Tentu Fayre tahu setelah ini pasti akan ada peperangan panas yang terjadi di atas ranjangnya hingga menjelang pagi.
"Jangan lupa pakai make-up yang cantik. Aku tunggu di kamar," ucap Arvin sebelum mendaratkan kecupan mesra di puncak rambut sang istri.
Fayre hanya mengerlingkan mata sebagai jawaban atas permintaan kecil dari Arvin. Tentu dengan senang hati Fayre akan memberikan pelayanan terbaik karena dia pun memiliki hasrat yang sama dengan sang suami.
"Malam ini aku memutuskan damai dengan pria bodoh itu. Aku harap setelah ini tidak ada masalah yang datang menghampiri." Fayre bergumam sambil menyisir rambutnya.
__ADS_1
...πΉTerima kasih sudah membaca karya ini, semoga suka ππΉ...
...π·π·π·π·π·...